
Tak ada kata yang dapat diucapkan Mayang selain tangis yang semakin kencang. Dengan gontai dia langkahkan kaki menyusuri jalan menuju halte bus.
Masih terngiang ditelinganya dengan jelas bahwa atasanya tak memberikan solusi yang berarti akan masalah yang dihadapinya sekarang.
Satu hal yang pasti, atasan memintanya untuk berhenti bekerja, dengan alasan tak ingin membuat kisruh akibat gosif yang beredar sehingga membuat performa kerja karyawan tak maksimal.
Mayang tak kuasa untuk menghadapi celotehan rekan sekantor yang pastinya akan melontarkan hal - hal negatif atas perubahan fisik yang terjadi pada dirinya.
"Aku harus kemana? Sedangkan uang tabungan ku sudah mulai menipis," batin Mayang seraya menghapus bulir bening yang membasahi pipinya.
Bus yang ditunggu akhirnya tiba, tak membutuhkan waktu lama lebih kurang 10 menit sudah tepat berada dihadapan Mayang yang terduduk dibangku halte bus tersebut.
Hujan rintik - rintik menyertai mendungnya hatinya saat ini, pandangan kosong menatap kendaraan yang berlalu lalang sore itu.
"Apa yang harus ku lakukan? Apakah harus pulang kampung dengan kondisi perut membuncit begini? " batinnya menjerit.
Mobil bus melaju membawa raganya namun tidak jiwanya yang tetap berkutat pada masalahnya yang kian hari memburuk, tak kuasa hatinya jika harus berlarut - larut seperti itu.
__ADS_1
"May.. Maafkan saya tak bisa membatu kamu, penjelasan kamu hari ini sudah cukup , namun saya tidak bisa untuk mempertahankan kamu ada diperusahaan ini," perkataan atasannya yang terlintas kembali ditelinga dan hatinya.
"Aku takkan mampu tetap hidup dikota besar ini...Sudah ku putuskan aku akan kembali walau dengan cacian dan makian warga desa terhadapku," ucapnya.
Bus berhenti pada halte berikutnya, Mayangpun turun dari bus tersebut dan berjalan gontai menuju lorong dan menyusuri setapak kecil ditemani lampu jalan dan rumah yang berjarak berdekatan satu sama lain.
Dibukanya pintu kontrakan itu dengan wajah sendu menatap sekeliling ruangan tersebut. Mayang langsung masuk kedalam kamar lalu mengemas pakaiannya.
Tak membutuhkan waktu lama, lantaran barang yang dimiliki Mayang tak begitu banyak, dalam waktu sekejab semua barangnya telah masuk kedalam tas dan box yang telah disiapkan.
"Baiklah, aku akan pulang kampung saja," ucapnya lirih.
Dreeet...Dreeet...Dreeet...
Lamunannya terbuyar setelah mendengar suara getar ponselnya yang tersimpan didalam saku.
"Benar, jalan cemara no 3 pak, " ucap Mayang setelah menerima panggilan yang barusan saja ditutupnya.
__ADS_1
Setelah panggilan itu dimatikannya, Mayang bergegas untuk mengangkat tas dan box yang telah terletak disudut ruangan.
Dengan langkah kaki yang pelan, disusurinya jalan setapak pada suatu gang yang sempit itu. Terlihat olehnya sebuah mobil diujung jalan telah menunggu kedatangannya.
Seorang lelaki dengan separuh berlari menghampiri dirinya, lelaki tersebut dengan sigap mengambil box dan tas yang dibawa oleh Mayang.
"Neng... Apakah hanya ini barangnya? " ucap lelaki tua tersebut.
"Ya pak..." Balas Mayang seraya tersenyum.
Lelaki tua tersebut kembali dengan sigap memasukan barang bawaannya kedalam bagasi mobil. Mayang telah sampai didepan mobil yang tadinya terlihat jauh dari ujung gang.
Dibukanya pintu depan disamping sopir. Mayang melirik kebangku belakang ternyata hanya dua orang penumpang yang mengisi malam itu.
Ada perasaan cemas menggelayut dihati Mayang, betapa tidak dua orang penumpang yang lainnya itu adalah lelaki, hanya dirinya sendiri yang wanita didalam perjalanan yang akan teramat panjang.
Mobil berjalan dengan kecepatan kencang, membawa segala gundah gulana dihati Mayang. Tak dapat dipikirkannya ketika dirinya sampai kekampung dengan keadaan janin yang bersemayam didalam rahimnya.
__ADS_1