
Berbalut dengan kebaya putih Hanum terlihat sangat cantik. Dipoles dengan make up yang sederhana menambah paras ayu dari wajah nya terpancar sempurna.
Semua mata tertuju kearah Hanum yang keluar dari kamar menuju tempat akad nikah yang telah disiapkan.
Galang telah berada disana lebih dulu. Menatap Hanum dengan mata yang bahagia dan senyum yang terukir diujung bibirnya.
"Dia lah kekasih ku dan akan segera menjadi ibu dari anak-anakku. Aku akan mengarungi bahtera rumah tangga sampai ujung usia kami", besit Galang dihati.
Penghulu sudah berada diantara mereka berdua dan ayah Hanum juga sudah ada disamping penghulu.
Ada perasaan yang begitu bahagia dimata ayah melihat ia bisa menikahkan putri kesayangannya. Seakan tugasnya sebagai orang tua telah sampai pada posisi akhir, yaitu telah mengantarkan anaknya kepintu pernikahan.
Ada senyum keberhasilan di raut wajah ayah. Begitu juga ibu yang tak melepas pandangan ke arah Hanum yang sedang duduk berdampingan dengan laki-kaki yang sangat mencintai putri kesayangan nya.
"Tak terasa kami telah sampai pada ujung senja. Lambat laun hanya akan tertinggal mereka berdua dimana anak-anak telah meninggalkan orang tua untuk membina rumah tangga mereka sendiri", besit ibu dalam hati.
__ADS_1
Semua terkejut dan menoleh kearah suara. seorang laki-laki tua tiba-tiba datang dengan wajah cemas bercampur takut terpancar dimata dan raut wajahnya.
Dia mang Jajang sopir pribadi ibu Galang yang dengan nada suara tinggi mencari keberadaan Galang.
"Dimana Galang", ucap mang Jajang dengan nada suara tinggi.
"Aku ingin bicara", secepatnya ujar mang Jajang dengan suara terbata-bata.
Galang yang mendengar suara yang dikenalnya langsung berdiri dan meninggalkan tempat akad menghampiri mang Jajang.
Ia mengajak sopir ibunya itu keruang belakang. Dika langsung mengikuti Galang yang meninggalkan ruang tempat akad nikah yang akan berlangsung.
"Ibu mu nak Galang sekarang ada diruang IGD, ia menelan banyak obat tidur sehingga sekarang ia dalam keadaan sekarat". ungkap mang Jajang dengan serius.
Mendengar suara ibunya yang dalam keadaan kritis antara hidup dan mati. Tak bisa ia bayangkan kalau harus kehilangan ibu. keluarga satu-satunya yang ia punya setelah meninggalnya ayah.
__ADS_1
Bergegas ia menuju halaman rumah Hanum. Tanpa memperdulikan Dika yang memanggil nya berulang kali.
Sesampainya kedalam mobil Dika mencegah Galang lalu berkata : "Apa yang kau lakukan, kamu tidak bisa meninggalkan acara ini begitu saja" Ucap Dika dengan amarah
"Aku tak mungkin meninggalkan ibu ku yang sekarang sedang sekarat", ucap Galang dengan nada tinggi.
"Kau akan menyesali tindakan mu ini seumur hidup", ucap Dika seraya berlalu meninggalkan Galang dengan wajah sendu.
Hanum yang melihat adegan itu tak kuasa menahan tangisnya. Riasannya yang semula sempurna terkikis dengan air matanya yang jatuh tak terhentikan.
Dika memeluk Hanum dengan erat. Hatinya pun tersayat terasa sangat pedih dengan tindakan yang telah dilakukan Galang yang meninggalkan Hanum begitu saja.
"Dek kamu masih mempercayai kk? menganggap kk sebagai pelindung mu? dan akan selalu ada disamping mu", ucap Dika dengan lirih.
Hanum menganggukkan kepala pertanda ia setuju dengan apa yang dikatakan Dika. Dengan ibu jari Dika menghapus air mata yang membasahi pipi adik kesayangannya itu.
__ADS_1