
Hari ini Bram tidak pergi kerja. Tubuhnya yang atletik dan proporsional direbahkan dibalik selimut yang lembut. Kakinya enggan untuk turun dari kasurnya yang empuk. Bergolek kesana kemari tapi matanya tak terpejam sekejap pun.
Ia tak bersemangat sama sekali dan hari ini rasa itu telah over dosis. Ia berniat tidak akan keluar kamar.
Jarum jam sudah menunjukkan tepat diangka tujuh dan ini diluar kebiasaan Bram yang selalu bangun pagi dan siap kekantor.
Ketukan pintu terdengar didepan kamar Bram.
"Masuklah" ucap Bram.
"Tuan muda belum bersiap kerja diluar kebiasaanya hari ini", besit pak Kus yang melihat Bram masih ada dikasurnya. Terlihat wajahnya yang kurang tidur.
"Apa ia begadang semalam?, tanya pak Kus penasaran.
"Nyonya dan tuan besar meminta tuan muda untuk turun kemeja makan" , ujar pak Kus.
"Ya baiklah terima kasih" , jawab Bram dengan berat hati.
__ADS_1
Langkah kakinya terasa berat untuk menuju kamar mandi. Kalau tidak karena kedua orangtuanya yang meminta turun dari tempat tidur ini maka jangan harap ia akan bangkit dari tempat tidurnya.
Tak cukup waktu lama Bram menuruni anak tangga menuju ruang makan. Ia masih terlihat tampan walaupun dengan wajah yang kelihatan sekali kurang tidur ditambah dengan tak bersemangat.
Ia kenakan T-shirt berwarna biru muda dan stelan celana berwarna navy. Terlihat sangat serasi pakaian yang ia kenakan. Semua telah disiapkan oleh pak Kus karena itu tugas yang biasa pak Kus kerjakan.
"Bram", sapa mama seraya memperhatikan raut wajah putranya yang tak bersemangat dan kurang tidur.
"Apa kamu tak tidur semalaman?, tanya mama penasaran.
"Ia akan menikah besok", ujar Bram dengan keadaan yang sangat sedih terlihat sekali disorot matanya.
Wajah mama seperti mendengar petir disiang hari. Mendengar apa yang ucapkan putranya seperti tak percaya.
"Apaaa!. ucap mama seraya berdiri dari tempat duduk dan dengan nada tinggi serta wajah tak percaya.
"Apa alasan yang diberikan Hanum sehingga ia tidak menjatuhkan pilihannya kepadamu? , ucap mama dengan wajah kecewa.
__ADS_1
Bram terdiam sejenak dan mengatur nafas nya agar tak terdengar suara yang terbata-bata karena menahan tangis ketika mengatakan alasan yang disampaikan Hanum kepadanya.
"Ia mengartikan buruk terhadap ketulusan ku untuk bertanggung jawab atas apa yang telah aku lakukan padanya ma. Ia beranggapan akan terpisah dengan anak kami ketika ia sudah lahir. ia merasa aku akan mencampaknya dan berpaling dengan wanita lain setelah mendapat anak kami".ujar Bram dengan suara yang tak bisa ia kendalikan terdengar sangat pilu dan putus asa.
"Aku kecewa pada mu Bram, kau tak berhasil meyakinkan hati Hanum", ucap mama dengan mata penuh kekecewaan dan marah.
Papa yang sedari tadi hanya melihat dan mendengar hanya bisa berkata: " Kau tlah kalah Bram".
Perkataan papa telah memukul telak tepat dihatinya yang dalam.
Sekarang ia terduduk lemas dengan bulir bening diujung mata menetes dipipinya.
Bram seperti tanaman kering yang tumbuh ditanah yang tandus dan gersang. Membutuhkan setetes air untuk membasahi hatinya yang telah mengering akibat kesedihan yang teramat dalam.
Rasa bersalah ini akan menghantui dirinya disepanjang umur. ia tak diberi kesempatan untuk menebus kesalahan yang pernah ia lakukan.
"Hanum aku juga menginginkan mu tidak hanya janin yang sekarang tumbuh dirahim mu". jerit Bram didalam hati.
__ADS_1