
Lima tahun berlalu Hanum bertahan dengan kesendirian. Tinggal dirumah pemberian almarhum suaminya. Dengan uang tabungan peninggalan almarhum suami, Hanum membesarkan putri kecilnya.
Untuk menghemat pengeluaran bulanan Hanum membatu bude dalam usaha catring. Dari sana untuk masalah perut sudah dapat teratasi.
Akan tetapi semua tidaklah sebatas urusan perut, Hanum memikirkan bagaimana ia mendapatkan penghasilan lebih. Uang tabungan nya pun semakin berkurang.
Bude sudah merasa Fairuz adalah cucunya sendiri. Putrinya mendapat banyak kasih sayang yang besar pada keluarga bude.
Putrinya tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan cinta dan kasih sayang.
Bram selalu bertemu putrinya itu tapi tidak sebagai ayah dari Fairuz. Putrinya hanya mengenal bahwa Bram adalah teman dari ayahnya yaitu Dika.
Putrinya hanya tahu bahwa Dika adalah ayah kandungnya. Bram merasa keberatan pada saat Hanum meminta hal itu. Akhirnya Bram mengikuti saja karena ancaman Hanum akan memisahkan ia dengan putrinya.
Hanum lakukan itu karena rasa takut kehilangan putrinya jika Bram secara legal mengesahkan putrinya dan mengambil paksa darinya.
__ADS_1
Rasa trauma yang ada dihati Hanum masih ada sampai saat ini. Walau rasa benci itu mulai berkurang melihat ketulusan Bram dalam menebus dosanya dimasa yang lalu.
"Saya akan mentransfer uang setiap bulan, buat keperluan mu dan Fairuz",ucap Bram dengan mata memohon agar Hanum mau menerima keputusan.
Bram menepati janjinya ia mengirim uang yang tidak sedikit buat Hanum dan putrinya. Uang pemberian Bram selalu disimpan dan tak pernah digunakan sedikitpun oleh Hanum.
Hanum hanya tidak mau menolaknya saja, keputusan yang Bram lakukan demi putrinya. Ia tak ingin mengambil kesempatan dari Bram yang kaya untuk membiayai semua keperluan hidupnya.
"Saya harus mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan yang saya punya", besit Hanum dalam hati.
Hari ini adalah hari ketiga ia melamar pada beberapa sekolah yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Ia pesimis ketika sekolah yang ia datangin selalu menolaknya jika ia bekerja dengan membawa putri kecilnya.
Dengan alasan jika membawa anak akan tidak fokus dalam bekerja. Memang sekolah yang didatangi Hanum adalah sekolah swasta yang menginginkan lebih disetiap aturan dan fasilitas sekolahnya termasuk juga pengajarnya.
Hanum dengan lunglai melangkahkan kakinya yang letih sedari tadi berjalan. Ia mencoba mengistirahatkan kakinya pada sebuah bangku panjang didepan sebuah panti asuhan.
__ADS_1
Tempat yang hanum duduk sekarang adalah pos penjaga dari panti tersebut. Tanpa disadari datang pak satpam yang muncul dari belakang Hanum duduk.
"Ada perlu apa bu?, tegur pak satpam dengan ramah.
Hanun terkejut ada suara yang mengajaknya berbicara secara tiba-tiba. Kemudian ia menoleh kearah suara yang didengarnya.
"Oh maaf pak, saya hanya numpang istirahat disini. Tadi tidak ada orang dipos jadi saya tak bisa minta izin tuk duduk disini", ungkap Hanum seraya tersenyum.
"Oh begitu, ibu habis cari pekerjaan ya?, tanya pak satpam dengan penasaran melihat Hanum memegang map lamaran.
"Ya pak, tapi belum ada yang mau menerima saya", ucap Hanum dengan mata sedih.
Pak satpam ikut merasakan kesedihan yang Hanum rasakan. Hanum menceritakan bahwa belum ada yang menerimanya untuk menjadi pengajar disekolah dengan berbagai alasan.
"Bu disini kekurangan tenaga, coba ibu bertemu dengan kepala panti mana tahu ada pekerjaan yang cocok dengan bidang ibu", ucap pak satpam seraya mengajak Hanum untuk masuk kedalam panti.
__ADS_1