
Hanum yang sedari tadi terbaring diatas kasur kini mencoba berusaha untuk membangkitkan tubuhnya yang lemah.
Ayah membantu Hanum menyandar tubuhnya dibagian kepala tempat tidur yang menempel pada diding kamar.
" Yah apakah sudah memberi tahu kabar ini pada orang tua Dika? , tanya Hanum dengan raut muka sedih.
"Sudah dan sebentar lagi orangtuanya sampai kemari", jawab Ayah.
Hanum kembali menjatuhkan bulir bening diujung matanya lalu berkata: "Aku ingin melihat kak Dika, sepatah katapun belum keluar dari mulutnya setelah kejadian ini. Tolong antarkan yah aku ingin bertemu", ungkap Hanum dengan suara pelan dan sorot mata yang memandang jauh.
Terdengar ketukan pintu dari luar. Ibu membuka dan terdengar suara tangis dari seorang wanita yang merupakan saudara kandung ibu.
Mertua Hanum adalah kakak kandung ibu. Dika adalah anak sulung dari dua bersaudara yang kebetulan laki-laki juga.
Kedua kakak beradik itu menangis melepaskan kepedihan dan kesedihan yang dirasakan sama.
"Antarkan saya bertemu Dika", ucap ayah Dika pada ayah.
__ADS_1
Ayah mengantar orangtua Dika menuju ruang ICU dan hanya ibu yang menemani Hanum dikamar. Ibu memeluk putrinya yang terdiam membisu dan hanya terlihat bulir bening yang tak berhenti menetes diparas cantik putrinya.
"Sabar ya sayang berdoalah semoga Dika cepat membuka matanya dan mampu melewati masa kritisnya", ungkap ibu dengan suara yang pelan.
Ibu berusaha memberi kekuatan pada putrinya walaupun hatinya hancur dengan keadaan yang sekarang dialaminya.
Cukup lama orangtua Dika diruang ICU. mereka berdua bergantian melihat putra mereka yang terbaring tak berdaya didalam kamar khusus tersebut.
Dika masih dalam kondisi koma dengan peralatan yang masih menempel ditubuhnya. Tak ada respon yang diberikan Dika ketika kedua orang tuanya datang. Hanya bunyi alat yang terdengar menusuk relung hati yang paling dalam.
Suster jaga meminta kembali untuk segera keluar ruangan dan membiarkan pasien untuk beristirahat.
Ayah dan kedua orangtua Dika masih berada diluar ruang ICU. Mereka seakan enggan untuk melangkah kakinya pergi dari ruang ICU tersebut. Ibu Dika tak berhentinya menangis pilu memikirkan nasib putranya.
Diruang lain Hanum mengiba pada ibunya supaya diantarkan menemui Dika. Tak kuasa ibu melihat putrinya yang mengiba untuk bertemu suaminya.
Ibu pergi menemui suster dan meminta ijin agar putrinya bisa melihat suaminya yang sedang terbaring diruang ICU. Hanum diijinkan untuk melihat Dika dengan bantuan kursi roda Hanum didorong ibu menuju ruang ICU.
__ADS_1
Terasa lama dan sangat panjng Hanum menyusuri koridor rumah sakit itu. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Hanya derai air mata yang tak terhenti.
Akhirnya ibu menghentikan kursi roda yang didorongnya. Hanum melihat disekelilingnya, terlihat mertuanya berserta ayah yang menangis bersamaan.
Untuk yang kedua kalinya Hanum melihat raut wajah ayahnya yang begitu terpukul dan terpuruk dalam kesedihan yang amat dalam.
Ibu bertanya pada kakaknya yang duduk dipojok ruangan itu : "Ada apa?
"Dika telah menghembuskan nafas terakhirnya" jawab kakak ibu dengan pilu.
Hanum hanya terdiam dan sekujur tubuhnya membeku. Ia melihat ibu dan mertuanya saling berpelukan.
"Ternyata Dika hanya bertahan sekedar menunggu kedatangan orangtuanya", besit Hanum dalam hati.
Seketika Hanum yang terdiam membisu berteriak sekencangnya dan membuat semua orang yang ada disana terkejut mendengar respon yang dikeluarkan oleh Hanum dengan mengeluarkan kata :
"Tidaaaaaak"
__ADS_1