
Hanum teramat sedih ia pernah merasakan posisi dimana ia sangat putus asa dan rapuh. Seperti yang dirasakan sahabatnya saat ini.
Sehingga tanpa sadar mengambil sebuah pengakhiran yang tak tepat dari masalah berat yang tak sanggup dipikul.
Hanum teringat kembali pada masa kelamnya itu. Sempat pernah terlintas juga usaha untuk mengakhiri hidup akan tetapi Hanum lebih beruntung dikelilingi orang-orang yang menyayangi sehingga rasa putus asa itu dapat dibuang jauh oleh Hanum.
Berbeda sekali dengan sahabatnya itu, Dina tak memiliki siapapun yang membantu mengendalikan perasaan dan emosi yang berkecamuk dihatinya.
Berusaha menutupi semua beban yang ia tanggung begitu berat sehingga tak mampu memikulnya.
Tak terasa bulir bening diujung mata Hanum jatuh dipipinya. Mengingat betapa besar peran penting orang-orang yang menyayangi dan mendukungnya agar mampu melewati masalah berat yang dihadapi kala itu
Almarhum suaminya Dika memiliki peran penting dalam perjalanannya untuk kembali menatap hidup kedepan dengan jauh lebih baik.
__ADS_1
"Semoga Allah melapangkan kuburmu kak,,,, Tak kan bisa kutatap hari demi hari seperti saat ini tanpa bantuan dari mu. Engkau yang mengembalikan senyum dan tawaku ketika aku sangat terpuruk kala itu", ungkap lirih Hanum mengingat akan sosok sepupunya yang sekaligus menjadi suaminya itu.
Bulir bening itu jatuh dengan derasnya diwajah Hanum. Tetesan dari air mata Hanum jatuh ditangan Dina tanpa disadari olehnya membuka mata Dina secara perlahan.
Dina berusahan membuka matanya dan bersuara sangat pelan memanggil nama sahabatnya itu.
"Hanum,,,,, sapa pelan dan tak berdaya sahabatnya itu.
Hanum memeluk erat tubuhnya dan merasakan harapan dan do'anya dikabulkan oleh sang pencipta.
"Terima kasih Ya Allah telah mendengarkan doa hambamu yang lemah ini", ucap Hanum dengan sorot mata berbinar dan menengadahkan kedua tangannya keatas sebagai ungkapan syukur kepada Sang Khaiq.
Hanum bergegas meraih ponselnya menelpon putra bungsu bude untuk mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Dikri untuk memberitahu kabar mengenai sahabatnya ini.
__ADS_1
"Din buah kesabaran dan rasa kesetiaan mu pada sebuah janji suci pernikahan kini terbayar sudah. Aku sudah membuat suamimu membuka mata hatinya untuk menilai siapa sesungguhnya belahan jiwanya. Bersabarlah dan tunggu sebetar lagi ia akan datang memohon pengampunan dari mu, percayalah padaku", ungkap Hanum dengan senyum menghiasi wajah cantiknya seraya menantap dalam dan penuh kasih sayang pada sahabatnya itu.
Terlihat diwajah Dina sebuah senyuman mengembang dibibirnya yang pucat. Ada bulir bening menetes dipipinya jatuh membasahi wajah sahabatnya itu
Hanum yakin akan ada perubahan besar pada pernikahan sahabatnya itu atas peristiwa yang terjadi saat ini.
Hanum berkata pada sahabatnya itu dengan suara lembut dan sangat menyejukkan hati Dina : "Kau berhak untuk bahagia sahabatku atas pengorbanan mu selama ini dan rasa berbakti mu pada kedua orangtua mu".
Tak lama Hanum berbicara terdengar suara ketukan diluar ruangan. Hanum berdiri membukakan pintu. Seperti janji Hanum apa yang dikatakannya pada sahabatnya itu.
Seorang lelaki dengan yang wajah putus asa dan sorot mata bersalah telah berdiri dihadapanya. Hanum mempersilahkan lelaki itu untuk masuk dan melihat istrinya yang terbaring lemah akibat ulahnya sendiri.
"Sayang maafkan aku, aku terlalu bodoh mengejar cinta yang tak tulus mencintaiku dan menutup mata hatiku untuk cinta sejati yang ada dihadapan ku. Beri ku kesempatan untuk menebus seluruh kesalahan ku padamu", ungkap Dikri dengan mata yang penuh dengan penyesalan dan hati yang hancur akibat sebuah penghiatan.
__ADS_1