
Hampir sepekan Hanum dirumah sakit, walaupun melahirkan secara normal. Luka robek yang teramat panjang hingga mengharuskan Hanum lebih lama dirumah sakit. Walau teori telah dipelajari namun pada saat dihari persalinan semua teori terlupakan.
Hanum refleks mengangkat pantatnya pada saat proses persalinan sehingga mengharuskan dirinya memakai selang kecil agar proses pembuangan air seni melalui selang, sehingga luka robek tersebut cepat mengering.
Luka robek yang diderita Hanum cukup panjang sampai mendekati daerah anus sehingga dokter menyarankan dirinya jika ingin melahirkan untuk yang ketiga kalinya harus Caesar. Dokter khawatir jika melahirkan secara normal maka akan berakibat pada luka robek yang lama menjadi lebih panjang.
Hanum mengeryitkan dahinya mendengar penjelasan dokter. Brampun merasakan hal yang sama, tak sanggup melihat Hanum kembali merasakan proses persalinannya yang panjang dan lama.
"Terima kasih penjelasannya Dok..." Ucap Bram seraya tersenyum.
"Sama - sama Tuan, hari ini Nyonya sudah bisa pulang kerumah," ujar dokter membalas senyum Bram.
Semua telah dipersiapkan untuk kepulangan Hanum dari rumah sakit. Sebuah pesta keluarga telah disiapkan oleh mertuanya. Hanum tidak langsung kembali kerumah melainkan tinggal beberapa hari dirumah besar.
Itu semua atas permintaaan mertuanya agar sepulang dari rumah sakit Hanum beserta keluarganya tinggal dirumah orangtua Bram untuk sementara waktu.
Rasa bahagia dikedua orangtua Bram terlihat jelas sehingga tak ingin cepat berpisah dengan cucu laki - laki penerus keluarga mereka.
"Mbak saya sama ayahnya Hanum pamit ya...Saya serahkan Hanum pada mbak, saya tak bisa terlalu lama meninggalkan anak gadis bungsu saya dikampung. Apalagi sekarang dia sedang ujian akhir nasional," ungkap ibu dengan rasa bersalah telah menolak ajakan besan.
"Jangan merasa bersalah begitu Dek...Akan ada waktu dilain hari untuk kita bisa berkumpul bersama lagi," balas mama Bram.
Ibu Hanum tersenyum seraya menganggukan kepala pertanda dia mengerti akan pengertian mama Bram.
***
Dilobi rumah sakit telah siap sopir pribadinya, yang sedari tadi menunggu majikannya. Bram meminta sopir pribadinya untuk naik kelantai 3 guna membantu mengangkat barang.
"Pak tolong bantu angkat barang disini," ujar Bram pada saat menelpon sopir pribadinya.
Dengan sigap sopir tersebut keluar dari mobil menuju lantai 3 tempat dimana Hanum berada.
"Tuan... Mana barang yang akan diturunkan? Ujar sopir pribadi Bram.
Bram memberi petunjuk semua barang yang akan dibawa oleh sopir tersebut. Hanum dipapah oleh Bram menuju kursi roda dan putra kecilnya digendong oleh mamanya.
"Sayang pelan - pelan," ucap Bram ketika Hanum berusaha duduk dikursi roda.
Hanum tersenyum mendengar perkataan suaminya. Bram tampil menjadi sosok suami yang sempurna dimata Hanum.
"Tuhan Maha Tahu pada siapa aku bertemu, " batin Hanum seraya menatap dalam wajah suaminya.
"Terima kasih sayang..." Balas Hanum dengan senyum menghiasi paras cantiknya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sopir pribadi sesekali melirik dispion tegah melihat Tuannya yang tak habisnya memperhatikan istrinya.
"Tak pernah ku lihat wajah Tuan sebahagia ini, kehadiran Nyonya Hanum membawa perubahan besar didalam kehidupan Tuan," batin sopir pribadi Bram dengan tersenyum tipis.
