Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 239 Yang Tak Diduga


__ADS_3

Dengan wajah sayu Brian memandang wajah pucat istrinya yang sedang tertidur diatas ranjang diruang rawat inap kelas VIP.


Tidak ada rona ceria disorot matanya, melihat keadaan istrinya yang seperti ini dikarenakan dirinya sendiri.


"Sayang...Maafkan aku," ucap Brian dengan suara sendu dan lirih.


Digenggam erat tangan istrinya, lalu mencium punggung tangan Hani berulang - ulang kali. Tanpa disadarinya ternyata Hani terbangun dari tidurnya.


"Sayang... Apa yang terjadi?" Tanya Hani dengan tatapan mata kosong.


Brian terkejut mendengar suara istrinya, dengan mata berkaca - kaca dirinya berdiri dari posisi duduknya.


"Sayaang..." Dibelai lembut wajah istrinya seraya senyum membingkai diwajahnya.


Gengaman tangan mereka berdua semakin erat seakan tak ingin berpisah dan saling memberikan kekuatan akan suatu harapan.


Disaat mereka saling melepas rasa sayang, terdengar pintu ruang rawat inap itu diketuk dari luar. Terlihat petugas kesehatan beserta dokter memasuki ruangan tersebut.


"Permisi Tuan, dokter akan mengecek keadaan Nyonya Hani," ucap wanita petugas kesehatan tersebut.


Brian memberikan ruang agar dokter dapat leluasa mengecek keadaan istrinya. Setelah beberapa menit kemudian dokter berkata "Nyonya istirahat dulu untuk beberapa hari ya.. Sampai HB nya kembali normal."


Hani menganggukkan kepala pertanda mengerti apa yang disampaikan oleh dokter tersebut.


"Tuan, bisa ikut saya sekarang?" Tanya dokter terserbut seraya mengajak Brian menuju ruangannya.


"Baiklah Dok," jawab singkat Brian.


"Sayang aku tinggal sebentar ya...Oya sebentar lagi kakak mu akan datang menjenguk, " ujar suamiya berlalu.


Hani menganggukan kepalanya pertanda mengerti akan apa yang dikatakan suaminya.


Brian melangkahkan kakinya dibelakang mengiringi langkah kaki dokter yang meminta dirinya untuk mengikuti menuju ruang kerja dokter tersebut.


Perasaannya berkecamuk dihatinya, dirinya tak bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh dokter tersebut.


"Silahkan masuk Tuan, " ucap wanita petugas kesehatan yang datang bersama dokter yang mengecek istrinya tadi.


Brian menganggukkan kepala pertanda mengerti dengan apa yang dikatakan wanita tersebut.


"Silahkan duduk Tuan," ucap dokter yang telah duduk di kursi menghadap Brian.


Brian duduk tepat dihadapan dokter dengan perasaan bercampur aduk dan tak sabar untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.


"Tuan... Istri anda terlalu lemah, kita akan pantau untuk beberapa hari kedepan. Ditambah dengan berbadan dua, maka berisiko untuk mengalami keguguran jika kondisi Nyonya ngedrop seperti pada saat dibawa kemari." Ujar dokter memberikan penjelasan dengan wajah penuh kesungguhan.

__ADS_1


"Aa... Apa! Dok, istri saya sedang hamil?" ucap Brian dengan suara sedikit keras, dan mengulang perkataan dokter guna meyakinkan apa yang telah didengar ditelinganya.


"YaTuan, selamat atas kehamilan Nyonya, ini masih kehamilan muda. Dengan kondisi istri Tuan yang lemah maka sangat rentan sekali mengalami hal yang tak diinginkan. Untuk itu usahakan emosi sang ibu stabil dan sehat baru bisa pulang kerumah. Dan sesampai Dirumahpun istri Tuan tidak diperbolehkan capek apalagi sempat mengalami stres mengingat kandunganya yang lemah." Ungkap dokter dengan penuh kesungguhan.


Brian langsung sudut syukur setelah mendengar berita kehamilan istrinya. Ada rasa haru dan bahagia setelah mendengar perkataan dokter tersebut.


"Jadi apa yang harus dilakukan Dok? Agar istri saya dapat lebih kuat tubuhnya dan jujur ini adalah hal yang telah lama kami tunggu untuk memiliki buah hati, " ungkap Brian dengan mata berkaca-kaca.


Dokter tersenyum setelah mendengar perkataan Brian dengan wajah yang terlihat cemas dan khawatir dari lelaki dihapannya kini sirna.


"Usahakan Nyonya untuk tidak stres dan jangan bekerja terlalu capek dan berat ," ulang dokter kembali.


Brian tak lepas dari senyum yang menghiasi wajahnya. Rasa bahagianya tak dapat diucapkan dengan kata - kata.


"Terima kasih Dok, sebuah kabar yang sangat menggembirakan istri saya, " sahut Brian dengan semangat seraya permisi untuk secepatnya bertemu dengan istrinya.


Dilangkahkanya kaki menuju ruang rawat inap kelas VIP dimana Hani berada. Dengan senyum yang tak lepas dari parasnya.


Disepanjang koridor rumah sakit, Brian tersenyum mengembang diujung bibirnya, semua orang yang berpapasan dengan dirinya, jadi melihat Brian aneh.


Sebuah harapan dan impian akan buah hati kini sudah ada didepan mata. Tak bisa dibayangkan dirinya setelah mengatakan hal tersebut nantinya pada istrinya.


🍁🍁🍁


Ruang Rawat Inap Hani...


"Kak Hanum..." Sapa Hani dengan senyum diwajahnya yang masih terlihat pucat.


