Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 213 Yang Dinantikan (Part 2)


__ADS_3

Dengan menggunakan mobil ambulans perjalanan dari rumah menuju rumah sakit akan terasa lebih cepat sampai dari pada mobil pribadi. Jika mobil pribadi maka akan sulit menembus barisan mobil ditengah jalan yang padat.


Dengan aktivitas dan kesibukan semua orang yang berlalu lalang walaupun diwaktu malam hari. Mobil ambulans mampu mengurai kemacetan ditengah jalan tersebut.


Dengan sirene yang terdengar keras membuat kendaraan lain menepi dan memberikan jalan agar mobil ambulans tersebut melaju tanpa ada hambatan.


Sopir memacu mobil tersebut dengan kecepatan tinggi, mengantarkan pasien secepat mungkin agar sampai pada rumah sakit yang dituju dan segera mendapatkan pertolongan.


Bram melihat wajah istrinya, tak terlihat lagi senyum diparasnya yang cantik. Dengan menahan rasa sakit yang semakin mendera dibagian pinggang dan perut. Tak kontraksi terus terjadi dan berdurasi lebih lama dan semakin sering berulang.


"Sayang..."Sapa Bram dengan menatap dalam wajah istrinya.


Tak bisa dibayangkan oleh dirinya jika harus kehilangan wanita yang telah melahirkan buah hatinya.


"Bertahan sayang, sebentar lagi akan tiba dirumah sakit," ujar Bram memberi kekuatan dan semangat pada istrinya.


Mobil berhenti tepat dibagian IGD, dengan cekatan Hanum didorong masuk dengan menggunakan tempat tidur menuju sebuah ruangan khusus dirumah sakit tersebut.


Hanum meringis kembali dengan peluh tak henti membasahi dahi dan wajahanya.


Ibu mengikuti dari belakang, putrinya yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Dirinya tak menginginkan seperti pertama kali putrinya melahirkan dan mengalami kejadian serupa yaitu pendarahan pasca kelahiran Fairuz.


Bayangan peritiwa itu terlintas kembali, wajah ibu menjadi pucat dan tak ada sedikitpun senyuman terlihat diwajahnya. Gurat kecemasan tergambar dengan jelas.


Kedua orang tua Bram juga telah diberitahu kabar mengenai persalinan Hanum. Mereka berbegegas menuju kerumah sakit. Tak berbeda jauh dengan Brian dan Hani yang segera meluncur menuju rumah sakit setelah diberitahu oleh Bik Ijah.

__ADS_1


Semua orang telah berkumpul, baik sebelah Bram maupun Hanum. Ada ketegangan dan rasa cemas membingkai setiap wajah mereka.


"Berdoalah agar Hanum selamat dan begitu juga anaknya," ujar mama pada semua orang


yang ada disana.


Hanum belum juga menunjukkan tanda kelahiran setelah dokter memeriksa kontraksi yang sedang dialami dirinya. Dokter memprediksi kelahiran pada besok pagi jika Pembukaan yang terjadi pada Hanum sangat lamban.


"Sayang..." Hanum menyapa Bram dengan bulir bening diujung pelupuk matanya.


Bram yang sedari tadi tak beranjak dari sampingnya. Mengelus lembut punggung sampai pinggang istrinya yang sedang tidur dengan posisi miring sebelah kiri.


Rasa nyeri itu datang kembali, digenggamnya erat tangan Hanum yang mengigil sangking teramat sakit dirasakan oleh istrinya.


Dicium puncak kepala istrinya seraya berbisik dengan mesra ditelinga istrinya tersebut.


Sebuah kekuatan mengalir ditubuhnya, dirinya merasakan ada sebuah energi yang memberi Hanum kemampuan untuk terus bertahan melalui setip proses dari persalinan tersebut.


"Maafkan aku sayang...ijinkan aku dengan ikhlas menjalani semua proses ini, " ungkap Hanum dengan wajah menahan sakit yang menderanya.


Bram tersenyum seraya mencium dahi Hanum dan membisikan kata : "Kau membuat hidupku menjadi sempurna, berjuanglah untuk melahirkan buah hati kita ya..."


Ibu tak hentinya berdoa terlebih lagi ayah Hanum yang sedari tadi tak henti mulutnya komat - kamit. Entah apa yang dibaca lelaki paruh baya tersebut.


Sedangkan papa Bram tak bisa diam, sedari tadi berjalan mondar - mandir dengan perasaan cemas dan pikiran tak menentu akan kelahiran cucu kedua dari putra kebanggaannya.

__ADS_1


"Pa, ayo duduk sini, entar sakit dipergelangan kaki papa kambuh loh," ujar mama Bram seraya mengingatkan suaminya akan penyakit nyeri sendi yang sedang dideritanya.


Lelaki itu tak mengubris istrinya, seakan perasaanya tak bisa dikendalikannya saat ini. Sehingga dirinya tak memperhatikan gerakan tubuhnya, apalagi rasa skit yang didera pada bagian pergelngan kakinya.


Brian merasakan ketegangan diwajah istrinya, lalu berusaha menenangkan istrinya tersebut.


"Sayang... Berbanyak berdoa saja," ucap Brian yang melihat istrinya telah menangis.


"Semoga Kak Hanum dan bayinya selamat, " ungkap Hani seraya memeluk erat tubuh suaminya.


"Amin... "Balas Brian.


Semua orang diruang tunggu merasakan ketegangan dan kecemasan yang sama. Hanya Bram yang menemani Hanum didalam ruangan tersebut. Berjuang bersama istrinya untuk Sang Buah Hati yang akan hadir dikeluarga kecilnya itu.


###


πŸ˜ŠπŸ™ Besar harapan Author agar para Reader tidak hanya membaca tetapi juga menghargai hasil karya tulisan Author dengan cara:


πŸ’œBoom like sehabis bacaπŸ‘πŸ‘πŸ‘


πŸ’›Komentar yang membangun atau memberi semangat disetiap episode nya 😊


πŸ’šRate bintang ⭐5 dengan menglik dipojok bagian kanan atas bergambar 🌟


πŸ’™ vote sebanyak banyaknya kalau bisa jangan hanya 10 tapi 1000 ya πŸ˜‰dengan mengklik dibagian pojok atas sebelah kanan bertulis VOTE.

__ADS_1


Bergabung digroup chat Author yup πŸ“©


Author tunggu ya.. Reader setia baik yang baru nimbrung atau yang dah berakar dihatinya Babang tamvaaan Bram dan siMbak Hanumnya 😍😎


__ADS_2