
Mentari pagi menyibak lembut dedaunan, mengeringkan bulir embun yang menempel didaun.
Ada perasaan sedikit lapang dihati Mayang, bisa pamit kembali kekota untuk bekerja. Mengumpulkan pundi- pundi uang untuk membayar hutang.
Ayah berniat hari ini menemui reternir Darmin, untuk melunasi hutang piutang. Semakin cepat semakin baik, sehingga Darmin tak bisa lagi menekan keluarga Mayang.
Ibu tengah asik memasak untuk bekal buat Mayang kembali kekota siang ini. Kedua adiknya telah siap berangkat kesekolah setelah menghabiskan nasi goreng ala ibunya.
"Mbak...Kapan lagi kemari?" Tanya Gendis merengek pada Mayang.
"Mbak harus kerja dek, untuk membayar hutang," tukas Galih pada adik bungsunya.
Mayang memeluk adik bungsunya itu, perasaan yang tak bisa diungkap dengan kata - kata. Sejujurnya Mayang masih ingin berlama - lama dikampung, namun apalah daya niat hati tak dapat tersampaikan.
"Sekolah yang rajin ya Dek, ntar Mbak pulang akan berikan sesuatu kalau kamu pinter disekolah," ujar Mayang pada kedua adiknya dengan tatapan penuh kesedihan bercampur harapan.
Dengan bersamaan kedua adiknya menganggukkan kepala, mengerti akan pesan yang disampaikan oleh Mayang.
Akhirnya mereka bertiga berpelukan. Ibu yang sedari tadi menatap putra dan putri mereka, tak terasa meneteskan bulir bening diujung pelupuk matanya.
Mayang menyelipkan uang 10ribu kesaku kedua adiknya, biasanya kalau pergi sekolah kedua adiknya tak pernah meminta uang jajan seperti anak - anak pada umumnya, atau memilih tak bersekolah jika tak diberikan uang jajan.
"Terima kasih Mbak" ucap Galih dan Gendis.
Kedua adiknya sangat mengerti keadaan orangtuanya tak memiliki uang untuk itu, cukup makan saja sudah cukup bagi mereka.
Walaupun dengan demikian, mereka tak pernah sama sekali memperlihatkan wajah murung ataupun sedih. Jika pada saat istirahat semua anak rata - rata pergi kewarung untuk berbelanja.
Galih dan Gendis tersenyum menatap Mbaknya, yang telah menyelipkan uang disaku mereka masing - masing.
Mendekati ibunya lalu menyerahkan uang yang diberikan Mayang.
"Mbok.. Ini buat uang belanja aja," ucap Galih dan diikuti oleh Gendis.
Hati ibu terenyuh melihat sikap kedua anaknya, yang begitu mengerti akan sulitnya mendapatkan uang walaupun hanya 10ribu.
Ayah bekerja dari pagi sampai sore hanya diberi upah 50 ribu, oleh yang punya sawah atau ladang. Begitu sulitnya penghidupan dikampung Mayang.
"Simpanlah Le...(sapaan anak lelaki), buat dirimu dan adekmu," ucap ibu pada kedua anaknya.
Galih kembali kekamar dan masih diikuti oleh Gendis, kedua adiknya malah menyimpan uang itu diselipan lemari pakaian mereka.
"Mbak kami pergi dulu ya," ucap Galih seraya mencium punggung tangan Mayang dan ibunya.
Lambaian tangan mereka disambut oleh Mayang dengan wajah berkaca - kaca melihat kedua adiknya yang sangat mengerti akan keterbatasan keluarganya.
Ayah yang sedari tadi dari belakang rumah, muncul dari pintu belakang dengan setandan pisang kepok ditanganya.
Ibu memyambut cepat pisang ysng ada ditangan ayah. Kemudian meletaksn secsngkir kopi diatas meja dekat aysh duduk didapur tersebut.
__ADS_1
Mereka adalah sepasang kekasih yang tak lekang oleh waktu dan tak roboh akan terpaan badai kehidupan. Mereka saling membantu satu sama lain, saling memberikan semangat, untuk mengarungi bahtera rumah tangga sampai kini terhitung 26 tahun masa pernikahan.
