
Awan mendung menyelimuti sore ini sama dengan hati dan perasaan yang ada di setiap orang yang terduduk lemah di koridor rumah sakit.
Ayah sangat terpukul dan tak berbeda jauh dengan ibu yang sempat beberapa kali tak sadarkan diri karena kecelakaan yang menimpa putrinya itu.
Semua hanyut pada kesedihan yang mendalam, diam seribu bahasa...
Putri kecilnya telah tiba bersama pengasuhnya sore ini. Ada gurat kesedihan diwajah gadis kecil itu. Seakan mengerti akan keadaan yang menimpa auntinya yang paling dekat dengan dirinya.
"Bu, Hani ingin bertemu dengan ibu," suara pelan Brian menyampaikan pesan dari gadis yang sedang terbaring didalam ruang ICU tersebut.
Ibu melangkah dengan kaki gemetar, berusaha kuat didepan mata putrinya itu.
Ayah mengikuti langkah ibu disamping, berusaha berjaga-jaga jika istrinya pingsan karena tak kuat melihat putrinya dalam kondisi tersebut.
"Ibu." Suara pelan putrinya memandang dirinya yang mendekat ketempat tidurnya.
Bulir bening yang berusaha ditahan oleh ibu tak terbendung diujung matanya. Gurat Kesedihan sangat terlihat diwajah wanita paruh baya itu.
Dibelai lembut wajah yang pucat dengan tangannya. Berusaha memberikan kekuatan pada putrinya yang sedang terbaring itu.
__ADS_1
"Bu, maafkan Hani tak pandai menjaga diri sehingga menyusahkan ibu dan ayah," suara pelan itu terdengar sangat menusuk hati ibu membuatnya tak berkata-kata hanya ada bulir bening yang selalu jatuh dipipinya.
"Anakku...Bersabarlah dengan ujian ini. Ada keluarga mu yang tak pernah meninggalkan mu. Berusahalah untuk bangkit dan sembuh," dengan suara tersedat-sedat ibu mengatakan pada putrinya itu dan berusaha tersenyum menatap wajah Hani.
Hani hanya menganggukkan kepala pertanda setuju dengan yang dikatakan ibunya dan mencoba tersenyum diwajahnya yang pucat.
Sudah satu pekan Hani dirawat dirumah sakit, dokter menyarankan untuk segera memberikan perawatan yang lebih dari rumah sakit tersebut.
"Yah...Saya akan membawa Hani berobat kenegeri tetangga agar mendapatkan pengobatan yang lebih dan kesembuhan yang cepat. Brian akan mengaturnya, ayah dan ibu tak perlu khawatir masalah biaya," ucapan Bram merupakan angin segar bagi keluarga Hanum akan suatu harapan baru buat putri mereka.
"Baiklah nak Bram, kami mengikut saja mana yang terbaik buat putri kami," ungkap ayah dengan sorot mata berbinar memandang wajah menantunya itu.
"Terima kasih nak Bram, bagaimana nasib putri ku jika ia harus terbaring seumur hidup tak ada seorang pun yang mau menjadikannya istri,"ucap lirih ibu dengan rasa penuh putus asa.
"Aku akan menikahinya bu dan akan mengurusnya selama pengobatanya diluar sana," perkataan tiba-tiba Brian membuat terkejut semua orang yang mendengarkannya.
Semua orang menatap kearah Brian dengan pandangan serius terutama sahabatnya itu.
"Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan? Perkataan Bram memastikan dengan apa yang baru saja didengarnya seraya menatap sahabatnya itu dengan kesungguhan.
__ADS_1
"Itu jika ayah dan ibu memberikan restu, sebelum keberangkatan keluar negeri aku akan menikahinya," Dengan tatapan kesungguhan Brian memandang kedua orangtua Hani.
Ayah dan ibu masih histeris mendengar perkataan lelaki yang ada dihadapan mereka. Rasa tak percaya ada seorang lelaki yang belum begitu lama dikenal mau berkorban sebegitu besar pada putrinya.
"Kita tanyakan Hani, dan nak Brian jika itu memang kesungguhan hatimu terhadap putri ku maka yakinkanlah dia untuk mau menerima keputusan mu itu," ucap ayah pada lelaki dihadapannya dengan mata penuh harap Hani mau menerima niat baik Brian.
###
Like 👍👍
Komen 📩
Rate bintang 5🌟🌟🌟🌟🌟
Tanda hati sebagai tulisan favorite ❤❤❤
Votenya sebanyak banyaknya 📢📢📢
Terima Kasih...🙏🙏
__ADS_1
Salam Hangat Lemb@gung