Hanum menyambut senyuman ketika melihat adik tengahnya melemparkan senyuman akan kehadiran dirinya diruang tersebut.


"Kok sendirian Han? Mana suami mu?" Tanya Hanum seraya meletakkan buah tangan yang dibawanya diatas nakas disamping tempat tidur adik tengahnya itu.


Kemudian Hanum duduk disamping adiknya seraya membelai lembut wajah Hani yang terbaring diatas kasur.


"Kak Brian sedang ada diruang dokter Kak..." Jawab Hani dengan suara pelan.


"Oh begitu... Setelah Bram mendapatkan telpon dari suami mu, aku langsung bergegas kemari." Ungkap Hanum pada adiknya itu.


"Apa yang terjadi? Bukanya kau sedang pergi liburan bersama suamimu ke negara tetangga Dek? Kok tiba - tiba terdengar kabar kau masuk rumah sakit... " Tanya Hanum dengan penasaran dan khawatir akan keadaan saudari perempuannya itu.


Hani kembali memperlihatkan wajah sedihnya dan bulir bening diujung matanya berusaha dirinya tahan agar tak jatuh membasahi pipinya.


"Kami bertengkar Kak... Tak pernah ku melihat wajah Brian semarah itu selama pernikahan kami," ujar Hani seraya menerawang dengan tatapan mata keatas langit kamar diruang rawat inap itu.


Hanum terkejut mendengar penjelasan dari adiknya itu, dirinya menjadi tambah penasaran hal apa yang menjadi penyebab pertengkaran mereka berdua.

__ADS_1


"Aku tak menyangka Brian bisa terpancing juga emosinya, apa penyebabnya?" Batin Hanum didalam hati.


"Semua salahku kak.. Brian adalah seorang lelaki yang sabar dan benar - benar sangat mencintai ku, perkataan ku yang membuatnya terpancing emosi. Itu keluar dari hati ku yang rapuh kak... Tak ada niat buruk disana, walaupun sakit itu harus ku ucapkan." Ungkap adik tengahnya yang menceritakan semua yang terjadi dengan wajah terlihat sekali terluka dan hati yang rapuh.


Hanum menggengam tangan adiknya seakan berusaha memberikan kekuatan pada tubuh yang terbaring lemah dihadapannya.


"Aku meminta Brian untuk menikah lagi," ungkap Hani seketika, disaat Hanum masih berkecamuk dihatinya tentang hal apa yang menyebabkan pertengkaran mereka berdua.


"Aaa... pa!" Spontan Hanum berteriak setelah mendengar perkataan dari adik tengahnya itu.


"Kau sudah berpikir tak masuk diakal Dek! Tak ada wanita yang ingin dimadu, tak semudah yang kau katakan Dek! Ketika kau menjalankannya maka kau tak akan sanggup memberikan suamimu dengan wanita lain," Ungkap Hanum dengan wajah tegang dan cemas akan keputusan terburu - buru saudari perempuannya itu.


Hani hanya terdiam setelah Hanum berbicara sedikit keras dan terlihat jelas kecemasan diwajah kakaknya itu.


"Wajar Brian terpancing emosinya kalau seperti itu! Aku tahu kalau dirinya begitu tulus terhadapa mu." Ucap Hanum kembali setelah mencoba mengendalikan emosinya dengan menarik nafas panjang.


Sejenak mereka berdua terdiam, ada keheningan menyeruak diruangan tersebut. Setelah beberapa percakapan yang cukup menegangkan diantara mereka berdua.


Ditatap dalam wajah adiknya yang terlihat pucat dan lemah itu. Nasib mereka berdua sangat berbeda, namun sama - sama membuat kakak beradik tersebut sampai pada titik terlemah dan terpuruk yang sangat mendalam direlung hati.


"Begitu terpuruknya, adikku berani mengutarakan saran yang tak masuk diakal," batin Hanum dihati.


"Dek... Sekarang jangan kau pikirkan itu, jika hati dan pikiranmu tak sanggup menahan beban yang ada dipundak mu, maka lepaskanlah biarkan saja Sang Pencipta yang mengaturnya. Dengan berpasrah diri atas segala ketetapannya Dek..." Ungkap Hanum seraya mencium lembut dahi Hani.


Seakan ada ketenangan dihati Hani setelah mendengar perkataan dari saudari kandungnya itu. Dirinya merasakan ada kebenaran dari setiap kata yang diutarakan kakaknya itu.


"Baiklah Kak... Kau memang benar. Aku akan berusaha pasrah dan menerima segala ketentuanNya, agar beban berat ini berkurang." Balas Hani seraya tersenyum diujung bibirnya.


Hanum tersenyum setelah mendengar jawaban kepasrahan dari saudari perempuannya itu.


###


πŸ˜ŠπŸ™ Besar harapan Author agar para Reader tidak hanya membaca tetapi juga menghargai hasil karya tulisan Author dengan cara:


πŸ’œBoom like sehabis bacaπŸ‘πŸ‘πŸ‘


πŸ’›Komentar yang membangun atau memberi semangat disetiap episode nya 😊


πŸ’šRate bintang ⭐5 dengan menglik dipojok bagian kanan atas bergambar 🌟


πŸ’™ vote sebanyak banyaknya kalau bisa jangan hanya 10 tapi 1000 ya πŸ˜‰ dengan mengklik dibagian pojok atas sebelah kanan bertulis VOTE.


❀Trus beri tanda hati setelah kalian membaca, biar kita tambah mesra ya Reader tercinta... 😍😍


Bergabung digroup chat Author yup πŸ“©

__ADS_1


Author tunggu ya...😊😊


__ADS_2