
Dika memandang wajah adik sepupunya itu dengan tatapan yang sangat sedih. Sesak didada Dika tidak hanya Hanum yang merasakan.
Mendengar apa yang dikatakan oleh orangtua Galang. Seorang ibu bisa tega menyarankan seorang wanita membunuh bayinya sendiri.
"Akhirnya ia tertidur." Besit Dika dalam hati.
Digendongnya Hanum masuk kedalam rumah dan dibaringkannya Hanum ditempat tidurnya dengan perlahan agar tak membuat Hanum terbagun.
Ibu tersenyum melihat Dika memperlakukan putrinya begitu baik. Hanum mempunyai kakak lelaki yang sangat menyayangi walaupun bukan kakak kandung.
Dika langsung pamit untuk pulang setelah bertemu dengan ibu. Tak ada rasa lelah dan putus asa untuk membuat Hanum tersenyum dan ceria kembali. Dika memang tak habis ide untuk mencairkan suasana hati yang sedih menjadi gembira.
***
"Maaf Pak ada yang bisa dibantu?, tanya penjaga pos pada Dika."
"Saya ingin bertemu Pak Galang," ucap Dika pada penjaga pos.
"Apa bapak sudah membuat janji sebelumnya?, tanya penjaga pos kembali."
__ADS_1
"Katakan saja, saya Dika sepupunya Hanum," ucap Dika sedikit kesal.
"Baiklah... Tunggu sebentar Pak biar saya konfirmasi dulu kedalam. Bapak tunggu saja disini," ujar penjaga pos kembali.
Setelah beberapa menit penjaga pos pun terlihat menghampirinya seraya berkata: "Mari ikut saya pak," ujar penjaga pos sambil menuju ruangan yang dimaksudnya.
Dengan rasa sakit yang menusuk didada, Dika berusaha mencoba untuk menahan amarahnya ketika bertemu dengan Galang. ia ingin meminta klarifikasi kedatangan mamanya yang tiba - tiba kekeluarga Hanum.
"Hy ada apa kesini?, sapa Galang dengan senyum dan ramah."
"Tak usah basa basi langsung saja," ucap Dika dengan keras.
Pertemuan orang tuanya dengan Hanum. Itu semua membuat Hanum semakin terpuruk. Dika mengatakan bahwa : "Tidak pernah ia melihat Hanum sedemikian sedih dan hancurnya mendengar perkataan orang tua mu."
Tangan Galang menggenggam erat seakan menahan amarah yang ada dihatinya. Dia tak menyangka kasih sayang mama yang berlebihan terhadap nya membuat mama kehilangan hati nurani.
"Terima kasih atas informasi yang engkau berikan padaku," ucap Galang dengan mata sedih.
"Aku akan segera menikah dengan Hanum jangan khawatir soal itu," ucap Galang dengan kesungguhan.
__ADS_1
" Baiklah aku pegang janjimu," jawab Dika dengan tegas. Lalu pergi meninggalkan kantor Galang.
***
Setibanya dirumah Galang segera mencari mamanya. Terlihat perempuan yang melahirkannya lagi asik berada dikebun belakang. Tanpa pikir panjang Galang segera menghampirinya.
"Bu apa maksudnya bertemu Hanum dibelakang ku?, ungkap Galang dengan nada tinggi."
"Apa maksudnya?, ibu menjawab berpura-pura tidak tahu."
"Setuju atau tidak aku akan tetap menikahinya secepatnya. Aku tak menyangka kalau ibu tak punya hati dan aku sangat kecewa," ucap Galang sambil menatap wajah ibunya dan berlalu begitu saja.
"Ia tatap punggung putranya yang berlalu dihadapannya. Ia tak pernah melihat Galang semarah itu. Putraku memang benar sangat jatuh hati pada gadis itu." batin ibu dengan wajah sedih menatap kepergian putranya.
"Baiklah kalau begitu aku kan berusaha menjaga kehormatan dan keluarga ku," besit hatinya.
Entah mengapa sikap wanita itu berubah setelah mendengar peristiwa kelam yang dialami Hanum. Tidak ada rasa iba dihati mama melihat nasib gadis yang dulu sangat diinginkannya menjadi menantu.
Rasa sayang yang diberikannya kepada Hanum sekarang semuanya menghilang, hanya terbawa harga diri dan keegoisanya.
__ADS_1