Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 71 Permohonan Bram


__ADS_3

Wajah keluarga Hanum dan keluarga Bram termasuk bude yang ada pada saat itu terlihat bahagia. Rasa sedih dan duka seperti menghilang sejenak dari wajah mereka.


"Siapa nama putri mu Hanum?, jawab mama Bram yang telah mengendong cucunya.


Belum sempat Hanum membuka mulutnya Bram langsung memberitahu nama anaknya beserta arti dari nama tersebut.


Semua orang menatap wajah Bram. Tanpa disadari Bram perhatian semua orang tertuju pada tingkah nya yang bersemangat dan antusias memperkenalkan nama putri kecilnya itu.


Sikap Bram yang seperti itu membuat adik bungsu Hanum tak sadar meledaknya.


"Ciee kak Bram semangat bener memperkenalkan Fairuz pada kita semua, Lihat tuh wajah kak Hanum jadi cemberut karena terkalahkan kecantikannya", ledek Nina sambil tertawa kecil.


Semua orang tertawa mendengar ledekan Nina pada Hanum. Hanum hanya bisa tersipu malu mendengar celotehan adik bungsunya itu.


"Mama sama putrinya sama-sama cantiknya", ucap mama Bram seraya tersenyum menatap wajah Hanum yang menyambungi celotehan adik bungsu Nina.

__ADS_1


Ditengah kebahagian yang dirasakan tiba-tiba Bram menanyakan keberadaan Dika yang sejak kehadiran Bram disini tidak bertemu dengan sosok suami Hanum tersebut.


Keluarga Hanum seperti tersadarkan kembali atas pertanyaan Bram oleh rasa duka itu, yang sempat terbius dari rasa kebahagian lahirnya Fairuz didalam keluarga mereka.


Sejenak ayah menarikan nafas panjang dan berusaha menguatkan hati untuk berbicara agar tidak terputus-putus karena kesedihan yang ia rasakan kembali.


Perubahan wajah pada keluarga Hanum dan termasuk bude terlihat jelas itu. sebuah kesediahn yang sangat aulit diungkapkan.


Keluarga Bram saling berpandangan dan melihat perubahan itu serta merasa heran. Ketika putranya menanyakan keberadaan Dika sebagai suami Hanum yang tidak ikut berbahagia atas kelahiran putri Hanum.


Wajah Hanum yang semula penuh rona bahagia karena kelahiran putrinya seketika menghilang hilang dan berubah menjadi kesedihan mengingat suaminya.


Keluarga Bram terkejut termasuk Bram itu sendiri. Merek merasa tak percaya dengan yang mereka dengar ditelinga tentang apa yang dikatakan oleh ayah Hanum.


"Pada malam Hanum melahirkan ibu terasa sangat putus asa sekali Bram, tidak ada yang bisa ibu harapkan lagi karena Dika tidak bisa lagi melindungi Hanum.", ungkap ibu dengan menitikkan bulir bening diujung matanya.

__ADS_1


Ibu menceritakan malam itu betapa ia cemas dan gelisah serta bersusah payah memohon pada setiap orang yang ada dirumah skit tersebut .


Mencari pendonor darah yang mau menyumbangkan darah untuk kehidupan putrinya. Ia lakukan hanya seorang sendiri, tapi jika ada Dika tidaklah berat seperti yang ibu rasakan itu


"Ibu bersyukur kamu datang pada saat yang tepat Bram, kau telah menyelamatkan Hanum dari masa kritisnya". ucap ibu dengan menarik nafas panjangnya seperti ada rasa kelegaan dihati.


Bram merasa bersalah karena ia telah berpikiran buruk tentang Dika, setelah mendengar kabar tentang Dika yang telah berada pada tempat peristirahatan terakhir.


"Wajar saja ia tidak ada selama aku disini, kenapa aku begitu meragukan sosok Dika yang terang-terang ia mengatakan akan melindungi Hanum melebihi dirinya sendiri", besit Bram dalam hati dan hati kecilnya terenyuh.


Hanum mendengar ibunya bercerita baru tersadar bahwa telah ada darah Bram mengalir ditubuhnya. Hanum tak menyangka bahwa Bram mau berkorban untuk dirinya.


Semua orang yang ada diruangan itu terdiam dan membisu seperti membayangkan kejadian dimalam yang diceritakan oleh ibu.


Bram mendekati Hanum dan menggenggam erat tanganya seraya berkata didepan semua orang yang ada disana : "Izinkan aku melindungi mu seumur hidup ku?

__ADS_1


__ADS_2