
Mentari bersinar menembus celah - celah dinding dari bilik (kamar) bambu yang ada pada sebuah gubuk yang tak jauh dari aliran sungai yang deras.
Mayang terbaring tanpa sadarkan diri selama 3 hari, dengan sekujur tubuh penuh dengan luka dan lebam.
Tubuhnya yang penuh dengan luka goresan, dan luka sobek dibagian siku, serta dahi Mayang yang membiru karena bekas benturan yang amat keras.
Menunggu Mayang untuk segera siuman dan memberikan ramuan dari bahan alami untuk mengobati luka yang ada disekujur tubuhnya atas kecelakaan yang telah terjadi.
Perlahan dibuka kedua matanya yang terasa berat. Pandangannya tertuju pada sekitar ruangan, dimana kini dirinya terbaring diatas dipan (tempat tidur).
Tiba - tiba masuk seorang wanita tua yang berpakaian sangat sederhana. Berjarik (kain) dan menggunakan baju yang sangat sederhana seperti kebaya.
"Nduk...Sudah bangun rupanya. Syukur Alhamdulillah..." Ucapnya seraya membantu Mayang bangkit dari tidur panjangnya.
Arghhh...Aduh!!!
Mayang mengerang kesakitan pada bagian pinggangnya ketika dicobanya untuk duduk.
"Berbaring saja dulu Nduk... Sepertinya pinggang mu mengalami cidera juga, " ucapnya wanita tua itu kembali.
Mayang mengikuti saran wanita tua yang ada disampingnya. Merebahkan kembali tubuhnya diatas dipan (tempat tidur) bambu itu.
"Dimana saya? Apa yang terjadi pada saya?" Ungkap Mayang dengan wajah penuh keingintahuan.
"Kamu sudah terbaring dirumah kami, lebih kurang selama tiga hari. Suami saya menemukan mu dalam keadaan tak sadarkan diri ditepi sungai." Ujar wanita tua disampingnya itu.
Mayang mencoba mengingat kembali atas apa yang terjadi pada dirinya sehingga menyebabkan sekujur tubuhnya luka.
"Siapa nama mu Nduk? dan dari mana asalmu?" Tanya wanita tua tersebut dengan wajah penasaran.
__ADS_1
Mayang mengerutkan dahinya dengan tatapan mata seakan berusaha mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya, namun dirinya tak mampun mengingat sedikitpun atas apa yang telah terjadi padanya.
"Nduuuk... "Sapa wanita tua itu seraya menyentuh bahu Mayang.
Sapaan wanita tua itu sekali lagi membuyarkan pikirannya yang tak menentu saat berusaha mengingat peritiwa yang telah terjadi.
"Yaaa... Mbok," spontan menjawab pertanyaan wanita tua itu.
"Saya tak ingat dengan apa yang terjadi pada diri saya. Bahkan saya lupa nama saya Mbok," ucap Mayang dengan wajah bersedih.
"Oh...Kenapa sampai lupa identitas mu? Ya Allah...Sesungguhnya apa yang telah terjadi pada mu Ndok," ungkap wanita tua itu seraya membelai lembut rambut wanita muda yang terbaring itu.
"Bersabarlah...Semoga ingatan mu segera kembali, " ucap wanita itu.
Mayang menatap dalam wajah wanita tua yang ada tepat disampingnya. Dengan isyarat anggukan Mayang menerima saran dari wanita tua tersebut.
"Untuk sementara, tinggal saja digubuk kami. tapi ya begini keadaanya tak sama dengan rumah orang dikota, " ungkap wanita tua itu dengan berkata merendah.
"Jangan bicara demikian, kami dengan senang hati membantu kamu Ndok, " balas wanita tua itu seraya tersenyum.
Mayang membalas senyum wanita tua itu. Dan tak begitu lama mereka berdua berbicara, datang lelaki tua yang merupakan suami dari wanita tua yang sedang berbicara dengan Mayang.
"Kenalkan Ndok, ini suami saya yang membawa mu kegubuk kami," ucap wanita tua yang bernama Mbok Darsih.
"Tarmin..." Ucap lelaki tua itu seraya mengulurkan tanganya kearah Mayang.
Mayang menganggukan kepalanya, dirinya tak mampu memberitahu siapa namanya karena masih tak mampu mengingat identitasnya.
"Terima kasih Pak... Telah menolong saya, namun saya tak tahu siapa sebenarnya saya ini, " Ungkap Mayang dengan wajah bersedih dan suara pelan.
__ADS_1
"Kalau kau mau Ndok, tinggal saja disini sampai ingatan mu kembali dan kondisi kesehatan mu pulih seperti sebelumnya," jawab Pak Tarmin dengan wajah penuh simpati menatap Mayang.
"Benar...Lagian kami hanya berdua digubuk ini, tak ada siapapun selain saya dengan suami, " Ungkap Mbok Darsih.
Mayang menitikkan bulir bening diujung matanya, dirinya bersyukur dipertemukan oleh sepasang suami istri yang ada dihadapannya itu.
Walaupun Pak Tarmin dan istrinya baru mengenal Mayang, namun perhatian mereka berdua bak telah mengenal dirinya telah lama.
Dengan penuh kasih sayang dan perhatian yang tulus mengurus Mayang seperti anak mereka sendiri.
Mayang mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang berlimpah dari sepasang suami istri yang tidak dikaruniai seorang anakpun didalam pernikahan mereka yang terbilang lama.
Mayang merasakan kondisi kesehatannya beransur - ansur membaik, namun ingatan akan identitasnya masih belum dapat diungkapnya.
###
ππ Besar harapan Author agar para Reader tidak hanya membaca tetapi juga menghargai hasil karya tulisan Author dengan cara:
πBoom like sehabis bacaπππ
πKomentar yang membangun atau memberi semangat disetiap episode nya π
πRate bintang β5 dengan menglik dipojok bagian kanan atas bergambar π
π vote sebanyak banyaknya kalau bisa jangan hanya 10 tapi 1000 ya π dengan mengklik dibagian pojok atas sebelah kanan bertulis VOTE.
β€Trus beri tanda hati setelah kalian membaca, biar kita tambah mesra ya Reader tercinta... ππ
Bergabung digroup chat Author yup π©
__ADS_1
Author tunggu ya...ππ