
Mata Bram tak pernah berpaling dari Hanum. Seakan Hanum tak mau lepas dari pandangannya. Setelah mengobrol lama dicafe seperti janjinya Bram mengatar pulang Hanum kerumah.
"Apa kau bahagia?, tanya Bram pada Hanum dengan penasaran.
"Dika suami yang ideal dia mengerti sebelum aku minta bahkan sudah tahu apa yang sedang aku pikirkan", ungkap Hanum seraya membayangkan wajah Dika.
"Apakah ia bisa menerima anak ini? ucap Bram.
"Kamu jangan khawatir, Dika bahkan lebih menyayangi anak ini daripada dirinya sendiri". ungkap Hanum dengan keyakinan.
"Apakah kau mencintainya? , tanya Bram dengan keseriusan.
Pertanyaan Bram kali ini tak bisa dijawab oleh Hanum. Seketika Hanum terdiam seakan mulut ini terkunci. Mengeluarkan suara walau satu patah kata pun tak mampu ia keluarkan.
Bram melihat perubahan wajah dan sikap Hanum merasa lebih penasaran dan heran. Sedangkan dua pertanyaan sebelumnya Hanum dapat menjawab dengan tegas dan penuh kesungguhan.
"Mengapa setelah aku bertanya apakah ia mencintai Dika, Hanum terdiam. Apakah tak ada cinta buat Dika dan cinta Hanum masih bersama Galang", besit dalam hati Bram.
__ADS_1
Cukup lama Hanum terdiam, Hanum mencoba mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain.
"Bram mengapa tidak kau coba untuk melupakan aku? aku berusaha untuk menghapus semua yang terjadi walau noda itu terpatri dirahim ku". ungkap Hanum dengan raut wajah sedih.
Mendengar pertanyaan Hanum seperti itu menyebabkan perubahan diwajah Bram. Wajahnya terlihat sedih dan bercampur amarah.
"Mengapa kau selalu meminta ku untuk melupakan peristiwa itu, aku tak pernah melupakan perbuatan keji dan hina ku pada mu. Setiap malam wajah mu selalu menghantui ku karena rasa bersalahku pada mu. Satu hal lagi anak yang ada dirahim mu adalah darah dagingku bagaimana aku bisa melupakan mu". ungkap Bram dengan bulir bening menetes dipipinya.
Hanum terkejut mendengar penjelasan Bram. Apa yang dikatakan Bram juga terjadi pada Hanum. Setiap malam selalu terlintas wajah laki-laki yang ada disampingnya ini. Ada rasa bersalah dihati Hanum karena telah egois memisahkan seorang anak dengan ayah kandungnya.
"Tuan ini sudah masuk keperumahan, selanjutnya kita kearah mana? . ucap pak sopir membuyarkan lamunan mereka berdua.
"Blok L No.21", jawab Hanum dengan refleks.
Akhirnya tiba didepan rumah Hanum. Terbesit di hati Hanum :" Apakah Dika sudah pulang?
Hanum melihat kembali arloji yang ada ditangan kanannya. Jarum jam menunjukkan angka empat lebih sepuluh menit. Hanum binggung mengapa hari ini Dika pulang cepat dan tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Bram tanpa diminta Hnum untuk singgah, dia sudah ikut berjalan dibelakang Hanum. Bram berniat untuk melihat kondisi rumah yang ditempati Hanum bersama Dika.
"Dek kamu membuat saya khawatir, saya telpon ponsel mu tidak bisa dihubungi". Ungkap Dika dengan mata penuh rasa cemas dan gelisah.
Hanum segera mengambil ponsel didalam tasnya. Ternyata ponselnya tidak aktif karna habis batrai. Dika terkejut melihat Bram ada didepan pintu rumahnya.
"Mengapa bisa ada disini?. ucap Dika dengan wajah terkejut.
Bram menceritakan awal pertemuan Hanum sampai ia meminta Hanum untuk ikut dengannya ke cafe lalu mengatarnya pulang sampai kerumah ini.
Ada raut wajah bersalah dimata Dika setelah mendengar cerita Bram.
"Terima kasih telah mengantarkan Hanum pulang". ucap Dika.
"Ya", ucap Bram singkat.
Bram tersenyum setelah melihat keadaan tempat tinggal Hanum. Dika memberi tempat yang layak buat Hanum dan anaknya. Terlihat dari perabotan dan barang yang ada dirumah ini walaupun kondisi rumah yang tidak begitu besar.
__ADS_1