
Cuaca hari ini kurang bersahabat terlihat langit gelap dan angin bertiup cukup kencang. Mentari tak terlihat sinarnya tertutup awan mendung yang menyelimuti.
"Bakal turun hujan deras ni", besit Hani dihati
Hani mempercepat langkah kakinya agar cepat sampai pada halte bus diseberang jalan dekat dengan kampusnya.
Angin bertiup kencang sehingga matanya perih akibat debu yang berterbangan masuk kedalam mata. Hani berjalan sedikit berlari menuju halte bus karena rintik hujan sudah terasa jatuh menerpanya.
Akhirnya hujan turun dengan deras dan Hani terjebak dihalte bus. Pakaiannya basah dan merasakan dingin disekujur tubuhnya. Angin yang bertiupan kencang menambah tubuh Hani menggigil.
Bus yang ditunggu tak kunjung tiba hanya lalu lalang mobil pribadi yang memacu kencang kendaraannya. Hani sudah merasakan tangannya membeku.
Dilirik arloji ditanganya jarum jam tepat pada angka lima sore. "Kak Hanum bakal khawatir aku pulang telat ni", besit Hani dalam hati.
Hujan turun semakin deras terlihat saluran air yang buntu menyebabkan air menggenang tinggi di trotoar jalan. Hani semakin cemas jika hujan ini lama berhenti dan ia terjebak lama disini.
__ADS_1
Diliriknya kembali arloji jarum jam tepat pada angka setengah enam sore. Suasana semakin gelap dan tak terlihat kendaraan berlalu lalang seperti setengah jam yang lalu.
Sebuah mobil pribadi berhenti dan cukup lama berada tepat dihalte bus. Keluar seorang lelaki yang membuka payung dan berjalan menuju Hani.
Hani tak dapat melihat dengan jelas siapa lelaki yang mendekat kearahnya karena tertutup payung yang sedang dipegang.
"Mari saya antar, hujan akan lama berhenti dan akan semakin deras. Jika menunggu bus maka akan memakan waktu lama", ucap Brian setelah menutup payung yang dipakainya.
Hani terkejut melihat laki-laki yang berada dihadapannya.
"Brian!, kenapa kamu ada disini? , tanya Hani penasaran.
Brian selalu datang bersama keluarga Bram baik pada saat itu dirumah maupun dirumah sakit ia hanya menunggu diluar ruangan.
"Ayo lah ikut kamu sudah kedinginan ntar sakit, ucap Brian meyakinkan untuk ikut dengannya.
__ADS_1
Hani mengikuti saran Brian karena rasa dingin di sekujur tubuhnya tak tertahankan lagi. Brian melepaskan jasnya dan memberikan ke Hani agar lebih hangat.
"Terima kasih", ucap Hani seraya menahan gemetar dibibirnya.
Mobil melaju kencang menembus derasnya hujan. Jalan raya tak terlihat lagi aspal hitamnya. Hanya ada warna putih karena terpaan hujan yang jatuh diaspal yang sangat deras.
"Brian, kenapa kamu ada disini?, ucap Hani.
"Biasa urusan kantor menggantikan Bram yang sedang diluar negeri untuk urusan yang tak bisa ditunda", jawabnya.
Sepanjang perjalanan menuju kerumah Brian mencari info tentang Hanum melalui adiknya.
"Menurut mu akan adakah kesempatan buat Bram untuk mengisi hati kk mu Han?, tanya Brian dengan nada penasaran.
Hani menceritakan kondisi kk nya pada Brian tanpa ada yang ditutupi. Entah mengapa Hani percaya saja padanya padahal lelaki disampingnya itu adalah sahabat dekat Bram. Lelaki yang telah merusak kehidupan kk nya.
__ADS_1
"Setiap malam kak Hanum selalu terjaga karena mimpi buruk yang selalu menghantuinya, bahkan ia bisa saja berteriak jika kita tiba-tiba membangunkannya dengan cara menyentuh tubuhnya", ungkap Hani dengan suara lirih dan menarik nafas yang panjang lalu melanjutkan ceritanya.
"Kak Hanum masih mencintai kak Galang, terlihat dari sikapnya pada saat orangtua dan istri kak Galang yang tanpa sengaja bertemu disebuah mall. Terlihat dimata kak Hanum bahwa hatinya terluka mendengar Galang sudah menikah", ucap Hani dengan nada sedih membayangkan wajah kk nya.