Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 182 Kedatangan Hani


__ADS_3

Semua pada menunggu bidadari tak bersayap milik Brian. Bram dan Hanum sedari tadi telah menunggu di bagian ruang tunggu untuk kedatangan dari pesawat komersil tersebut.


Terlebih putri kecilnya yang kangen dengan Auntinya, tak sabar ingin bercengkerama seperti biasa sebelum terjadi tragedi kecelakaan tersebut.


Ninapun demikian rasa rindu pada kedua orangtuanya dan pada saudari perempuannya terlihat jelas diwajah gadis muda tersebut.


"Bunda... itu Aunti Hani," ucap putri kecilnya seraya menunjuk dengan jari mungilnya.


"Oh ya... Benar," sahut Hanum dengan senyum mengembang melihat kehadiran adik tengahnya telah dapat berjalan dengan menggunakan sebuah tongkat disalah satu tangannya.


Bram memberikan isyarat kepada sahabatnya untuk mendekati posisi mereka yang sedang berdiri menanti kedatangan mereka.


Pak Kus mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, sekitar 35 menit mereka sampai dikediaman Hanum.


Asisten rumah tangga telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk tamu yang ditunggu kehadiranya sejak sepekan yang lalu.


Begitu juga keluarga Bram telah hadir dikediaman Hanum terlebih dahulu, menyambut besan dan Brian yng telah dianggap sebagai anak sendiri.


"Nyah... Tuan muda sudah datang," ucap Bik Wati.

__ADS_1


"Baiklah aku akan segera turun, "jawab mama Bram.


***


Malam ini sebuah kebahagian terpancar disetiap wajah yang ada diruang makan tersebut.


Ayah, Ibu dan juga Nina tak hentinya memandang wajah Hani yang terlihat lebih segar dan sehat dari keadaanya sebelum pergi keluar negeri.


Tak terkecuali Brian yang selalu berada disamping istrinya. Brian terlihat lebih kurus dari sebelum keberangkatannya, lantaran lebih fokus menjaga kesehatan dan perkembangan dari perawatan yang dijalankan istrinya.


"Han...Apa rencana mu setelah ini?" Tanya Hanum.


Hani tersenyum seraya memandang Brian yang berada disampingnya.


"Cieee, Honey Moon yang tertunda," ledek Nina seraya tertawa kecil.


Semua orang jadi tersenyum mendengar celotehan adik bungsu Hanum tersebut.


"Baiklah...itu memang ide yang bagus," balas Hanum.

__ADS_1


"Kau pandai Yaaaa...," lanjut Bram dengan mata menggoda Brian.


Bram teringat akan bulan madunya bersama Hanum. Brian memang pandai soal tersebut. Berkat Brian, Bram dapat menghilangkan trauma yang terjadi pada istrinya.


"Bagiamana kalau kita liburan bersama," ucap Bram seraya melirik ke Hanum dengan mata genitnya.


"Biarkan mereka sayang..." Ucap Hanum berusaha menutupi rona merah dipipinya.


Suasana kekeluargaan tergambar jelas malam ini, tak pernah dibayangkan oleh ayah kedua putrinya mendapatkan lelaki yang sangat bertanggung jawab dan sangat mencintai kedua putrinya.


Ibu mengetahui bahwa ada bulir bening menetes diujung mata suaminya. Rasa haru akan kebahagian yang diberikan oleh Tuhan atas keluarganya. Terasa sebuah mimpi baginya, setelah melewati begitu banyak cobaan yang menerpa kedua putrinya.


Dengan mengengam erat tangan suaminya, ibu berusaha meyakinkan ayah bahwa ini memang benar terjadi, bahwa kedua putrinya memang sedang mendapatkan kebahagian tersebut.


"Oma, Nenek...Fay mau inginkan adik, "celetuk putri kecilnya secara tiba - tiba.


Mama Bram mendekati cucu tersayangnya seraya mencium pipi merahnya.


"Kenapa tiba - tiba Fay inginkan adik sayang?" dengan tersenyum dan rasa penasaran mama Bram bertanya.

__ADS_1


"Teman Fay punya adik, jadi tak sendirian. Ntar Aunti Nina akan Ikut nenek pulang, jadi Fay sendiri lagi deh," seru polos putri Hanum dengan raut wajah sedih.


Hanum dan Bram saling berpandangan satu sama lain. Ada rasa sedih direlung hati mereka berdua. Jika tidak terjadi penyekapan pada Laura, yang menyebabkan harus keguguran. Maka Hanum telah hamil anak kedua, buah cintanya dengan Bram yang terhitung empat bulan pada saat ini.


__ADS_2