
Kehamilan Hanum sudah masuk sembilan bulan penuh pada minggu ketiga dibulan ini.
Hanum merasa cemas karena ia tidak merasakan tanda-tanda kelahiran.
"Bu saya sudah memasuki sembilan bulan penuh tapi mengapa belum ada tanda kelahiran walapun kaki ku sudah pada bengkak keduanya?, tanya Hanum dengan nada cemas.
Ibu tersenyum mendengar pertanyaan dari putrinya itu. Ternyata Hanum sudah mengkhawatirkan dirinya dan anaknya yang ada didalam rahim.
"Memang ada sebagian wanita yang lebih lama masa kehamilannya, lewat dari sembilan bulan baru lahir anaknya. Seperti ibu yang melahirkan mu selama sembilan bulan lewat lima hari", jawab ibu seraya tersenyum.
Mendengar penjelasan dari ibu Hanum merasa lebih tenang. Biasanya Dika selalu rutin mengingatkan Hanum untuk mengontrol kandungannya disetiap bulan.
Bulan ini sudah masuk minggu ketiga dan Hanum belum mengontrol kandungannya. Ia dan ibu memutuskan untuk segera pergi kedokter kandungan.
"Tumben bulan ini ibu telat kontrol dan ga diantar oleh bapak?, ucap dokter dengan tersenyum.
Hanum terkejut mendengar pertanyaan dokter. Wajahnya berubah menjadi pucat dan bulir bening ia coba tahan untuk tidak keluar dari ujung matanya.
__ADS_1
Dokter merasa binggung akibat perubahan wajah pasiennya setelah ia menanyakan tentang ketidakhadiran suaminya.
"Maaf bu apakah saya salah bicara? tanya dokter yang jadi salah tingkah dan merasa tak enak hati.
Dokter itu memang sudah mengenal Hanum karena setiap bulan Dika membawanya kemari. Jadi wajar saja kalau ia sekedar basa basi menanyakan Dika yang tidak ikut menemani Hanum pada saat ini.
"Suami putri saya telah berpulang kepada Sang Khalid dok, tiga minggu yang lalu", jawab ibu dengan wajah muram.
Hanum hanya terdiam dan mendengarkan saja ibu yang menjelaskan ketidakhadiran Dika pada saat ini.
Setelah mendengar perkataan ibu Hanum Wajah dokter tersebut berubah menjadi pucat pasi. Dokter menjadi sangat bersalah menanyakan hal tersebut pada Hanum. Berulang kali ia meminta maaf atas ketidaktahuan nya.
" Semua dalam kondisi bagus dan menurut hitungan kehamilan ibu memng sudah sembilan bulan penuh pada minggu ini, Jika minggu depan ibu tidak ada reaksi atau tanda-tanda kelahiran maka ibu harus kembali kemari dan kita harus mengambil tindakan melalui caecar", ungkap dokter dengan keseriusan.
"Baiklah dok kalau begitu", jawab Hanum dengan wajah masih diliputi rasa sedih bercampur cemas ia meminta undur diri.
*************************************
__ADS_1
Hanum terbangun dari tidur, tiba-tiba ia merasakan nyeri diperut dan pinggangnya. ia menuju ke kamar mandi dilihat ada bercak darah dipakaian dalamnya.
Bergegas ia membangunkan ibunya yang sedang tertidur pulas. Ibu terbangun ketika Hanum menggoyangkan bahunya.
" Saya mau melahirkan bu", ucap Hanum mengagetkan ibunya.
Ibu berusaha mengendalikan emosinya. Walau sudah tiga putri ia lahirkan tetapi menghadapi kelahiran cucu pertamanya membuat ia panik.
Hanum melihat jam yang tertempel didinding rumahnya. Jarum jam menunjukkan angka tiga dini hari. Hanum bingung siapa yang akan diminta untuknya mengatar kerumah sakit.
Ibu mengambil perlengkapan yang sudah disiapkan oleh Hanum jauh sebelumnya. Kemudian meminta ibu untuk kerumah bude. Meminta bantuan padanya untuk mengantar kerumah sakit.
Setiba dirumah sakit Hanum langsung dilarikan keruang bersalin. Terlihat sekali wajah ibu yang cemas dan gelisah menghadapi persalinan putrinya.
Ibu menunggu diluar ruangan dalam waktu lama. Ibu mencoba membaca doa dan meminta Allah mempermudah jalan lahir bagi cucunya.
Terdengar suara tangis bayi dari dalam ruangan, ibu tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Hanum sudah melahirkan" , besit ibu dalam hati dengan senyum yang mengembang diujung bibirnya.