
Setibanya dibandara wajah kedua kakak beradik ini tegang dan terlihat sekali rasa cemas diwajah mereka berdua.
"Ada apa? kenapa wajah kalian begitu tegang?, tanya Brian penasaran dan khawatir.
"Saya baru pertama kalinya naik pesawat, saya takut jatuh seperti film yang pernah saya tonton", ungkap Hani dengn raut wajah cemas bercampur malu mengakui bahwa ini pertama kalinya ia merasakan berpergian memakai pesawat terbang.
Spontan Brian tertawa lepas sehingga orang disekelilingnya pun memperhatikan dan termasuk Hanum yang menatap wajahnya dengan sorot mata yang tajam.
Brian seketika menghentikan ketawanya dan dan berusaha untuk mengendalikan dirinya. Walaupun masih terdengar lucu apa yang dikatakan Hani sehingga ia menutupi dengan salah satu tangannya dan membalikkan badan untuk menahan tawa yang masih tersisa.
"Kenapa kau bisa jatuh cinta dengan keluarga kampung ini Bram, apa karena kepolosan dan kepribadian yang bersahaja. Ditambah dengan Hanum yang begitu memiliki karakter yang sangat kuat dan tak mudah orang memperlakukannya sebarangan. Dengan tatapan mata yang serius mematikan itu ia berikan tanda ketidak sukaan nya ", besit Brian dalam hati.
Akhirmya Hanum, Hani dan Fairuz sudah berada didalam kabin pesawat. mereka berdua saling menatap tanda saling memberikan kekuatan untuk menghadapi rasa takut dan cemas yang berlebihan.
__ADS_1
Brian memperhatikan kedua kakak beradik itu. Masih terlihat lucu dimata Brian dengan tingkah laku yang terlihat olehnya.
"Banyak* berdoa ya semoga kita selamat sampai tujuan*", ledek Brian pada Hani seraya melirik Hanum.
Hanum menatap kembali dengan sorot mata yang tajam sama seperti saat di lobi bandara. Seketika Brian mengalihkan pandangannya.
"Kenapa tatapanya sama saat Bram menatap ku dengan serius?, besit Brian dalam hati.
Akan ada dua orang yang menatap ku seperti itu membuat bulu roma ku berdiri sangking tajamnya sorot mata mereka menatap ku.
Fairuz tertidur selama penerbangan, anak ini tidak rewel setelah melakukan penerbangan yang cukup lama.
Akhirnya mereka smpai pada sebuah bandara dikota X yang terkenal akan destinasi wisata liburan untuk keluarga. Kedua adik beradik itu merasa bersyukur dan lega setelah turun dari pesawat.
__ADS_1
Mobil sudah stand by menunggu kedatangan Hanum dan keluarga bersama Brian. Tertera pada selembar kertas yang dioegang seorang pria dengan tulisan yang tertulis disana
"Hanum Selamat Berlibur"
Brian Mendekati laki-laki yang menulis selembar kertas tersebut lalu memberikan isyarat untuk membawa tas kedalam mobil. Dengan sigap pria itu melakukn perintah yang diberikan Brian.
Cukup lama mereka menempuh perjalanan dengan mobil menuju sebuah tempat dan akhirnya mereka sampai pada sebuah rumah yang berdiri dengan kokoh disebuah tepi pantai. Sebuah villa yang megah yang dibangun dengan tujuan untuk merehatkan sejenak kebisingan kota.
Hanum dan Hani memperhatikan dengan tatapan kekaguman akan pemandangan yang ada didepan mata mereka.
"Bunda apa kita tinggal disini?, tanya Fairuz yang bingung melihat sebuah rumah yang besar dan sangat beda jauh dengan yang ia tempati bersama bundanya.
"Untuk sementara kita tinggal disini sayang, kitakan mau liburan swpweti aunti Hani bilang", ucap Hanum pada putrinya seraya membelai lembut wajah Fairuz.
__ADS_1
Ternyata telah disambut oleh penjaga rumah ini yang dari jauh ia sudah berlari mendekati kami.
"Selamat datang nyonya, nona dan tuan putri yang cantik", Ucap lelaki tua yang ada dihadapan mereka sambil menundukkan kepalanya dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya.