Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 46 Tipu Muslihat


__ADS_3

Wajah Galang yang tampan terlihat kusut. Raut wajahnya yang penuh kesedihan dan kekecewaan. Saat ini baju pengantin yang ia pakai masih melekat di tubuhnya. Pikirannya melayang tak tentu arah.


Galang tak habis berpikir dengan keputusan Hanum. Ia begitu mudah menerima tindakan Dika untuk menikahi nya.


"Hanum apa yang kau lakukan", teriak Galang dikebisuan malam. Tak diperdulikanya orang akan melihatnya yang tiba-tiba menjerit keras.


Ia terduduk lemas tak bertenaga ditaman rumah sakit tempat ibunya dirawat itu.


Dadanya semakin sesak walaupun ia sudah berada ditempat terbuka. Galang seakan kehabisan tenaga untuk memompa jantungnya agar terus berdetak .


Rasa tak ingin kehilangan kekasih tercinta sudah diluar kendali. Ia berteriak kembali sekencangnya memanggil nama Hanum.


Lalu bersimpuh dan menangis menyebabkan beberapa orang yang ada ditaman melihat dan memperhatikannya.


Mang Jajang melihat majikannya seperti itu sangat terpukul. Tak pernah dilihatnya tuan muda itu sebegitu terpuruknya seperti malam ini.


Ada timbul rasa penyesalan dihatinya telah melakukan sesuatu pada tuannya itu . Sesuatu yang ia lakukan bukan kehendak sendiri. Ia terpaksa melakukan itu agar pekerjaan tetap terlindungi.

__ADS_1


"Tuan muda maaf kan aku", ucap lirih mang Jajang.


"Tuan bangkitlah ayo kita pergi", bujuk mang Jajang.


Galang mengikuti perintah mang Jajang yang menarik lengannya untuk berdiri dan berjalan memasuki mobil.


"Tuan kita pulang kerumah mengganti pakaian mu. Setelah itu baru kita kembali lagi kerumah sakit." ujar mang Jajang diikuti dengan anggukan kepala Galang pertanda setuju.


************************************


Sebagian keluarga telah pamit pulang kerumah setelah mengikuti pernikahan Hanum yang dramatis.


Diruang tamu duduk ayah bersama pak Hadi. Pak Hadi ayahnya Dina tahu persis apa yang terjadi pada kejadian pagi itu. Mengapa ayah Hanum mengizinkan Dika sepupunya Hanum untuk menikahi putrinya.


"Pak", sapa pak Hadi pada ayah yang sedang melamun.


" Saya yakin Hanum seorang gadis yang tegar, dia akan menjadi ibu yang bisa melewati semua rintangan demi anaknya untuk itu dia hanya membutuhkan dukungan dan semangat dari kita semua", ujar pak Hadi.

__ADS_1


Ayah terharu mendengar apa yang dikatakan pak Hadi. Dia yakin Dika mampu memberikan kebahagian dan mampu melindungi putri dan cucunya.


Ayah juga sangat berterima kasih pada ponakan dari sebelah istrinya itu. Bagimana pun juga kehamilan Hanum tidak bisa ditutupi lagi. Perutnya semakin terlihat dan ia tak akan mengambil resiko jika ia menolak keputusan Dika.


Akan banyak menimbulkan fitnah dan nama baiknya akan tercoreng dilingkungan masyarakat. Beruntung sekali orang tua Dika tidak mempersalahkan keputusan yang diambil putra sulungnya itu.


**************************************


"Permisi", seraya mengetuk pintu kamar Hanum.


"Masuklah", terdengar suara dari dalam kamar.


Dina membuka pintu perlahan dan melihat keadaan didalam kamar. Terlihat Hanum sedang duduk disalah satu pinggir tempat tidur seraya memegang telpon genggamnya.


Terlihat sekali tidak ada rona kebahagian selayaknya pengantin baru didalam kamar itu. Hanum masih diam terpaku walaupun ia menyadari sahabatnya mendekati nya.


Dina meraih tangan Hanum dan memeluknya.

__ADS_1


"Menangislah sahabatku, keluarkan semuanya yang ada didalam hatimu melalui air mata. Biarkan aku sedikit mengurangi beban besar yang ada di pundakmu" , ungkap Dina yang masih menahan bulir bening yang akan jatuh dipipinya.


Hanum menangis menumpahkan semua yang ia rasa melalui tangisan yang terdengar sangat pilu. Sungguh sangat menusuk perih relung hati yang mendengarnya.


__ADS_2