Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 103 Kemakam Dika


__ADS_3

Bram sudah menuggu Hanum sedari tadi. Ia telah menepati janjinya pada Hanum untuk mengantarkan ke makam almarhum Dika.


Putri kecilnya dan Hani telah bersiap untuk turut kemakam.


"Sudah siap?", tanya Bram melihat Hanum keluar dari kamarnya.


Hanum menganggukan kepala pertanda ia setuju untuk segera berangkat. Mobil melesat menuju kepemakaman yang tak jauh dari perumahan tempat tinggal Hanum dan almarhum Dika.


Cukup lama Hanum berada didepan batu nisan. Tertulis nama lengkap Dika beserta tanggal kelahiran dan kematiannya.


Tatapan mata Hanum terkenang akan seseorang yang sangat berarti dan sangat Hanum sayangi sebagai kakak dan sahabat. Bahkan dengan rela berkorban menjadi suami Hanum disaat keterpurakan Hanum saat itu.


Bulir bening mengalir deras dipipinya tak tertahankan lagi. Hanum tak bisa mengendalikan perasaanya terhadap sepupu dan sekaligus suaminya itu.


Bram yang masih berdiri dibelakang wanita yang sangat dicintainya itu tak kuasa menahan kesedihan yang terlihat didepan matanya.

__ADS_1


"Kak terima kasih atas segala pengorbanan mu buat adikmu ini, hanya lantunan ayat suci yang dapat ku kirimkan agar kau tenang dan berbahagia disana. Aku akan ingat selalu perkataan mu pada ku. Sekarang aku akan melanjutkan hidup ku bersama lelaki dari ayah putri ku semoga kau merestui keputusan ku", ungkap Hanum dengan isak tangisnya yang belum berhenti.


Menyentuh lembut pundak Hanum berusaha memberikan kekuatan kepada wanita dari ibu putrinya itu. Hanum mengetahui bahwa ada Bram dibelakangnya tanpa disadari gerak refleks Hanum memeluk Bram menumpahkan rasa sedih didada lelaki yang akan menjadi pelindung pengganti almarhum Dika.


Bram membiarkan saja Hanum membasahi baju koko putih itu dengan air matanya. ia membelai lembut bahu dan kepala Hanum seakan memberikan perlindungan dan perhatian yang besar buat wanita yang sedang menangis pilu.


"sayang sudah tak baik meratapi kepergian seseorang yang sangat berarti bagi kita ia akan merasakan kesedihan yang sama", ucap Bram membujuk Hanum untuk menghentikan tangisnya yang menyayat hati.


Bram mengajak Hanum untuk pulang dan Hanum mengikuti saran lelaki itu. Diperjalanan Hanum hanya terdiam dan tak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.


Cuaca hari ini menunjukkan suasana yang sama dihati Hanum. Mendung dan bahkan sinar mentari tak dapat menembus pekatnya awan hitam.


"Apa yang harus ku perbuat agar suasana hati Hanum dapat bersinar kembali", ucap Bram lirih seraya mencari ide untuk membuat Hanum tak terlalu larut dalam kesedihan.


Hani melihat perubahan hati kakaknya semenjak pulang dari makam. Merasakan tidak bergairah dan memilih menyendiri.

__ADS_1


Mereka berdua saling bertatapan dan berusaha mencairkan suasana hati Hanum.


Hani teringat pada almarhum kak Dika setiap Kak Hanum bersedih ia selalu membawa kesebuah taman.


"Kak bawa kak Hanum kesebuah taman dan ajak dia duduk disana dan mengobrol trus berikan ia es krim rasa coklat", ungkap Hani dengan serius.


"Tak hanya putriku yang suka makan es krim tetapi bundanya juga rupanya", besit Bram setelah mendengar apa yang dikatakan adik Hanum


*************************************


Hanum masih duduk terdiam dan matanya melihat danau buatan ditaman itu tepat dihadapan mereka.


"Bicaralah aku akan jadi pendengar yang baik", ucap Bram dengan memandang wajah Hanum dengan penuh cinta.


"Bram lihatlah air itu seberapa tenangnya ia, ketika seseorang melemparkan batu kepermukaannya terjadilah percikan air diatas permukaan yang tenang itu tetapi kemudian perlahan tenang kembali seperti semula",ungkap Hanum.

__ADS_1


Bram tak mengerti apa maksud dari perkataan wanita yang sangat dicintainya itu.


__ADS_2