Flashback On
Pagi itu seperti biasa majikannya keluar dari rumah besar. Tanpa senyum dengan tatapan mata datar. Tak ada sedikitpun ekspresi wajah santai, yang ada hanya wajah penuh keseriusan.
Bram selalu berkutet dengan lembaran - lembaran kertas yang selalu ada ditangannya. Walaupun didalam mobil sekalipun Bram masih melakukan pekerjaan kantornya.
__ADS_1
Hari - hari Bram dihabiskan dengan kerja, kerja dan kerja. Terkadang tak jarang sopir pribadinya selalu membangunkan dirinya yang tertidur masih dengan menggunakan baju kantor diruang kerjanya.
Tak ada cinta dimata Bram tak ada terbesit sedikitpun mengenai kebahagian. Hidupnya penuh dengan rutinitas kerja dan tuntutan dalam membangun perusahan menjadi lebih berkembang.
Diusia muda Bram telah menghabiskan masanya dengan berpikir bagaimana cara mengembangkan perusahaan dan memberikan perubahan yang besar terhadap perusahaan yang telah didirikan oleh kakeknya.
Tanggung jawab itu jatuh ditangannya sebagai putra pertama dan cucu pertama dalam keluarga Atmajha.
Walaupun harta berlimpah namun, sesekali Bram merasakan dirinya kosong dan hampa. Melalui tatapan dimatanya terlihat oleh sopir pribadinya yang setiap hari menemani Bram kemanapun pergi.
Flashback Off
"Tak ada satupun wanita yang mampu mengusik hatinya, terkecuali nyonya Hanum," gumam sopir pribadi Bram.
"Tragedi yang tragis memberikan sebuah kebahagian yang manis didalam hidup mereka berdua," ucap lirih sopir pribadi Bram.
"Ada pak?" Tanya Bram ketika sayup mendengar sopirnya berbicara.
Sopir pribadinya tersentak setelah mendengar Bram berbicara padanya. Dirinya menjadi gugup khawatir majikannya mendengar apa yang barusan diucapkannya.
"Apa Tuan mendengar perkataan ku barusan ya," batin dirinya.
Emm...
"Ga da apa - apa Tuan, selamat ya Tuan atas kelahiran putranya, " ujar sopir pribadi Bram berusaha mengendalikan kegugupanya.
"Terima kasih, Pak." Balas Bram.
Hanum telah tertidur dipundak Bram, dengan lembut tangannya membelai rambut istrinya.
Mobil berhenti dan Hanum masih belum terbangun dari tidurnya. Bram menggedong tubuh istrinya lalu membaringkan tubuh istrinya diatas kasur.
Hanum terlihat lelah sekali, sehingga pada saat Bram mengangkat tubuhnya, dirinya tak terbangun juga.
"Biarkan dirinya istirahat Bram," ujar mamanya yang berada disampingnya seraya menggedong putra kecilnya yang juga terlelap digendongan Omanya.
"Ya, Ma." Sahut Bram.
Sebuah box bayi telah tersedia disamping tempat tidur Hanum, sepertinya orangtuanya telah menyiapkan sebuah kamar khusus untuk Hanum bersama putranya.
Kamar tersebut terlihat lengkap sekali sesuai dengan kamar tidur bayi. Ternyata sebulan kelahiran cucunya papa Bram telah membuat rencana menyulap sebuah kamar tamu menjadi kamar khusus menyambut cucu laki -lakinya.
"Sejak kapan ada kamar ini Ma?" Tanya Bram penasaran karena baru pertama kali dirinya mengetahui ada kamar bayi dirumah besar ini.
Mamanya tersenyum setelah dengan perlahan dan sangat hati - hati membaringkan tubuh mungil cucunya ketempat tidur khusus dan menutup dengan tirai tipis yang transfaran berwarna biru muda agar terhidar dari serangga.
"Itu ide dari papa mu Bram dan mama juga menyukai ide beliau," ucap mama seraya membelai lembut lengan Bram.
"Beristirahatlah Bram, selagi mereka berdua tertidur, ku lihat kau juga berjaga sepanjang malam," Ujar mama kembali.
