
Bude tak hentinya meneteskan bulir bening diwajahnya. Matanya memerah dan sembab akibat terlalu banyak bulir bening jatuh tak tertahankan.
Tak pernah dibayangkanya bahwa Hanum yang dekat dengannya memiliki beban yng sangat berat. Tak terlihat diwajah cantiknya beban berat itu. Hanum pandai menyimpan kepedihan diparas cantiknya.
Wajar saja bude sering melihat Hanum setelah Dika pergi bekerja ia sering termenung didepan teras rumahnya. Akan tetapi ketika bertemu dan mengobrol dengan tetangga Hanum tidak terbawa emosi kesedihan diwajahnya.
Kalau tak ibu Hanum bercerita dan putra bungsunya yang berkata bahwa lelaki yang semalam berdiri didepan rumah Hanum itu memiliki keterikatan sangat erat terhadap Hanum. Rasa tanda tanya itu bertambah besar setelah ia mendengarkan sendiri perkataan lelaki itu pagi tadi.
"Bu, saya sudah merasakan dan menganggap Hanum sebagai putri saya semenjak Dika membawanya untuk tinggal dirumah itu. Hanum gadis yang baik dan ramah ia mudah berbaur dengan lingkungan baru tanpa merasa canggung. Ibu tenang saja saya akan menjaga Hanum setelah kepergian Dika secara tiba-tiba ini" , ungkap bude seraya tak berhenti menangis.
Mereka berdua saling berpelukan dan dapat merasakan kepedihan dan kesedihan yang sama.
"Bu, sejak kapan kalian ada disini? Ada apa dengan kalian berdua? dan dimana Bram? Ternyata aku sudah tertidur lama sekali". ungkap Hanum terbangun dari tidur nya setelah mendengar ibu dan bude menangis.
__ADS_1
Mentari senja telah masuk kedalam sela-sela jendela kamar Hanum. Diliriknya box bayi yang ada didekat tempat tidurnya. Fairuz masih tertidur pulas setelah kenyang menyusu dengan nya tadi.
"Bram akan menemani kita untuk malam ini, apakah kamu tak keberatan Hanum? , tanya ibu.
Hanum menganggukan kepala pertanda ia setuju dengan apa yang dikatakan ibu nya. Dua wanita paruh baya itu saling berpandangan dan tersenyum melihat Hanum tak keberatan dengan kehadiran Dika.
Pintu kamar diketuk dan seketika masuk seorang lelaki yang sangat dirindukan Hanum.
Hani dan Nina menyerbu Hanum dan langsung memeluk kakaknya itu. Hampir tiga bulan mereka yang biasa saling curhat dan berkumpul dalam satu kamar untuk sekedar mengobrol hal-hal yang terkadang tak masuk akal.
"Mana keponakan aunti? tanya Nina dan Hani secara bersamaaan.
Hanum melirik box bayi yang ada disampingnya sebagai tanda bahwa apa yang mereka cari ada disana.
__ADS_1
Fairuz telah bangun dari tidurnya tetapi ia tak mengeluarkan suara sehingga Hanum tak menyadari bahwa anaknya telah bangun dari tidurnya.
"Kak cantik sekali putrimu, memang benar yang dikatakan ibu ia memiliki bola mata yang indah bak batu permata berwarna biru", ungkap Hani dengan tersenyum.
"Tapi Hidung kak Hanum pesek kenapa dia bisa semancung itu? , ucap Nina dengan nada tak percaya dan penasaran.
"Fairuz memiliki hidung yang sama dengan papanya" , ucap Bram yang tiba-tiba sudah berdiri didepan pintu dan mendengar ucapan adik Hanum.
Semua orang yang ada disana terkejut dan menoleh kearah sumber suara yang ada diruangan itu. Suasana menjadi tegang dengan kehadiran Bram bersama keluarga nya.
Nina pandai mencairkan suasana tanpa disadari celotehanya membuat semua orang yang ada disana tersenyum dan tertawa kecil.
"Wah benar, hidung nya putri kak Hanum milik kak Bram. Kalau ga mana mungkin semancung itu, hidung kak Hanum pesek lebih mancung hidung Nina lagi", celoteh Nina seraya menunjuk hidungnya sendiri yang ia yakini lebih mancung padahal tidak jauh beda dengan Hanum.
__ADS_1