
Masih dengan wajah murung dan tak bersemangat. Hanum tak menyangka kebaikannya disalah artikan oleh orang yang telah dibantunya.
"Uhhh,,,, Seharusnya aku menolaknya pada saat itu!! , perasaan kesal Hanum pada dirinya yang terlalu dalam masuk ke permasalahan rumah tangga orang lain.
Bram melihat istrinya yang sedari tadi hanya membolak balik saja makanannya tanpa disentuh. Timbul rasa keingintahuan dihatinya. Apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya.
"Ada apa? masih masalah telpon gelap itu kah? , dengan wajah menatap Hanum ada tanda tanya besar dari sorot mata Bram.
"Ga ada apa-apa", berusaha menutupi caci maki yang didapat dari istri Galang terhadapnya, karena tak ingin Bram ikut merasa sedih ataupun ikut marah terhadap Intan.
Mendengar perkataannya Bram percaya pada apa yang disampaikan istrinya dan tak berusaha mengorek terlalu dalam lagi.
"Brian telah menyiapkan sebuah rumah buat kita tinggal bersama, sehabis ini kita akan lihat kesana. Apakah kau menyukai atau tidak nantinya sayang, jika tak menyukainya kau bisa pilih yang lain",,,ungkap Bram dengan senyum dibibirnya dan paras tampannya yang terlihat bahagia ketika sedang berbicara.
Mobil melewati beberapa perkebunan, Hanum melihat dari balik kaca mobil yang melaju dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
Terlihat asri pemandangan didaerah tersebut dan pastinya udara disini lebih segar kalau dipagi hari.
Memasuki gerbang dan tak beberapa jauh terlihat sebuah rumah dengan desain tradisional dipadu padankan dengan beberapa budaya daerah lokal.
Seperti dibawa kembali pada masa silam dengan melihat rumah dihadapannya itu. Nuansa dan furniture terlihat seperti pada zaman dulu.
"Aku menyukainya kelihatan sederhana dengan desain tradisional tapi pasti ini barang mewah karena ku lihat sebagian adalah barang-barang antik", ucap Hanum dengan kekagumannya memandang segala isi didalam rumah besar tersebut.
"Baguslah kalau kau menyukainya, Brian memang pandai menebak selera seseorang", Bram tersenyum tipis melihat pilihan sahabatnya itu disukai oleh istrinya.
Ada gurat kesedihan diwajah Hanum mengingat wajah mertuanya yang sedih ketika akan pindah dari rumah besar tersebut.
"Eeh, ada apa? apakah kau tak bahagia sayang?, Hanum menggelengkan kepala pertanda ia tak setuju dengan perkataan suaminya.
"Trus kenapa?, seraya mencium kembali pipi istrinya dengan mesrah.
__ADS_1
Hanum menceritakan kejadian sebelum ia pergi bersama dirinya. Bram tersenyum ada rona bahagia diwajahnya ternyata istrinya memikirkan perasaan orang tuanya.
"Kita akan sering mengunjungi mereka sayang, kau tak usah bersedih tentang hal itu ya,,, ", ungkap suaminya dengan mata penuh cinta.
Dering diponsel Bram berbunyi, segera ia terima panggilan yang ternyata dari sahabatnya itu. Cukup lama Bram berbicara diponselnya dan dengan perubahan wajah yang tak menyenangkan diparas tampan suaminya.
"Baiklah, besok aku akan menemuinya. Mau apa lagi wanita itu pada ku!!!, ucap kesal Bram mengakhiri panggilan tersebut.
Hanum tak mau bertanya, siapa wanita yang dimaksud oleh suaminya melalui pembicaraan telpon tersebut.
Tak mau mengambil pusing siapa wanita itu, Hanum menikmati waktu bersama suaminya dirumah baru itu.
"Kita akan besarkan anak-anak kita disini, tapi apakah dirimu belum ada tanda-tanda akan memiliki seorang adik buat Fay?, dengan mata genit dan sengaja mencuil pinggang istrinya dengan lembut dan tersenyum menggoda.
"Kalau begitu aku akan berusaha lebih keras lagi agar Fay memiliki adik", ledek Bram seraya mencubit manja hidung istrinya.
__ADS_1
Hanum tersipu malu dengan tingkah laku dan perkataan suaminya. Bulan ini memang Hanum merasakan belum mendapatkan menstruasi tapi ia coba untuk tidak begitu memikirkanya karena jadwal menstruasinya yang tak beraturan.