Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 217 Tukang Pijat


__ADS_3

Angin mengusik gerai rambut Mayang yang sedari tadi dibiarkannya saja tanpa diikat, membelai lembut wajahnya.


Berdiri diam dengan tatapan mata kosong menghadap taman rumah yang tak jauh dari kamarnya.


Ada gundah dihatinya, seakan berontak tak ingin terlalu lama larut didalam kesedihan teramat dalam.


Uhhh...Menghebus nafas dengan kasar.


"Apakah harus seperti ini? Aku ingin merubah kehidupan orangtua ku, apakah selamanya aku menjadi babu dirumah ini! " Gumamnya didalam hati.


"Uang gaji yang ku terima setiap bulan hanya tersisa sedikit untuk keperluan hidupku setelah ku gunakan untuk mengangsur hutang pada Tuan Galang, " ungkapnya kembali didalam hati.


Lamunannya tersentak ketika mendengar teriakan dari Bik Ijah dengan keras dari ujung taman.


"Mayaaang...Kemari! " Teriak Bik Ijah.


Mayang mengarahkan pandangan matanya pada sumber suara. Terlihat wanita paruh baya tersebut melambaikan tangan sebuah isyarat agar dirinya datang mendekati posisi Bik ijah berdiri.


Dilangkahkannya kakinya mengayun dengan santai dan tersenyum seraya membalas lambaian tangan kembali.


"Ada apa Bik...?" Spontan bertanya, setelah berada didekat wanita paruh baya tersebut.


"Tolong Bibik ya...Bibik sekarang banyak sekali pekerjaan yang diperintahkan Nyonya. Nah sekarang Tuan Galang meminta Bibik naik keatas untuk mengurut tubuhnya yang terasa pegal - pegal, kamu bisa ngurut kan?" Tanya Bik Ijah langsung tanpa memperdulikan Mayang yang masih gadis.


Haaaa...Dengan ekspresi wajah terkejut serta kedua alis naik keatas.


Mayang tak habis pikir, darahnya serasa mengalir dengan deras setelah wanita dihadapannya meminta dirinya menyetuh tubuh lelaki dewasa yang sama sekali tak pernah dilakukannya terkecuali tubuh ayahnya yang biasa minta diurut dan dikerokin ketika masuk angin.


"Aaa... Pa!" Bibik ga salah menyuruh saya melakukan hal tersebut balas Mayang masih dengan wajah tak percaya.


"Ayooolah, tolong Bibik yaaa. Kalau menunggu Bibik melakukannya. Pekerjaan yang diminta Nyonya ga akan kelar dengan cepat, " Balas Bik Ijah dengan wajah mengiba.


Dengan terpaksa Mayang menganggukan kepalanya, melihat wajah Bik Ijah yang memelas ditambah dengan bantuan Bi Ijah selama ini yang sering didapatkan Mayang.


Tidak hanya masalah tenaga pada saat bekerja melainkan segala hal, Mayang selalu menurut pada wanita paruh baya yang telah dianggap ibunya dikota ini.


"Tunggu sebentar, bibik ambilkan minyak urutnya, tapi kamu bisa ngurutkan?" Ujarnya memastikan Mayang bisa mengurut, walaupun tak perlu kemahiran khusus untuk mengurut Tuan muda tersebut.


Galang memang kerap sekali meminta tubuhnya diurut, mungkin karena sudah menjadi kebiasaan dirinya disetiap bulan. Terkadang bisa dua kali dalam sebulan, Bik Ijah yang menjadi pengurut tetap yang selalu mengurut Tuan muda tersebut.


"Bisa Bik kalau untuk capek - capek," balas Mayang yang masih tak bisa bayangkan pada saat menyentuh tubuh lelaki tersebut.


Wanita itu berlalu dari hadapannya menuju dapur dan mengmbil minyak untuk mengurut Tuan muda tersebut.


"Ini minyaknya," ucap Bik Ijah dengan menyodorkan minyak tersebut kehadapan Mayang.


"Makasih yaaa, Tuan muda sangat suka dengan aroma minyak sereh ini, ntar setelah urut biasanya diakan akan segera tertidur," ungkap Bik Ijah seraya pergi dari hadapannya.

__ADS_1


Mayang mengambil semangkuk minyak urut tersebut dari tanggan wanita paruh baya tersebut. Kemudian melangkahkan kaki menuju lantai dua dimana Tuan mudanya berada.


Tok... Tok... Tok...


Pintu kamar Galang diketuk sampai tiga kali, baru terdengar sahutan dari dalam kamar meminta untuk dirinya masuk kedalam.


Masuuk Bik...


Kreeek...Suara pintu dibuka secara perlahan.


Dengan perasaan berkecamuk dan jatung yang berdegup kencang Mayang melangkahkan kaki melihat suasana didalam kamar tersebut.


Terlihat lelaki yang telah bertelanjang dada dan hanya menggunakan sarung untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.


Tidur diatas kasur dengan posisi telungkup dan tak menoleh kearah Mayang yang telah sampai pada ujung tempat tidur Galang.


Duhh....


"Tuan tak melihat kearahku, dia merasa aku adalah Bik Ijah", gumam dalam hatinya.


"Gila bener aku mengurutnya diatas kasur itu, " jeritnya didalam hati.


Mendengar suara Galang yang memanggil nama Bik Ijah membuyarkan lamunan Mayang.


