Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 113 Trauma


__ADS_3

Keramaian pesta pernikahan Hanum kali ini terdengar diseluruh kampung.Tamu undangan yang datang tidak hanya dari kampung melainkan beberapa yang berdatangan dari kota.


Semua yang hadir menyatakan takjub karena sangat meriahnya pesta itu dari pesta yang biasa diadakan dikampung.


Pihak keluarga Bram penyokong dana sepenuhnya pada pernikahan ini, keluarga Hanum hanya membantu mempersiapkan saja segala keperluan yang dibutuhkan.


"Aku lelah begitu banyak tamu yang datang pada hari ini", ungkap Hanum pada Bram yang telah berganti pakaian tidur.


"Ini belum seberapa sayang, kau harus persiapkan tenagamu untuk pesta yang kedua nantinya", ucap Bram dengan tersenyum seraya mencuil hidung istrinya dengan lembut.


Keluarga Bram memang akan mengadakan acara kedua untuk memperkenalkan Hanum pada semua karyawan dan rekan kerja serta keluarga besar mereka.


Keluarga Bram adalah pengusaha ternama dikota dengan banyak cabang perusahan yang ada diseluruh daerah bahkan ada diluar negri. Mereka akan mempekenalkan hadirnya orang baru didalam keluarga "Atmajha" nama kakek buyut Bram.


"Bunda, Fay boleh tidur disini?, ucap putri kecilnya yang tiba-tiba sudah masuk kedalam kamar.


Mereka berdua saling berpandang, serentak mereka tersenyum melihat kehadiran Fairuz.

__ADS_1


"Tentu saja sayang, kita akan tidur bersama disini", jawab Bram dengan menggedong putrinya dan membaringkannya diatas kasur.


Hanum hanya tersenyum melihat begitu sayangnya Bram pada putri kecilnya itu.


Tak begitu lama putrinya telah tertidur disebelah Bram.


Pintu kamar terdengar dari luar, segera Hanum membukanya. Terlihat ibu yang ada dihadapan Hanum.


"Mana fay?, tanya ibu.


Orangtua Hanum mengerti bahwa ini adalah malam pertama bagi mereka berdua sebagai sepasang suami istri.


"Bu, biarkanlah Fay disini", ungkap Hanum.


Ibu memberikan isyarat untuk mengikuti perintahnya dan Hanum mengerti maksud dari ibunya itu. Bram hanya tersenyum ketika Hanum terpaksa mengikuti perintah ibunya.


"Ada apa sayang? mengapa kau cemberut begitu. Ibu memang benar ia hanya ingin memberikan waktu untuk kita berdua pada mslam ini", ucap Bram seraya mencium dahi Hanum dengan mesra.

__ADS_1


"Ya, baiklah", ucap Hanum dengan senyum diujung bibirnya menatap suaminya yang merasa senang dengan keadaaan ini.


Jatungnya berdebar kencang menatap mata Bram yang mulai menunjukkan sisi genitnya. Hanum berusaha mengedalikan kegugupanya dan rasa cemasnya.


Sentuhan hangat mulai mendarat dibahunya, merasakan getaran diseluruh tubuhnya. Tak kuasa Hanum menolak karena Bram sudah menjadi suaminya.


Bram mulai mengeksplor setiap senti bagian tubuh Hanum yang telah lama menggairahkan birahi laki-lakinya. Ia tak mau menghilangkan kesempatan yang ada didepan matanya.


"Bram", sapa Hanum dengan lembut dan menatap wajah suaminya.


Mendengar Hanum memangil namanya, seketika Bram menghentikan pergerakan liar yang dilakukannya terhadap bagian-bagian sensitif dari tubuh istrinya.


Ada rasa bingung dan penasaran dihati Bram, merasakan bahwa istrinya seperti merasa tak nyaman dengan sentuhan-sentuhan yang telah dilakukannya. Terlihat dari respon yang diberikan Hanum terhadap sentuhan yang Bram lakukan


Walaupun telah memiliki seorang putri tetapi Hanum tak pernah merasakan nikmatnya bercinta. Setelah menikah pun dengan almarhum Dika, ia tak pernah disentuh sekalipun.


Wajar saja ketika Bram mulai menyentuh area sensitifnya muncul ketakutan dan kecemasan yang ada dihati dan pikiranya.

__ADS_1


Trauma masa lalu yang masih belum hilang dipikirannya. Bahkan disetiap malam Hanum masih bermimpi buruk.


__ADS_2