
Sudah terlihat perubahan pada tubuh Hanum. Terutama dibagian perut yang sudah terlihat membesar. Begitu juga nafsu makan Hanum yang sudah mulai membaik walau ada makanan tertentu yang membuatnya mual dan muntah pada saat mencium aromanya saja.
Tak ada sedikit pun perasaan marah dan benci akan kehadiran janin didalam kandungan. Apalagi sampai berniat untuk membuangnya dari rahim. Hanum percaya bahwa anak adalah sebuah anugerah baik ia hadir dalam kondisi yang tak diharapkan.
Dielus lembut perutnya yang kian membesar itu seraya berkata: " Kamu tak bersalah dan aku tak akan membencimu walau kehadiran mu tanpa ku harapkan. Walau banyak rintangan aku akan melahirkan dan membesarkan mu ", ucap lirih Hanum.
Ibu mendengar apa yang Hanum katakan tanpa disadari bulir putih jatuh dipipinya. Begitu tegar dirimu menghadapi cobaan ini putriku. "Aku bangga talah melahirkan mu nak", besit ibu dalam hati.
Ibu mendekati Hanum dan ikut menyentuh perut putrinya. " Akan ada banyak yang menyayangi mu dan jangan buat ibumu bersedih", ucap ibu dengan nada lembut dan mata yang berkaca.
Hanum memeluk erat wanita yang telah melahirkannya dan mereka berdua hanyut dalam perasaan masing-masing.
Hani dan Nina masuk kekamar Hanum dengan membawa wajah muram. Kedua kakak beradik itu terlihat sangat sedih bercampur amarah.
__ADS_1
"Eiit putri ibu kenapa begitu mukanya?, ledek ibu.
" Kami ga terima kalau kak Hanum menjadi pembicaraan yang hangat sekampung. Apalagi yang dibicarakan mereka ga bener", ujar Hani.
"Sok tahu mereka, sibuk dengan kehidupan orang lain. Ingin rasanya Nina remas mulut mereka kalau tak dicegah dengan kak Hani", gerutu Nina dengan nada kesal.
Nina menceritakan apa yang didengarnya bersama kakaknya. Berita kehilangan Hanum yang pernah dimuat media masa pada saat itu terbaca oleh tetangga.
Mereka bergunjing bahwa Hanum yang jarang keluar rumah bahkan tidak lagi mengajar karena menutup aibnya. Ia sengaja pergi bersama kekasihnya dan sekarang pulang dalam keadaan berbadan dua.
Itulah cerita yang berkembang dikampung. Dari mulut kemulut berita itu menyebar bak virus yng menyebar dengan cepat tnpa mengetahui kebenarannya.
Begitu terpukul Hanum mendengar apa yang diceritakan Nina. Seperti gadis yang tak memiliki harga diri.
__ADS_1
Tangis pun pecah serentak dan tidak bisa mengendalikan kesedihan yang mereka rasakan.
Ayah melihat keluarga yang dicintainya menangis bersama membuat Ia terduduk lemas dan tak bisa mengeluarkan kata sepatah pun. Hanya membisu seribu bahasa dengan gurat kesedihan yang mendalam.
" Begitu kejam mereka menilai putri kesayangan ku seburuk itu", ujar ayah dengan amarah.
Ayah bertekad untuk segera mempercepat pernikahan Hanum dengan Galang untuk menepis semua rumor yang beredar.
Dimata warga keluarga ayah sudah dipandang rendah dengan berkembang nya cerita yang baru disampaikan putrinya.
Memiliki anak perempuan yang terpelajar tapi berkepribadian buruk. Pada hal mereka tidak tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Tetapi sudah berani menghakimi yang tidak ada dasarnya sama sekali.
Akhirnya ayah mengeluarkan katanya yang terlihat sangat berat menahan perasaan yang bercampur aduk.
__ADS_1
" Mengapa jadi begini nasib putri sulungnya. Ya Allah bantulah kami dan berikan kekuatan kepada kami agar mampu menjalankan apa yang telah engkau gariskan buat keluarga ku", ucap ayah seraya mengangkat kedua tangannya dengan wajah menengadah.
" Amin", diucap serentak oleh istri dan ketiga putrinya.