"Bik kenapa masih berdiri disitu! Ayo...! Cepat urut tubuh ku yang sedari kemaren terasa sangat sakit sekali didaerah punggungku ini, " ucap Galang masih tanpa melihat siapa wanita yang sedang berdiri dibelakang tubuhnya.


Matanya tertuju pada tubuh dengan kulit putih bersih dan berotot. Galang memang suka berolahraga sehingga tubuhnya ideal dan perfeksionis.


Mayang terpesona dan matanya sangat menikmati tubuh lelaki yang terbaring itu. Tanganya yang semula bergetar seakan menghilang setelah menyentuh kulit putih Galang.


Usssst...


"Sadar Mayang... Kenapa kau malah terpesona! Itu Tuan mu! Walau tak pernah melihat tubuh lelaki bertelanjang setengah badan jangan kau hanyut dalam tatapan nafsu. Kendalikan dirimu..." Teriak Mayang dalam hati menyadarkan dirinya sendiri.


Diolesnya rata minyak sereh tersebut dengan sangat lembut dengan telapak tangan Mayang. Kemudian mulai mengurut bagian pundak sebagaimana ilmu mengurut yang diajarkan ibu.


Galang merasakan hal yang berbeda disetiap sentuhan dan gerakan dari tangan yang sedang menyentuh tubuhnya. Tidak pelan dan tidak pula keras urutan dari tangan tersebut, Galang sangat menikmatinya.


Dengan mata tertutup Galang merasakan enak disetiap pijatan dari jari jemari Mayang yang telah lihai mengurut. Dirinya tahu bagian - bagian tubuh yang sering kaku dan sakit akibat anging yang terlah berkumpul dibagian tersebut.


"Ya bagian itu terasa sakit sekali... Mohon untuk lebih lama Bik memijat bagian itu," ujar Galang masih tak menyadari siapa yang telah mengurut tubuhnya.


Mayang tak mengeluarkan sepatah katapun sehingga membuat Galang beranggapan Bik Ijah. Kini Mayang beralih mengurut kebagian tangan dengan lembut dan tepat pada bagian bagian yang terasa sakit.


Emmm... Dengan suara bergumam dan mata tertutup.


"Uratun Bibik terasa berbeda kali ini, aku sangat suka Bik, " ujar Galang kembali.

__ADS_1


"Mungkin karena aku sering meminta Bik Ijah kali ya... Jadi Bibik sudah terlatih mengurut ku, " ujar Galang kembali seraya tertawa kecil.


Mayang masih tak mengeluarkan suara sedikitpun, dirinya merasa itu lebih baik Galang tak menyadari bahwa dirinyalah yang telah mengurut tubuh lelaki tersebut.


Kini urutan beralih dibagian kaki sampai pangkal paha. Mayang merasa bagian ini merasa sangat malu sekali, namun apalah daya tak mampu menolaknya.


"Duuuh Gusti... Lelaki ini memiliki tubuh yang sangat menggoda sekali," Mayang tersipu malu, wajahnya memerah menahan rasa malu.


Tanpa arahan Mayang, seakan tahu ritme setiap gerakan pijat tersebut Galang membalikkan tubuhnya dengan sendirinya, masih dengan mata terpejam. Dirinya seakan enggan membuka matanya karena terlarut dalam kenikmatan disetiap sentuhan dari pijatan jemari Mayang.


"Mengapa terhenti Bik!" Setelah sentuhan itu lama tak dirasakanya.


Mayang semakin tak bisa mengendalikan rasa malunya setelah melihat tepat dimatanya dada bidang dan berotot milik lelaki yng terbaring dihadapanya.


Galang membuka matanya, betapa terkejutnya dirinya setelah melihat bukan Bik Ijah melainkan wajah gadis muda yang berada disampingnya. Wajah gadis tersebut memerah dan tertunduk malu.


"Mayang...!" Teriaknya.


Mayang masih tak bisa mengangkat wajahnya. Dirinya khawatir Galang melihat rona merah pada parasnya.


"Pantas sedari tadi kau hanya diam," ungkap Galang yang juga shock ternyata adalah Mayang yang sedari tadi mengurut sekujur tubuhnya.


"Lanjutkan...!" Ucap Galang dengan santai.


"Taa.. Tapi Tuan, saya merasa tak nyaman mengurut bagian ini makanya saya terhenti," balas polos Mayang dengan wajah masih tertunduk.


"Lanjutkan....! Kepalang tanggung," ucap Galang kembali tanpa menoleh kearah Mayang.


Dengan wajah tertunduk Mayang menyentuh dada bidang Galang dengan lembut, mengurut bagian dada bidang tersebut. Galang kembali memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan jari jemari Mayang.


###


πŸ˜ŠπŸ™ Besar harapan Author agar para Reader tidak hanya membaca tetapi juga menghargai hasil karya tulisan Author dengan cara:


πŸ’œBoom like sehabis bacaπŸ‘πŸ‘πŸ‘


πŸ’›Komentar yang membangun atau memberi semangat disetiap episode nya 😊


πŸ’šRate bintang ⭐5 dengan menglik dipojok bagian kanan atas bergambar 🌟


πŸ’™ Vote sebanyak banyaknya kalau bisa jangan hanya 10 tapi 1000 ya πŸ˜‰ dengan mengklik dibagian pojok atas sebelah kanan bertulis VOTE.


❀Trus beri tanda hati setelah kalian membaca, biar kita tambah mesra ya Reader tercinta... 😍😍


Bergabung digroup chat Author yup πŸ“©


Author tunggu ya...😊😊

__ADS_1


__ADS_2