Mama Bram pergi meninggalkan Bram yang masih berada dikamar tersebut. Bram menatap Hanum yang masih tertidur, dirinya mendekat dan duduk disamping tubuh Hanum yang terlelap.
Dibelai lembut rambut yang sedikit menutupi wajah istrinya. Tatapan penuh cinta terpancar disorot mata lelaki tersebut.
__ADS_1
Tak bisa Bram mengutarakan rasa bahagianya saat ini. Memiliki sebuah keluarga yang lengkap dan diberikan buah hati yang melengkapi kebahagiaannya.
"Terima kasih telah hadir dikehidupan ku sayang..." ucap Bram seraya mencium lembut dahi istrinya yang tertidur.
****
Sinar senja beranjak menghilang dan berganti dengan kerlipnya bintang yang bertaburan dilangit malam ini. Rembulan serasa tak ingin kalah, berusaha mengeluarkan sinarnya yang terang dilangit.
Semilir angin malam menembus kulit Bram yang sedang berdiri disebuah balkon dilantai dua. Bram menikmati suasan malam ini, dengan senyum diwajahnya menatap langit.
Hanum berjalan mendekati suaminya yang tanpa disadari oleh Bram yang tengah asik menatap langit malam ini. Dipeluknya tubuh suaminya dari belakang, serta mencium lembut punggung suaminya.
Tangan Hanum yang melingkar dipinggang Bram seakan memberikan dekapan yang hangat ditubuh Bram malam ini.
"Aku mencintai mu sayang... Terima kasih telah sabar memberikan ruang untuk ku. Menerima segala yang menjadi kelemahan dan kekuranganku. Terima kasih telah hadir didalam kehidupanku...Aku mencintai mu dengan segenap rasa didalam relung hatiku." Ungkap Hanum seraya menitikkan bulir bening diujung matanya.
Bram membalikkan tubuhnya, sekarang tubuh mereka berdua saling berhadapan sangat dekat. Dengan lembut Bram menyeka bulir bening yang membasahi wajah istrinya.
Hanum tak pernah mengutarakan isi hatinya sebelumnya, saat inilah dirinya mengeluarkan semua rasa yang ada didalam hatinya terhadap Bram yang kini sangat berarti bagi dirinya.
Setelah mendengar perkataan istrinya dan mengetahui yang sebenarnya mengenai rasa yang ada didalam hati Hanum, membuat Bram begitu bahagia.
Mencium dahi lalu bibir merah istrinya dengan lembut dan mesra. Bram tersenyum seraya berkata : "Akulah yang berterima kasih pada Tuhan, telah mempertemukan diriku dengan dirimu sayang....Hadir didalam kehidupanku, memberikan warna didalam kehidupanku yang hampa. Dirimu bagai sebuah anugerah yang dikirim oleh Tuhan, aku telah jatuh cintai pada dirimu dimulai dari awal kita bertemu."
To be continue....
πDia Bukan Suami Ku Seasons 2 π
###
ππ Besar harapan Author agar para Reader tidak hanya membaca tetapi juga menghargai hasil karya tulisan Author dengan cara:
πBoom like sehabis bacaπππ
πKomentar yang membangun atau memberi semangat disetiap episode nya π
πRate bintang β5 dengan menglik dipojok bagian kanan atas bergambar π
π vote sebanyak banyaknya kalau bisa jangan hanya 10 tapi 1000 ya π dengan mengklik dibagian pojok atas sebelah kanan bertulis VOTE.
β€Trus beri tanda hati setelah kalian membaca, biar kita tambah mesra ya Reader tercinta... ππ
Bergabung digroup chat Author yup π©
Author tunggu ya...ππ
Reader setia baik yang baru nimbrung atau yang dah berakar dihatinya Babang tamvaaan Bram dan SiMbak Hanumnya ππ
Kita lanjut Kisah Cinta ππ
πMayang π Galang
πHani π Brian
__ADS_1
πSalam Hangat Lemb@yung π