
Angka dijarum jam tangan Hani menunjukkan kearah angka 4 subuh, hampir dua hari tiga malam Hanum masih berjuang mengikuti setiap proses dalam persalinan. Tidak tidur dan makan teratur, hanya cairan yang masuk kedalam tubuhnya.
Menahan rasa sakit untuk melewati semua proses sempurnanya pembukaan jalan lahir. Tak ada satupun kalimat kotor terucap dibibirnya, dirinya hanya berusaha beristiqfar memohon kekuatan agar mampu menjalani setiap proses yang ada dengan bersabar.
Bram semakin bangga memiliki istri seperti Hanum. Tak keluar sedikitpun sumpah serapah dari mulutnya.
Yang ada hanya kata maaf dan pujian terhadap Sang Pencipta. Telah dua hari tiga malam berjuang, kini tubuh Hanum merasa lemah. Tenaganya semakin hari semakin terkuras, karena asupan makanan yang kurang dan waktu tidur yang tak ada sama sekali.
"Tuan...Jika dalam beberapa jam ini, istri Tuan masih seperti ini, maka mau ga mu harus dilakukan operasi untuk menyelamatkan bayi beserta ibunya," ujar dokter yang mengecek kondisi Hanum terakhir.
Bram semakin cemas dan wajahnya pucat pasi setelah mendengar perkataan dari dokter tersebut.
"Sayang... Aku ingin kekamar mandi," ujar Hanum secara tiba - tiba.
Bram terkejut, lamunannya seketika buyar setelah mendengar suara istrinya. Dengan perlakuan lembut Bram memapah tubuh istrinya menuju kamar mandi.
"Baiklah..." Balas singkat Bram dengan tersenyum.
Dengan penuh kesabaran Bram bisa menjadi sosok suami yang siaga dan tak sedetikpun beranjak dari sisi Hanum. Bram sampai ikut merasakan tak tidur selama istrinya masuk kerumah sakit tersebut.
Dengan hati - hati dan perlahan Hanum melangkahkan kaki memasuki kedalam kamar mandi dengan didampingin Bram disamping tubuh lemah Hanum.
"Tak terasa apa - apa," ujar Hanum yang merasakan kebelet buang air tapi setelah dikamar mandi malah hilang rasa tersebut.
Tiba - tiba terdengar air yang mengalir dari pangkal paha Hanum.
"Aku buang air kecil, dilantai!" Ucapnya tanpa dirasakan oleh Hanum sendiri air yang mengalir deras tersebut.
Petugas kesehatan melihat Hanum seperti itu dengan sigap ia mendatangi Hanum. Bram bingung sebenarnya istrinya ini buang air kecil ini sengaja, atau diluar kesadaranya karena Hanum baru saja keluar dari kamar mandi
"Sayang...Kaki ku tak kuat menopang tubuhku, " ucap Hanum dengan sedikit berteriak.
Bram merasakan tubuh Hanum yang terkulai setelah dirinya berbicara. Dengan cepat Bram menyambut tubuh Hanum sehingga tak terjatuh dilantai.
"Cepat angkat nyonya keatas tempat tidur Tuan, itu air ketuban ya sudah pecah, " ujar petugas kesehatan tersebut.
Bram tak mengerti air apa yang dijelaskan oleh petugas kesehatan tersebut. yang hanya dilihatnya wajah petugas itu serius dan dengan keahliannya mereka segera menolong Hanum.
Satu orang masih membantu Hanum dan satu petugas lainnya memanggil dokter yang membantu Hanum bersalin.
__ADS_1
Tak menunggu waktu lama, dokter tiba dengan cepat. Dokter memeriksa keadaan Hanum untuk kondisi terakhir.
"Siapkan alat, ini sudah sempurna," ujar dokter memberi perintah pada petugas kesehatan tersebut.
"Angkat kakinya," ujar dokter pada Hanum.
Hanum berusaha menggerakkan kakinya namun apalah daya kakinya tak mampu digerakkan lagi.
"Kakiku ga bisa digerakkan," ujar Hanum dengan lemah dan lirih.
Dokter meminta asistennya untuk memberikan suntikan pada kedua paha kaki Hanum. Pertama paha bagian kanan dua kali suntikan dan bagian paha kedua adalah satu suntikan menembus paha kiri Hanum.
Setelah diberikan suntikan tersebut, Hanum dapat mengangkat kedua kakinya kembali. Dokterpun tersenyum melihat pasienya dapat menggerakkan kembali kedua kakinya.
"Tuan bantu dorong dari atas setelah saya hitung sampai tiga," ujar dokter pada Bram.
