
Hanum sudah menunggu lebih dulu sepuluh menit dari jam yang dijanjikan. Bram sudah menelpon kembali Hanum memastikan kalau ia tak berjumpa dengan lelaki lain.
Hanum hanya tersenyum mengingat perkataan Bram ditelpon. Ternyata ia masih memikirkan ledekannya tadi pagi.
"Bram untuk apa juga aku bertemu lelaki lain, kalau mau udah dari dulu ku lepas status jandaku", besit Hanum dalam hati.
Hanum jadi tersenyum sendiri mengingat sikap cemburu Bram.
"Hy, sudah lama menunggu? maaf ya", sapa Intan yang tiba-tiba sudah dihadapannya.
"Oh, maaf tidak melihat mu datang", ucap Hanum seraya mengulurkan tangan.
" Baiklah apa yang ingin dibicarakan?", ucap Hanum mengawali pembicaraan pada wanita yang hanya beberapa kali bertemu dan dalam waktu singkat.
Intan sudah mengetahui hubungan Hanum dengan Galang. Hubungan yang sempat bakal naik kepelaminan tetapi gagal disaat waktu akad berlangsung. Galang sangat merasa bersalah pada Hanum semenjak kejadian itu.
__ADS_1
Setelah kejadian dikampung Galang memutuskan untuk pindah kekota ini dan tanpa disadari Hanum juga ada dikota yang sama.
"Sampai detik ini ia selalu memikirkan mu ", ucap Intan dengan nada lirih.
Hanum terkejut mendengar perkataan dari istrinya Galang. Hati Hanum langsung berdetak kencang seakan ada magnet yang menghidupkan hati yang rapuh.
"Aku menikah karena jodohan orangtua kami berdua tanpa dasar cinta, lebih kurang tiga tahun kami menikah tapi serasa hanya sebuah hubungan karena ikatan orangtua saja", ungkap Intan dengan menahan bulir bening diujung matanya.
Hanum semakin ikut larut dalam cerita Intan. Ia tak menyangka bahwa Galang begitu kuat mengunci rapat hatinya untuk wanita lain.
Intan memandang wajah Hanum sangat dalam. Terlihat sorot matanya yang mengatakan bahwa sangat mencintai Galang.
"Aku tlah jatuh hati padanya, walau diawal aku tak memiliki perasaan terhadapnya", ungkap Intan dengan mata memerah menahan tangis.
"Trus untuk apa kau ceritakan ini padaku, apa tujuan mu?, ungkap Hanum dengan rasa penasaran.
__ADS_1
Intan memohon agar Hanum mau berbicara pada Galang dan mengajaknya untuk memeriksa kesehatanya karena sudah tiga tahun pernikahan ia belum dikarunia seorang anak juga.
Deeg hati Hanum menjadi berdetak dengan lebih kencang dari sebelumnya mendengar permintaan istri Galang.
Hanum jadi teringat pada saat ia bertemu Intan dirumah sakit. Intan bertemu dokter kandungan dirumah sakit tersebut.
"Aku tlah mengecek rahimku dan mengecek alat reproduksi ku semuanya sehat tidak ada satu pun yang bermasalah", ungkap Intan dengan sedih.
"Berarti Galang yang bermasalah kalau istrinya dalam kondisi baik-baik saja", besit Hanum dalam hati.
"Sedangkan mertua menuntut ku segera memiliki keturunan, bagaimana bisa jika anaknya tak mau diajak mengecek kesuburan nya", ungkap Intan yang tak tahan lagi menahan bulir bening yang keluar dari ujung matanya.
Hanum ingat kembali pada saat ia berbicara dengan ibunya Galang. Meminta Hanum untuk menggugurkan kandunganya pada saat itu karena keturunanya yang tak jelas. Ia tak ingin putranya memiliki keturunan dari orang yang tak diketahui identitas.
Keluarga Galang termasuk sulit memiliki keturunan. Hanum tahu benar itu jadi wajar ibu Galang meminta segera ada pewarisnya.
__ADS_1
"Ibu Galang selalu menekan ku seolah-olah aku yang tak subur padahal kau tahu pada saat kita bertemu dirumah sakit itu? aku sedang mengecek kesuburan ku", ungkap Intan dengan derai air mata.