
Awan gelap seakan menyelimuti hati pak Darso dan istri, setelah berbincang dan bercengkerama dengan menantu dan besannya, akhirnya mereka berdua masuk kedalam kamar tamu dan merebahkan tubuh yang penat dan tidak hanya fisik melainkan hati mereka berdua.
Diatas kasur yang empuk, mereka saling menatap langit-langit kamar tersebut, mata mereka berdua seakan enggan untuk dipejamkan.
Tatapan mata pak Darso kosong dan begitu juga istrinya. Didalam benak mereka, dirinya tahu bahwa Mayang sengaja menghindar dari mereka berdua.
"Mengapa kau berubah Ndook...," Jerit hati pak Darso.
"Apakah kau malu setelah mendapatkan seorang suami yang sangat berbeda dengan kehidupan orangtua mu!" Batin pak Darso dengan menghela nafas yang panjang.
"Ada apa pak? Kok seperti menahan beban berat, " tanya istrinya setelah mendengar tarikan nafas yang panjang dan dilepaskan secara kasar.
"Putri kita Mbok...Apakah Mbok ndak melihat perubahan yang terjadi pada sikapnya terhadap kita," balas pak Darso seraya menerawang menatap langit - langit kamar itu dengan sangat dalam.
Akhirnya istrinya juga menarik nafas yang panjang lalu menghembusnya secara kasar.
"Besok kita pulang saja pak... Aku ndak betah disini, apalagi putri kita seperti terusik kenyamananya disini," ucap istrinya dengan suara pelan dan lirih.
Mereka berdua saling bertatap muka seperti merasakan goresan yang sama dan terasa teramat perih dihati keduanya. Bulir bening tanpa disadari menetes diujung mata istrinya.
"Benar Mbok, kita besok pulang saja... Pagi - pagi kita pamit sama besan dan mantu kita dulu, " balas pak Darso dengan suara pelan.
Istrinya menganggukan kepalanya pertanda mengerti akan apa yang dikatakan suaminya.
__ADS_1
Dalam lamunan mereka berdua, dikejutkan dengan suara pintu yang diketuk dari luar. Seketika membuyarkan lamunan mereka berdua. Pak Darso beranjak dari tidurnya dan menuju pintu kamar tersebut untuk mencari tahu siapa yang mengetuk pintu.
Betapa terkejutnya, bahwa putrinya telah berada didepan pintu. Setelah pintu terbuka Mayang langsung masuk kedalam kamar tamu itu dengan memasang wajah kesal.
"Pak...Mbok.. Besok pulang saja, ndak perlu lama - lama disini, " ujarnya setelah berdiri dihadapan kedua orangtuanya.
Wajah mereka yang semula senang melihat putrinya menghampiri mereka dikamar, seketika berubah menjadi sedih setelah mendengar perkataan dari putrinya itu.
"Kami memang akan pulang... Bapak tahu kalau kehadiran kami telah mengusik ketenangan dan kenyamanan dirimu disini. Bapak dan Simbok juga sudah berniat akan pulang esok pagi. Bapak tak menyangka kehidupan dikota telah merubah gaya dan sikapmu pada kami. Ingat Ndok... Harta dan status tak kekal selamanya, kami memang termasuk tak mampu secara materi. Dan sekarang kau malu mengakui keberadaan kami dikehidupan mu sekarang ini. Biar kami orang susah ndak ada sedikitpun yang kami miliki hanya harga diri ini lah yang membuat kami mampu menegakkan kepala ini." Ungkap Pak Darso dengan tatapan mata serius dan penuh keyakinan melontarkan semua yang dirasakannya dihati.
Istrinya hanya meneteskan air mata diujung matanya yang tak dapat ditahannya. Sehingga tak ada sepatah katapun yang terucap dari ibunya.
"Ingat Ndok.. Walaupun kau membuat kami seperti ini, namun kau tetaplah putri kesayangan kami. Apapun yang terjadi ingat ada keluargamu yang tak punya apa - apa ini ada dibelakang mu," ungkap pak Darso kembali.
Dengan angkuh dan sombongnya, Mayang lupa akan sosok yang telah membuatnya hadir dimuka bumi ini. Orang yang telah sangat berjasa dan rela mengorbankan nyawa untuk melahirkan dirinya.
Namun dirinya telah melupakan itu semua, seakan tak dapat menoleh kearah belakang dari mana dirinya berasal sebelum menjadi seperti saat ini.
"Bapak tahu Ndook... Ndak perlu diperjelas itu semua. Kami memang terlahir dari keluarga yang tak punya apa - apa tapi masih memiliki harga diri. Nah! Sekarang bisa jadi kau tak memiliki harga diri lagi, seperti yang selalu ku sampikan ketika kau kecil sampai beranjak dewasa. " Ucap pak Darso dengan sorot mata tajam.
Mendengar perkataan bapaknya, menciutkan hati Mayang yang tadinya angkuh dan sombong. Dengan perubahan wajah Mayang yang terlihat jelas dimata kedua orangtua, Mayang berjalan berlalu meninggalkan kedua orangtuanya.
"Pak...Putri kita, " ucap istrinya setelah kepergian Mayang.
__ADS_1
"Sabar Mbok... Semoga Allah membalikkan hati putri kita seperti yang dulu lagi." Balas pak Darso memberikan kekuatan pada istrinya.
"Kita akan perbanyak doa kembali Mbok, agar dia kembali kesifat semula," ujar pak Darso kembali.
Istrinya menganggukan kepala seraya berkata "Amin... "
Malam dihabiskan dengan sangat berat oleh sepasang suami istri tersebut. Pekatnya malam menambah hati yang hancur dan kecewa akan putri kesayangan yang dirindukan anggota keluarganya.
###
ππ Besar harapan Author agar para Reader tidak hanya membaca tetapi juga menghargai hasil karya tulisan Author dengan cara:
πBoom like sehabis bacaπππ
πKomentar yang membangun atau memberi semangat disetiap episode nya π
πRate bintang β5 dengan menglik dipojok bagian kanan atas bergambar π
π vote sebanyak banyaknya kalau bisa jangan hanya 10 tapi 1000 ya π dengan mengklik dibagian pojok atas sebelah kanan bertulis VOTE.
β€Trus beri tanda hati setelah kalian membaca, biar kita tambah mesra ya Reader tercinta... ππ
Bergabung digroup chat Author yup π©
__ADS_1
Author