
Asisten rumah tangga yang ada dirumah besar sangat menyukai Hanum sebagai anggota keluarga yang baru. Sikapnya yang ramah dan santun terhadap pekerja yang ada disana membuat ia disenangi dan dihormati.
Putri kecilnya yang sangat menggemaskan menambah warna didalam rumah besar itu. Rumah sebesar itu hanya dihuni oleh kedua orangtua Bram dan Bram sendiri sedangkan adik perempuan Bram tinggal bersama suaminya diluar negri.
Semenjak kehadiran Fairuz rumah tersebut terasa berbeda ada kehidupan yang berwarna didalamnya, karena ramai dengan celotehan dan kemanjaan putri kecil mereka berdua.
Mobil memasuki halaman rumah, pak sopir dengan sigap membukakan pintu buat majikannya.
"Tuan meminta saya untuk menjemput nyonya", ujar sopir pribadi Bram dengan sopan ia memberitahu bahwa tuannya akan menyusulnya ke resto tempat mereka akan makan siang.
"Baiklah pak, terima kasih", jawab Hanum dengan senyumnya yang terukir diujung bibirnya.
Hanum merupakan pribadi yang ramah walaupun sekarang telah menjadi nyonya dari seorang pengusaha sukses. Sifat dan sikap baiknya tak lantaran berubah setelah status sosialnya berubah.
Ia tetap sama menjadi pribadi yang dulu, sederhana, baik, dan tidak suka menyusahkan orang lain serta sifat perduli sesama yang menjadikan orang disekitarnya sayang padanya.
"Silahkan nyonya, ujar pelayan resto dengan ramah seraya membukakan ruang khusus yang dipesan suaminya.
Bram belum ada diruang itu, sopir pribadinya mengatakan akan terlambat sekitar sepuluh menit.
__ADS_1
Dering telpon mengagetkan dirinya, diraihnya ponsel tertera nama Bram dipanggilan tersebut.
"Maaf sayang ga apa menunggu ku sebentar ya?, ada sesuatu hal yang harus aku selesaikan terlebih dahulu", terdengar suara alasan suaminya dipanggilan itu.
Setelah panggilan dari suaminya ponsel Hanum berdering kembali. Sekarang tertera nomor baru yang ada dipanggilan tersebut.
Hati Hanum cemas dan gelisah, diperhatikan dengan seksama apakah nomor yang sama yang sering menerornya.
Terlihat nomor pada panggilan tersebut berbeda dengan nomor yang biasanya, dicobanya menerima panggilan tersebut dengan perasaan bercampur aduk.
"Ya, dengan siapa ini?, sapa Hanum dengan raut wajah cemas.
Terdengar suara wanita dari seberang sana. Wajahnya yang pucat berubah menjadi lega karena istrinya Galang yang menelpon.
Intan menceritakan apa yang terjadi pada rumah tangganya dengan suara tersedat-sedat karena tangis yang tak berhenti.
Hanum bingung mengapa seolah-olah Intan menyalakannya atas apa yang terjadi pada dirinya.
"Aku tak pernah memintamu untuk aku bicara dengan Galang, kau yang menangis dihadapan ku untuk meminta aku berbicara tentang dokter itu. Mengapa sekarang kau menyalahkan ku atas tindakan Galang, Intan!, jawab Hanum dengan tegas dan membela dirinya atas kesalah pahaman Intan.
__ADS_1
"Tanya mertuamu itu rahasia apa yang telah dilakukan terhadap suami mu sehingga ia berontak tak lagi mendengarknya", ucap kesal Hanum mengingat apa yang telah ia dengar dari mulut Galang atas sandiwara ibunya.
Intan menghentikan tangisnya dan penasaran dengan apa yang dimaksud dari perkataan Hanum.
Telpon itu dimatikan saja oleh istri Galang. Hanum terdiam sesaat, dengan seketika ia teringat kembali hal buruk yang dikatakan Galang bahwa benar terbukti sekarang lelaki itu menceraikan istrinya.
Ada rasa sakit dihati Hanum, walaupun pada saat itu ia masih menyimpan rasa pada Galang tapi tak pernah berniat untuk sedikit pun menghancurkan rumah tanggganya.
###
Like 👍👍
Komen 📩
Rate bintang 5🌟🌟🌟🌟🌟
Tanda hati sebagai tulisan favorite ❤❤❤
Votenya sebanyak banyaknya 📢📢📢
__ADS_1
Terima Kasih...🙏🙏
Salam Hangat Lemb@gung