
Dika masih asik bercengkerama dengan sepupu dari sebelah ibu dan ayah yang masih tinggal dirumah Hanum. Tidak ada terlihat raut wajah kecewa atau keterpaksaan dimata Dika. Dia menikmati obrolan bersama sepupunya itu.
Suasana malam ini terlihat seperti mana acara pernikahan pada umumnya. Ada kebahagian disetiap wajah keluarga yang hadir. Semua terlupakan dengan peristiwa dramatis yang terjadi sebelum akad nikah berlangsung.
Suasana mengalir secara alami tak ada ketegangan lagi pada malam ini. Akan tetapi masih ada raut kesedihan pada wajah ayah yang sedang duduk berdua dengan pak Hadi
Ayah dan pak Hadi masih belum membuka obrolan. Mereka yang mengetahui persis cerita Hanum memang tidak bisa menikmati acara ini. Mereka terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.
" Aku tak salah mengambil keputusan untuk mengijinkan Hanum menikah dengan keponakan dari ipar ku. Dika laki-laki yang baik, saya yakin Hanum akan bahagia. Ia akan melindungi dan mencintai Hanum bersama cucuku". ucap Ayah dihati.
Itulah yang ada dalam pikiran ayah. Beruntung pada saat Dika mengambil keputusan untuk menikahi putrinya. Tidak ada halangan dari keluarga Dika untuk melarang terjadinya pernikahan pagi tadi.
"Pak". sapa pak Hadi membuyarkan pikirannya ayah yang berkelut dihati
__ADS_1
"Saya yakin bahwa keputusan yang diambil oleh Hanum adalah benar. Dia gadis yang tegar dan mampu melewati semua rintangan untuk melindungi bayi yang saat ini ada dirahimnya. Kita hanya akan memberikan suport dan semangat buat nya untuk bisa tetap berdiri tegar menghadapi semua rintangan itu".ungkap pak Hadi dengan kesungguhan.
Ayah menatap wajah pak Hadi. Ia beruntung memiliki kenalan yang telah dianggap keluarga sendiri. Ada rasa haru dan dapat meringankan beban berat yang ada dihati setelah mendengar ucapan pak Hadi.
*************************************
Hanum telah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Ia berdiam seraya mengelus perutnya yang ada gerakan lembut terasa ditelapak tanganya.
"Ada apa anakku, apakah kamu juga merasakan kesedihan yang ibu rasakan sekarang?. ucap Hanum lirih.
Dina mengetuk pintu kamar Hanum dan terdengar suara sahutan dari dalam kamar.
"Masuklah". Terdengar suara dari dalam.
__ADS_1
Dina membuka pintu secara perlahan dan melihat keadaan didalam kamar. Terlihat Hanum sedang duduk disalah satu pinggir tempat tidurnya.
Terlihat sekali tidak ada rona kebahagian didalam kamar ini selayaknya kamar pengantin baru.
"Mengapa berdiam disini, kemana Dika? .tanya Dina
"Ga tahu", jawab Hanum singkat.
Dina meraih tangan sahabatnya dan seraya berkata: "Menangislah sahabatku lepaskan semua beban yang ada dipundak mu melalui air mata. Jika seadainya itu dapat mengurangi beban berat itu. Aku akan selalu ada disamping mu jangan biarkan dirimu larut dalam kesedihan seorang diri". ungkap Dina
Tangis Hanum pun pecah dan terdengar sangat menyayat hati bagi yang mendengarkannya. Terasa sangat pilu menusuk ke relung hati yang terdalam.
Tak lama Dina keluar dari kamar dan meninggalkan sahabatnya yang jauh lebih tenang. Dika memasuki kamar dan melihat Hanum sudah merebahkan tubuhnya diatas kasur.
__ADS_1
Disentuhnya perut hanum lalu berkata: "Kenapa belum tidur dek, istirahatlah. Aku tak akan menyentuh mu sampai anak ini lahir dan setelah lahir pun aku akan menunggu persetujuan mu untuk melakukan itu ". ungkap Dika dengan sorot mata menunjukkan kesungguhan dari perkataannya.