
Pagi - pagi Hanum sudah dapat sentuhan mesrah di bibir, pipi dan perut. Bram menjadi lebay akhir - akhir ini.
Sifat manja Hanum yang membuat Bram jadi lebay. Diatas nakas telah stand by segelas susu ibu hamil dengan roti lapis isi.
Bik Minah sudah menyiapkan, sehingga Bram tinggal membawanya keatas setelah Bram sarapan pagi dan sebelum pergi kekantor bersama putri kecilnya.
"Pa...Kata Bik Wati, Fay akan punya adik ya? " Tanya polos putrinya.
"Ya, benar. Doakan bunda ya nak, biar dedek bayi sehat dan Fay bisa bermain dengannya," balas Bram seraya memeluk tubuh purtinya.
"Ya, Pa..." Sahut putri kecilnya.
Mobil melaju dengan kencang dan sampai pada sebuah sekolah dasar. Kini Fairuz telah duduk dikelas satu sekolah dasar islam swasta yang terkenal. Wajar kalau dia menginginkan seorang adik untuk temannya dirumah, karena usia Fairuz yang sudah pantas memiliki seorang adik.
Dengan kecupan didahi dan jabatan tangan dari putrinya seraya mencium punggung tangan Bram. Fairuz berjalan memasuki pintu gerbang sekolah. Lambaian tangan putri kecilnya menambah semangat Bram untuk bekerja demi buah hatinya.
Terlebih melihat rona wajah putrinya akan adik bayi buatnya. Sesampai disekolah Fairuz dengan bangga memamerkan pada teman sekelasnya bahwa ia akan segera memiliki seorang adik bayi.
__ADS_1
Sudah lama Fairuz menantikan kabar itu dari Papa dan Bundanya, karena hampir satu kelas temannya memiliki adik. Hanya ada beberapa dari temanya termasuk dirinya yang masih menjadi anak semata wayang.
Mendengar bundanya akan memiliki adik membuat gadis kecil tersebut sangat bergembira dan antusias akan kabar tersebut.
***
Getar dari telpon genggam yang ada diatas meja tak terdengar oleh Bram, tengah asik melakukan meeting dengan beberapa klien. Asisten pribadinya Brian melirik panggilan yang disenyapkan itu.
Tertera diponsel tersebut My Honey , Brian berkeyakinan bahwa itu adalah panggilan dari Hanum yang sekarang menjadi kakak iparnya.
Brian memberi isyarat pada Bram disela rapat tersebut untuk memberitahu akan panggilan masuk diponselnya.
Bram melihat bahwa istrinya menelpon, tak seperti biasa Hanum menelponnya pada saat jam kerja. Rasa cemas dan khawatir menyelinap dipikiran dan hatinya.
Segera ia replay kembali panggilan yang masuk diponselnya tersebut. Terdengar suara yang sangat dirindukkannya setiap hari ditelinganya.
Dengan manja terdengar suara Hanum sampai ketelinga Bram.
__ADS_1
"Sayang... Aku ingin makan buah plam , rasa manisnya sudah terbayang dilidahku," ujar Hanum dengan rengekan manjanya.
"Minta tolong sopir pribadimu aja sayang..." ucap Bram yang tersenyum menghilangkan rasa cemas dan khawatir dihati dan pikirannya.
"Aku ingin kau yang membawanya untuk ku!" Rengek Hanum kembali.
"Baiklah, aku akan segera kembali..." Ucap Bram dengan mesrah sebuah kecupan dilayangkan Bram melalui udara untuk mengakhiri panggilan tersebut.
Brian yang sedari tadi melihat Bram jadi tersenyum, ada rasa lucu ketika melihat sahabatnya yang dulu terkenal dingin, kaku dan gila kerja bisa meninggalkan begitu saja rapat yang sedang berlangsung, dan kembali menemui istrinya yang hanya meminta dibelikan buah palm.
Brian menggelengkan kepala atas tindakan sahabatnya itu. Bram mengetahui bahwa Brian menertawakan tindakannya.
"Sekarang aku terlihat lucu dimatamu! Tunggu saja sampai Hani hamil dan kau akan berbuat lebih dari yang ku lakukan!" Balas Bram seraya berlalu begitu saja dari hadapan Brian yang masih tersenyum.
Bram tak perlu memberikan perintah pada asisten sekaligus sahabatnya itu untuk menghandle rapat yang sedang berlangsung.
"Hati - hati jangan pula ngebut hanya untuk mengatar pesanan istri mu itu," ledek Brian kembali sembari berteriak.
__ADS_1
Bram tahu kalau sahabatnya itu meledeknya kembali. Tanpa melihat kebelakang, dia hanya melambaikan tangan dan terus berjalan meninggalkan sahabatnya itu.