
Secepat kilat Hanum keluar dari kamar mandi setelah memberikan handuk pada suaminya.
Rona merah masih membingkai diwajahnya, rasa malu dengan apa yang barusan terjadi.
"Bram sengaja ngerjain aku! Tanpa rasa malu tak memakai sehelai kainpun ditubuhnya," gerutu Hanum dengan senyum tipis diujung bibirnya."
Setelah makan malam Bram meminta untuk langsung tidur, terasa sakit diseluruh tubuhnya.
Hanum seperti biasanya menidurkan Fairuz dengan cara membacakan kisah dari dunia fantasi. Malam ini dengan kisah Rafunzel sigadis dengan rambut panjangnya.
Ditengah cerita Hanum melirik bahwa putri kecilnya telah tertidur pulas. Perlahan Hanum turun dari atas kasur agar tak membuat putrinya terbangun.
Melangkahkan kaki dengan sangat hati - hati lalu membuka pintu kamar serta menutupnya kembali dengan sangat pelan.
Setibanya dikamar Hanum melihat suaminya telah tertidur, segera mengganti pakaiannya mengunakan baju tidur yang transparan. Baju itu telah tersedia disana, Hanum hanya tinggal memakainya saja.
Semua sudah diatur oleh Bram apapun keperluan yang dibutuhkan Hanum dan putri kecilnya sampai hal yang terkecil sekalipun.
"Baiklah aku akan rebahkan tubuh ini, rasa capek juga mendera ragaku, " gumam Hanum seraya berbaring disamping suaminya dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
Tak begitu lama Hanum memejamkan matanya, telingannya mendengar suara rintihan. Dicobanya menyalakan lampu kamar yang memang sengaja sebelum tidur Hanum mengantikannya dengan lampu yang bersinar temaram.
Dilihat sekelilingnya, ternyata suara yang berasal dari rintihan Bram disaat tidurnya. Dengan menggunakan telapak tangannya, Hanum mengecek suhu tubuh Bram. Sangking panasnya Bram menjadi merayau atau menginggau mengeluarkan kata - kata yang tak jelas.
Sangat terasa panas dikulit Hanum ketika menempelkan telapak tangan didahi suaminya. Hanum sedikit terkejut merasakan suhu tubuh Bram yang diluar normal.
__ADS_1
Hanum beranjak turun kelantai bawah segera mengambil alat kompres untuk suaminya dan mengambil obat penurun panas.
"Sayang..." sapa Hanum membangunkan Bram dengan mengoyangkan tubuhnya.
Bram juga tak terbagun, sepertinya demam sangat tinggi. Hanya terdengar suara desah dan rintihan yang keluar dari mulutnya, akibat suhu yang terlalu tinggi.
Diletakkanya handuk kecil tepat didahi Bram yang sebelumnya dibasahi dengan air hangat.
Beberapa kali Hanum lakukan dengan telaten mengganti handuk yang cepat mengering setelah ditempelkan didahi Bram. Namun suhu tubuhnya juga belum reda. Timbul rasa panik dihati Hanum.
Hanum mencoba mengingat apa yang diketahuinya ketika hendak menurunkan panasnya. Hanum teringat jika deman maka jangan membuat suhu tubuh semakin meningkat.
Hanum menarik selimut yang dipakai Bram, kemudian membuka baju tidurnya yang berlengan panjang. Perlahan ditariknya sedikit demi sedikit baju yang menempel ditubuh suaminya.
Sekarang Hanum telah memeluk suaminya dengan posisi miring kekanan. Tubuh Bram kini menempel dikulit Hanum. Terasa sangat panas tubuh Bram terasa dikulitnya
Hanum mendekap dengan erat tubuh itu, sedikit demi sedikit panas yang juga dirasakan tubuh Hanum berkurang.
Bram tak lagi merayau, setelah mendapat dekapan tubuh Hanum yang hanya memakai pakaian dalam saja dan tak beda jauh Bram pun demikian.
Akhirnya mereka berdua tertidur dengan posisi saling berpelukan.
***
Sinar mentari mencoba mengintip disela - sela tirai jendela. Dan akhirnya menembus masuk kedalam ruang kamar pribadi Hanum sehingga membuatnya terjaga dari tidurnya.
__ADS_1
Hanum mencoba membuka matanya yang terasa berat dan tanpa disadarinya dengan apa yang dilakukannya sekarang.
Tubuh Bram masih menempel ditubuhnya, terasa suhu tubuhnya menurun dari yang dirasakan Hanum semalam.
Hembusan nafas teratur Bram terasa tepat diwajahnya, tanggannya yang merangkul tubuh Hanum masih melingkar dipinggul istrinya itu
Hanum berusaha mengangkat tangan Bram secara perlahan, agar ia bisa berdiri dan tak membangunkan suaminya.
Menuju kekamar mandi dan membasuh mukanya, segera mengenakan pakaiannya kembali. Dilihatnya suaminya masih meringkuk diatas kasur.
Hanum tak berniat membangunkan suaminya, karena semalam Bram tak tertidur dengan pulas.
Berjalan menuju tempat tidur, Hanum memandang wajah suaminya lalu mencium dengan mesrah pipi suaminya seraya tersenyum tipis diujung bibirnya.
###
ππ Besar harapan Author agar para Reader tidak hanya membaca tetapi juga menghargai hasil karya tulisan Author dengan cara:
πBoom like sehabis bacaπππ
πKomentar yang membangun atau memberi semangat disetiap episode nya π
πRate bintang β5 dengan menglik dipojok bagian kanan atas bergambar π
π vote sebanyak banyaknya kalau bisa jangan hanya 10 tapi 1000 ya πdengan mengklik dibagian pojok atas sebelah kanan bertulis VOTE.
__ADS_1
Bergabung digroup chat Author yup π©
Author tunggu ya Reader setia baik yang baru nimbrung atau yang dah berakar dihatinya Babang tamvaaan Bram dan siMbak Hanumnya ππ