
Hanum masih tak percaya bahwa sahabatnya tinggal dikota yang sama dengannya. Hidup Dina tak jauh berbeda dengan Hanum. Saat ini sahabatnya sangat membutuhkan suport dari nya.
Hari ini Dina mmengajak bertemu disebuah cafe. Hanum ingin tahu lebih dalam cerita sesungguhnya secara langsung.
"Hy, mengapa melamun?, ucap Bram yang bingung melihat Hanum setelah menerima telpon.
"Sahabatku, ingat dengan Dina?, tanya Hanum.
"Tentu saja aku ingat, sahabatmu yang lebih tomboynya dari mu",ucap Bram meledek Hanum.
Hanum kaget mendengar perkataan dari Bram "Kok dia bisa tahu kalau dulunya gadis tomboy", ungkap hanum dalam hati.
"Kenapa? , ucap Bram seraya melihat Hanum dengan mata menggoda.
Hanum menatap Bram penuh dengan tanda tanya. Tapi tak kuasa untuk bertanya lebih dalam.
"Aku akan pulang dan akan selalu menunggu kesempatan dari mu",ungkap Bram dengan kesungguhan.
Tak lama Bram berbicara dan hendak meninggalkan rumah Fairuz bagun dan berteriak mencari papanya.
__ADS_1
Hanum dan Bram terkejut mendengar teriakan putri kecil mereka. Serentak mereka berdua masuk kedalam kamar.
"Bunda, mana papa? , ucap putri kecilnya seraya menangis.
"Ya sayang papa ada disini, jawab Bram membelai lembut rambut putri kesayangan.
"Papa ga boleh pergi, papa harus tinggal disini besama bunda dan Fay", ucap polos putrinya yang tak mengerti permasalahan kedua orangtuanya.
Hanum menangis mendengar purtinya mengiba meminta Bram untuk tinggal bersama. Bram melihat wanita yang membuatnya jatuh hati itu bersedih tak rela hatinya untuk meninggalkan mereka berdua tapi keadaan yang tak mungkin hidup bersama pada saat ini.
"Papa pergi kerja dulu ya nak, besok papa datang lagi".ucap Bram dengan meneteskan air matanya melihat putri kecilnya menangis.
Bram memeluk putrinya erat seraya membisikan kata kepadanya: "Papa akan berusaha agar kita bisa hidup bersama sayang".
Bram menggedong putrinya sampai depan halaman rumah lalu memberikan ke Hanum. Putrinya melambaikan tangan mungilnya dan Bram memandang dengan perasaan bercampur aduk sampai akhirnya tak terlihat lagi.
****************************************
Hanum dan Dina sudah duduk pada sebuah cafe yang mereka sudah sepakati. Hanum menatap wajah sahabatnya itu dengan mata bengkak dan memerah.
__ADS_1
Terlihat sekali bahwa sahabatnya telah menangis dalam waktu yang lama.
"Hanum aku hamil", ucap Dina dengan sedih dan tak ada kebahagian sama seperti enam tahun yang lalu ia rasakan.
Hanum terkejut mendengar perkataan sahabatnya itu.
"Mengapa kau harus hamil dengan lelaki yang tak menginginkan mu", ucap Hanum dengan kecewa bercampur sedih mendengar perkataan sahabatnya.
Pernikahan Dina didasari dari perjodohan kedua orangtua mereka. Dina dan suami tak mempunyai perasaan apapun. Mereka terpaksa menerima pernikahan karena tak mau mengecewakan orangtua masing-masing.
Dina menurut saja pilihan orangtuanya lantaran usianya yang sudah semakin berumur. Dina tak tahu alasan apa yang melatar belakangi Dika menerima pernikahan itu juga.
Sekarang Dikri terang-terangan telah menikahi kekasihnya secara siri. Itu yang membuat hati Dina hancur ditambah lagi kini ia sedang berbadan dua.
Dina hanya melakukan hubungan suami istri hanya sekali dimana Dikri pulang dalam kondisi mabuk berat.
Hari pertama Dina resmi menjadi seorang istri itu lah awal mula kesedihan Dina. Dikri mengajaknya pergi ke kota ini jauh dari keluarga mereka berdua sehingga ia mudah melakukan apapun tanpa ketahuan oleh orangtua mereka
Dina harus bersandiwara didepan kedua orangtuanya dan didepan mertuanya bahwa pernikahan mereka bahagia.
__ADS_1