Bram meneteskan air mata melihat begitu besar perjuangan Hanum melahirkan buah hatinya. Disisi kiri dan kanan asisten dokter tersebut sedang diatas adalah dirinya dan dokter tersebut siap menyambut bayinya dari bagian bawah.
Bram membisikan ketelinga Hanum dengan lembut.
"Sayang.... Ayooo yang kuat itu sebentar lagi, bayinya sudah kelihatan," ungkap Bram.
Mendengar perkataan suaminya, Hanum yang merasakan rasa sakit kembali seperti mengeluarkan sesuatu dari bagian bawah area sensitifnya. Mencoba untuk didorongnya sekuat tenaga dan akhirnya terasa sesuatu yang keluar dari bagian bawah area sensitifnya, yaitu tubuh seorang bayi mungil.
Bram berkata: " Selamat sayang bayi kita sudah lahir. "
Dengan tersenyum Bram mencium Hanum beberapa kali rasa bahagia yang tak dapat dikendalikanya. Kebahagian itu menyeruak dari dalam dirinya.
Tak berapa lama terdengar suara teriakan dari buah hatinya. Hanum mendengar suara kecil bayinya terasa haru dan bahagia.
"Selamat Tuan, bayinya laki - laki," ujar dokter yang membantu persalinan Hanum dengan tersenyum.
Salah satu asisten tersebut memberikan bayi yang masih merah kepada Hanum dengan cara meletakkan bayi tersebut diatas dadanya.
Hanum mencium bayinya dan begitu juga Bram yang tak lepas senyum diparasnya yang tampan. Dirinya tak menyangka mampu melewati masa persalinan istrinya.
"Sayang..." ujar Bram menyentuh lembut pipi bayinya yang merah.
Bayi tersebut diletakkan diantara dada Hanum agar merasakan suhu tubuh dan dekapan ibunya.
__ADS_1
Dokter melakukan proses terakhir dan sebuah alat kembali masuk kedalam area sensitifnya. Tak dirasakanya lagi rasa sakit yang mendera ditubuh Hanum karena telah merasakan dekapan bayinya.
Petugas kesehatan tersebut mengambil bayi Hanum dan membersihkan tubuh bayi tersebut. Kemudian memasangkan pakaian lalu membedongnya agar tetap hangat.
Meminta Bram untuk segera mengazankan bayinya. Sebelum dipindahkan keruang bayi Khusus untuk disterilkan sementara waktu.
Bram tersenyum menatap wajah bayi yang digendongnya. Mencium dahinya, dengan suara gemetar Bram mulai mengumandangkan azan tepat ditelinga bayinya.
Setelah semua beres Hanum dipindahkan keruang inap khusus yang telah dipesan Bram. Seluruh keluarga telah ada disana dan menyambut dengan gembira kedatangan Hanum.
Semua mata tertuju padanya dengan senyum diwajah menghiasi setiap orang yang ada diruang tersebut.
"Selamat putriku," ujar ibu seraya mencium dahi Hanum.
Tak berbeda dengan mama Bram yang tak sabar memberikan kata selamat pada menantunya itu.
"Apa jenis kelaminnya," ujar papa Bram yang tak kalah antusias dan rasa penasarannya.
"Selamat Pa... Seperti yang papa inginkan, " ujar Bram dengan bangga memberitahukan papanya.
"Penerusku telah lahir..." Ucapnya spontan pada semua orang.
Hari ini semua orang bergembira dan bersuka cita atas kelahiran anggota baru didalam kedua belah keluarga tersebut.
Hani yang sedari tadi cemas dan khawatir akhirnya tersenyum meneteskan bulir bening diujung pelupuk matanya.
" Ya Allah... Ijinkan aku merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh saudari perempuan ku yang kini tengah berbahagia, " batin Hani.
###
ππ Besar harapan Author agar para Reader tidak hanya membaca tetapi juga menghargai hasil karya tulisan Author dengan cara:
πBoom like sehabis bacaπππ
πKomentar yang membangun atau memberi semangat disetiap episode nya π
πRate bintang β5 dengan menglik dipojok bagian kanan atas bergambar π
π vote sebanyak banyaknya kalau bisa jangan hanya 10 tapi 1000 ya πdengan mengklik dibagian pojok atas sebelah kanan bertulis VOTE.
__ADS_1
Bergabung digroup chat Author yup π©
Author tunggu ya.. Reader setia baik yang baru nimbrung atau yang dah berakar dihatinya Babang tamvaaan Bram dan siMbak Hanumnya ππ