
Beberapa hari ini Hanum disibukkan dengan kegiatan yang ada dipanti asuhan tempat Hanum bekerja.
Pagi ini semua sudah siap tinggal menunggu pendiri panti dan beberapa tamu undangan dari donatur yang ikut hadir.
Tiap tahun acara ini diadakan untuk mengenang jasa pendiri panti yang awalnya hanya menampung anak-anak di sekitar lingkungan sini kemudian berkembang dari daerah lain.
Hanum sebagai MC diacara nanti dan sedari tadi ia telah membaca berulang kali seorang donatur yang namanya tak asing baginya.
"Apakah nama ini hanya sebuah kebetulan saja atau kah memang orang yang sama", besit hati Hanum yang penasaran.
Jarum jam telah menunjukkan angka delapan kurang sebentar lagi acara akan dimulai. Para tamu undangan dan para donatur satu persatu telah duduk ditempat yang telah disediakan.
Fairuz hari ini entah mengapa tidak mau diajak pergi kepanti. Ia meminta tinggal bersama auntinya. Hanum tak bisa memaksa kalau putri kecilnya tak ingin pergi.
"Baiklah Fay tinggal dengan aunti Hani jadi anak pintar ya nak, bunda pulang sore setelah acara dipanti selesai", ucap Hanum pada putri kecilnya saat itu sebelum pergi kepanti.
__ADS_1
Ibu kepala panti yang telah duduk bersama pendiri panti, para donatur dan para undangan lainnya. Ia telah memberikan isyarat pada Hanum bahwa acara akan segera dimulai.
Hanum membuka acara itu, merangkai kata demi kata menyusun menjadi sebuah kalimat pembuka yang membuat pendengar mengukuti acara tersebut.
Tidaknya hanya paras cantik yang dimiliki Hanum, melainkan juga sifat keibuan yang terlihat dari wajahnya.
Kata sambutan silih berganti dan kini memasuki pada kata sambutan dari para donatur yang telah membantu tetap berdirinya panti asuhan tersebut.
Dalam hal ini diwakil oleh bapak Bramantio Atmaja sebagi donatur tetap pada panti asuhan ini.
Hanum terkejut melihat lelaki dihadapannya ternyata orang yang terlintas dari pikirannya setelah membaca nama yang ada di susunan acara itu adalah benar bahwa ia Bram yang dikenalnya.
Ibu kepala panti juga terkejut bahwa Bram seorang donatur tetap panti yang banyak membatu panti ini datang bersama dengan putrinya Hanum.
Apa hubungan yang ada diantara mereka berdua sehingga begitu dekat Bram dengan putrinya Hanum, itu terlihat jelas dari wajah ibu kepala panti yang heran dan penuh tanda tanya.
__ADS_1
Bram naik keatas panggung dan memberikan sambutan dan Hanum masih tak percaya bahwa didepan sana adalah lelaki yang ia kenal memiliki sifat dermawan.
lelaki yang selalu diceritakan kebaikan dan kemurahan hatinya terhadap panti asuhan itu oleh ibu kepala panti adalah Bram.
Hanum tersentuh dengan sifat dermawan Bram dan ini tidak hanya sehari dua hari saja ternyata sifatnya tersebut telah lama sebelum mengenal Hanum.
Satu persatu kegiatan acara terlaksana sesuai dengan rencana. Semua berjalan dengan semestinya dan berakhir dengan sukses.
"Bunda", sapa putrinya kepada Hanum yang sedang duduk beristirahat karena seharian ini menyiapkan acara kegiatan yang barusan selesai.
Bram ada disamping putrinya melihat wanita yang dihadapannya kecapekan terlihat dari wajahnya yang sayu dan kurang tidur.
"Putri bunda dah pandai bermain sandiwara ya sekarang? , ungkap Hanum seraya mencuil pipinya yang merah.
Fairuz tersenyum dan sembunyi manja dibelakang tubuh papanya. Hanum tertawa melihat tingkah putrinya yang mengerti maksud dari perkataannya.
__ADS_1
Dering ponsel membuat Hanum melirik tasnya yang ada disamping duduknya. Melihat sebuah panggilan dari nomer yang tak tersimpan diponselnya.
Panggilan tersebut berhenti sebelum sempat Hanum menerimanya. Sudah dua kali panggilan pada nomor yang sama yang tak terangkat oleh Hanum.