Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 129 Amarah ibunya Galang


__ADS_3

Sudah sepekan mengurung dirinya dikamar, tubuhnya tak terurus lagi. Paras wajahnya yang pucat karena setiap malam tak dapat memejamkan matanya.


Mertuanya menjadi risau, melihat menantunya yang menyiksa dirinya sendiri. Terlihat sekali keterpurukan Intan dimata mertuanya itu.


"Bagaimana kalau kita pergi keluar, trus belanja?, bujuk ibu pada menantunya yang masih berdiam diri didalam kamar.


Mata yang sembab dikarena terlalu lama menangis dan gurat wajah yang penuh dengan kesedihan.


Intan menggelengkan kepala pertanda bahwa tidak menginginkan pergi kemanapun. Jika keadaan seperti ini bisa dipastikan Intan akan masuk rumah sakit.


"Bu, apa sandiwara yang ibu telah lakukan?, pertanyaan yang membuat ibu terperajat seakan bola matanya terkeluar dari matanya.


"Wanita itu mengatakan bahwa itulah yang menyebabkan mas Galang tak lagi mendengarkan kata ibu", dengan suara lirih dan putus asa Intan menyampaikan apa yang dikatakan Hanum.


Semakin besar kebencian yang ibu rasakan pada Hanum. Berarti Galang telah menceritakan pada wanita tersebut.


"Ntan, berikan ibu nomer ponsel wanita itu", tak membutuhkan waktu lama ibu segera mengambil ponsel menantunya yang tergeletak diatas kasur.


Terdengar suara dari seberang sana, ibu memakai ponsel Intan untuk menghubungi Hanum.


"Mau apa lagi?, aku tak pernah berniat merusak rumah tanggamu", hallo Intan!! hallooooo", terdengar suara Hanum yang memulai pembicaraan di panggilan itu.

__ADS_1


Ibu hanya mendengar perkataan Hanum yang menjelaskannya dengan kesungguhan dari cara bicaranya.


"Ini saya, mertua Intan. Apa yang telah kau sampaikan pada menantuku sehingga ia banyak bertanya pada ku?. Jangan kau adu domba diriku dengannya!!!.Bagus kalau kau tak ada niat merusak rumah tangga putraku. Tapi aku tahu wanita seperti apa dirimu, kau akan membutuhkan banyak uang untuk membesarkan anak haram mu itu kan? katakan saja padaku, jangan kau rong-rong putra ku!!!!", perkataan orangtua Galang sangat merendahkan harga dirinya.


Tut tut tuuuuut,,,,,,panggilan itu dimatikan dengan sendirinya tanpa menunggu Hanum menjelaskan kesalahpahaman mereka terhadap dirinya.


Puas rasanya mertua Intan telah menjatuhkan harga diri wanita yang dulu pernah disukainya. Ada rasa kemenangan diujung matanya yang sinis dan bibir yang tersungging kebawa terlihat jelas diwajahnya.


Intan mendengar dan memperhatikan mertuanya yang menelpon Hanum dengan kebencian yang teramat dalam.


"Baiklah tak perlu kau dengar ucapan wanita tersebut, kau percaya pada ibu. Tak akan membiarkan putraku menceraikan mu", dengan suara tegas dan penuh kesungguhan mertuanya bicara memastikan apa yang telah diucapkan.


Ada aliran kekuatan yang menjalar memasuki tubuh Intan setelah mendengar perkataan mertuanya itu yang meyakinkan dirinya.


Dua wanita itu pergi kesebuah mall yang terbesar dikota itu. Dilampiaskan rasa sedih mereka dengan membeli semua barang yang mereka lihat bahkan yang tak begitu bermanfaat.


Dihamburkanya uang untuk menghilangkan rasa sedih yang mendera didalam hati mereka. Kedua tangan mereka sudah tak cukup menjinjing semua barang yang mereka beli.


Sopir pribadi ibu yang baru pun sudah kelelahan mengikuti dua wanita yang sedang membuang uang untuk hal yang tak berguna.


"Orang kaya mah bebas, kalau lagi sedih menghabiskan uang yang mereka punya, lah kalau orang seperti saya yang ada tak makan anak istri", dengan menggelengkan kepala melihat tingkah dua majikannya itu.

__ADS_1


Intan berhenti pada sebuah toko pernak-pernik anak perempun, ia tertarik untuk melihat kesana. Mertuanya bingung dan mengikuti saja dari belakang.


"Mau membeli apa ia kemari?, besit dalam hati mertuanya yang bingung dengan menantunya itu.


Asik melihat isi didalam toko tersebut Intan tertuju pada sebuah banana berbentuk Mini Mouse berwarna hitam bercampur merah.


Pada saat ia mau meraih banana tersebut, tangan seorang gadis muda meraihnya lebih dahulu.


"Ups, maaf dek saya juga menyukainya", ujar Intan melihat gadis muda yang tiba-tiba sudah ada disampingnya dengan memegang banana yang Intan inginkan.


"Saya juga menyukainya, mbak pilih yang lain aja. Saya mau beli buat ponakan saya, ia sangat menyukai karakter Mini Mouse", ucap Hani agar wanita dihadapannya mengalah.


Ibu melihat menantunya berbicara dengan seorang gadis muda mendekatinya dan sangat terkejut ketika ia melihat dekat gadis muda tersebut.


"Hani!!!", teriak mertua Intan dengan wajah tak percaya bertemu dengan adik dari wanita yang dibencinya.


Tak beda jauh wajah Hani pun tak kalah kagetnya melihat orangtua dari Galang. Hani melihat kebencian dari wanita paruh baya itu menatap dirinya.


"Sampaikan ke kakak mu jangan mengejar putra ku lagi, Galang sudah cukup bahagia bersama istrinya. Jangan pernah muncul dihadapan putraku!!, perkataan ketus wanita itu seraya memamerkan menantunya.


Perkataan wanita paruh baya itu membuat Hani terpancing emosinya kemudian berusaha membela kakaknya yang dihina.

__ADS_1


"Maaf ibu, kakak ku tak seperti yang ibu kira. Barangkali putra ibu yang mengejar kakak ku, yang tak bisa melupakannya. Walaupun istrinya secantik mbak ini, perlu ibu ketahui bahwa kakak ku sudah menikah dengan seorang pria yang lebih dari putramu!!, ucap Hani dengan gaya sombong.


Kedua wanita itu yang masih tak percaya dengan apa yang didengar dari perkataan gadis muda yang berlalu dari hadapan mereka.


__ADS_2