
Mayang sibuk didapur membantu Ibunya yang sedang memasak. Cukup sederhana, sangat jauh dari kesan mewah dalam menu sarapan pagi ini.
Dadar telur bebek kalau orang luar bilangnya omlet ya, telur bebek dari peliharaan sendiri dan tumis daun singkong hasil tanaman disamping rumah.
Penuh dengan keserhanaan, tidak memetingkan urusan selera makan yang terpenting perut terisi. Menu seadanya saja sudah membuat keluarga Mayang sangat bersyukur.
"Ndok...Kamu pulang begini, apakah sudah diijinkan sama majikanmu?" Tanya wanita yang terlihat tua dari usia sebenarnya karena kerasnya kehidupan.
"Lah yooo, toh Mbook," Balas Mayang dengan tersenyum.
Mayang sangat menikmati moment berdua dengan Sang Ibu, rasa rindu kini terbayar sudah.
Terdengar suara seseorang dari luar, wajah Ibu tiba - tiba pucat. Ibu seperti mengenal suara lelaki yang memangil namanya.
"Kamu disini saja, biar Simbok yang keluar, " perintah Ibunya masih dengan wajah pucat bercampur takut.
Mayang mengikuti perintah ibunya, dia berdiam diri didapur. Tapi rasa penasaran membuat dirinya tak mengingahkan perintah Ibunya. Mayang berjalan menuju depan rumah kearah percakapan seorang lelaki dengan Ibunya tersebut.
"Mana janjimu! sudah hampir tiga bulan kau telat mengangsur hutang - hutang mu!" Teriak lelaki tua tersebut dengan sorot mata tanpa belas kasihan.
Mayang hanya melihat ibunya terdiam, hanya kata Maaf yang keluar dari mulut Ibunya.
"Mana Darso! " Teriak lelaki itu kembali dengan membentak dan menyebut nama Ayahnya.
"Kemaren menangis - nangis dihadapanku memohon agar aku meminjamkan uang! Sudah ku katakan sebelumnya mampu tidak menyicilnya! Sekarang mana janji kalian! Sudah lewat dari jatuh tempo kalian masih belum bisa menyicilnya! " Hardik lelaki itu kembali.
__ADS_1
Melihat Ibunya dibentak dan dimarahi, Mayang keluar dan meraih tangan Ibunya, untuk berdiri dari posisi duduk bersimpuh dihadapan lelaki yang tak tahu malu tersebut.
"Hentikan Pak..." Ibu ku sudah meminta maaf agar Bapak memberi kesempatan untuk mengangsur hutang tersebut. Bukan berarti kami tak mau bayar!" Ucap Mayang dengan suara keras.
Lelaki tua itu terkejut ketika Mayang tiba - tiba muncul dihadapannya.
Mata lelaki tua tersebut terpesona melihat paras cantik Mayang. Tak menyangka bahwa ada gadis muda yang memiliki paras secantik wanita dihadapanya dikampung ini.
Suara lelaki tua itu berubah menjadi pelan lalu berkata : "Dek... Maaf, orangtua mu tak menepati janjinya padaku, wajarkan kalau aku menagih janji mereka?"
Rasa mau muntah Mayang mendengar lelaki bau tanah tersebut memangilnya adek, lebih tepat dan pantasnya lelaki tua itu memangil Mayang adalah anak karena terpaut usia yang sangat jauh.
"Kang Mas tunggu dalam sebulan ini Dek, jika dalam sebulan tak bisa menepati janji maka rumah ini harus dikosongkan," jawab lelaki tua tersebut masih dengan suara lembut tapi menyakitkan hati ditambah dengan sorot mata keranjang menatap Mayang penuh dengan nafsu.
Ada maksud terselubung dibalik senyum kemenangan diwajah lelaki tua tersebut.
Ibu terduduk, wajahnya masih pucat pasi dengan tubuh gemetar. Mengingat kembali perkataan Darmin yang memberinya waktu sebulan untuk melunasi semua hutang piutangnya.
"Mbook..." Sapa Mayang dengan menyentuh pundak Ibunya.
"Bagaimana kita bisa melunasi hutang itu Ndok," balas Ibunya dengan bulir bening telah jatuh diwajahnya.
Mayangpun tak mampu menjawab pertanyaan Ibunya. Dia baru saja mendapatkan pekerjaan.
"Berapa hutang kita Mbok?" Tanya Mayang.
__ADS_1
Simbok mulai bercerita awal mula keluarganya terlilit hutang oleh rentenir bernama Darmin tersebut.
Akibat dari kepergian anak lelaki tertua dari keluarga Mayang, menyebabkan Ibu sakit - sakitan. Penyakit Ibu semakin diperparah karena Ayahnya yang semakin sulit mendapatkan pekerjaan.
Buruh panggul yang biasa dikerjakannya setiap dua hari yaitu setiap hari selasa dan jum'at dalam seminggu. Ditambah dengan bekerja diladang atau sawah majikan tak mampu menutupi biaya pengeluaran setiap bulan serta ditambah dengan pengobatan istrinya yang harus berulang kerumah sakit yang cukup jauh dari tempat tinggalnya.
Ayah terpaksa memijam uang pada Darmin tanpa memberitahu Ibu terlebih dahulu. Dengan keputusan Ayah pada saat itu, menyebabkan keluarganya kini terjerat dengan lintah darat.
"Hutang Bapakmu awal hanya 5 juta Ndok, setiap seminggu Bapak mengangsurnya selama 10 bulan. Dengan bunga 50% dari pinjaman, yang menyebabkan Bapak merasa berat apa bila ditambah dengan denda kalau kita menunggak membayarnya sebesar 25%, ujar Ibunya dengan menarik nafas panjang, kemudian melanjutkan ceritanya.
"Kini hutang Bapak menjadi lebih kurang 20 juta Ndok termasuk bunga sekaligus denda selama tiga bulan belum ditambah dengan sisa pokok pinjaman," ucap Ibunya dengan suara lirih.
"Uang yang ada ditabungan Mayang hanya ada sekitar 8 juta. Kemana harus mencari sisanya," batin Mayang.
"Mbok, aku punya tabungan hanya 8 juta, apa kita cicil saja dulu, jika nanti Pak Darmin kemari lagi," ucap Mayang pada Ibunya.
"Tapi Ndok, bukannya itu mau digunakan untuk uang daftar kuliah mu? Sudah setiap bulan kau sisakan dari gajimu mengirim uang belanjaan untuk Simbok. Kini uang itu malah digunakan pula untuk membayar hutang kami," balas ibunya dengan wajah sedih.
"Biarlah Mbok, ku tunda niat kuliah. Kuliahkan bisa kapan saja, ini lebih penting," jawab Mayang dengan mata berkaca - kaca.
Akhirnya kedua anak beranak tersebut saling berpelukan dan larut dalam kesedihan yang mendalam.
###
Mohon dukunganya ya Reader dengan tekan tanda ❤ biar tambah mesrah 😍😍 Trus jangan lupa jempol manis, plizz bintang 5 nya dan votenya biar tanbah semangat authornya
__ADS_1