Penuh cinta dan kasih sayang disorot mata mereka berdua. Walaupun mereka berdua harus berjuang membanting tulang untuk menghidupkan keempat anak - anaknya.
Tubuh ayah yang hitam terbakar matahari dan telapak tangannya yang kapalan karena begitu beratnya bekerja demi mendapatkan sesuap nasi untuk keluarganya.
Tak berbeda jauh dengan ibu, dirinya menjadi buruh cuci keliling harian untuk warga yang lebih mapan dikampungnya. Jika tak ada pekerjaan mencuci maka ibu membatu ayah bekerja disawah dan diladang orang.
Begitulah ikatan hubungan mereka berdua yang semakin mempererat cinta kasih diantara mereka berdua.
"Pak, kapan bapak mau menemui Darmin?" Tanya ibu pada suaminya.
"Setelah ini bu, saya akan segera pergi kerumahnya untuk mengantarkan uang tersebut, "Balasnya.
"Aku ikut ya Pak?" Ujar ibu kembali
Suaminya menganggukkan kepala pertanda setuju dengan yang dikatakan istrinya. Setelah menyeruput habis kopi yang telah disiapkan istrinya, ayah bergegas untuk mandi.
Terdengar suara dari depan rumah, suara yang tak asing ditelinga ibu dan ayah. Mayang segera melangkahkan kaki menuju ruang depan, namun langkahnya terhenti setelah perkataan dari ibunya.
"Biar ibu sama ayah, kamu disini saja," ucap ibu dengan sorot mata serius.
Mayang penasaran siapa tamu yang datang sepagi ini. Berusaha mengintip dari balik celah dinding bambu. Wajahnya berubah seketika, ternyata renternir Darmin yang bertandang sepagi ini.
"Darso! Aku ingin segera menginginkan uang itu!" Teriaknya tanpa basa basi.
"Baik, tapi lihat dulu mana buku rincian hutang - hutang ku!" Jawab ayah dengan tegas.
"Itu alasan kamu sajakan, ingin mengelak untuk membayar hutangmu padaku!" ucap ketus Darmin pada ayah.
"Aku ingin melihatnya Darmin! setelah itu baru ku bayar hutang - hutang ku pada mu," ucap keras ayah sekali lagi.
Ternyata nyali Darmin menjadi ciut mendengar suara keras ayah yang menginginkan catatan hutang piutangnya didalam pembukuan renternir mata keranjang itu.
Darmin berteriak, memanggil centengnya yang berdiri dengan diam dibelakangnya.
Salah satu diantara mereka berdua maju kedepan menyerahkan sebuah buku berwarna merah. Dengan sigap Darmin mencari daftar peminjam yang ada di buku tersebut.
Cukup lama karena buku itu tebal, berarti banyak orang - orang kampung yang telah terjerat masuk kedalam perangkapnya. Terpaksa meminjam uang dengan berbagai macam alasan.
"Ini kau lihat besar hutang mu!" Teriaknya kembali seraya menyerahkan buku tebal berwarna merah tersebut pada ayah.
Dengan teliti ayah memeriksa setiap rincian dicatatan buku tebal berwarna merah itu. Ada selisih hitungan disana dan Darmin tak mau mengakuinya. Dia beranggapan semua yang tercatat disana adalah benar.
Walaupun ayah tidak bersekolah tinggi hanya pernah duduk disekolah sederajat sekolah dasar pada saat ini. Ayah tahu bahwa ini terjadi kesalahan perhitungan.
"Sekarang kau harus bayar sebesar yang tercatat dibuku itu, " teriaknya seraya merebut kembali buku tebal berwarna merah.
Ayah pucat karena hitungannya sama dengan jumlah uang yang ada ditangannya. Pada siapa harus meminjam uang tambahannya.
__ADS_1
"Apa yang harus dilakukannya? Untuk menutupi kekurangan itu," batin Ayah.
"Mudah saja kalau kau tak mampu membayar hutang mu," ucap lelaki tua dihadapan ayah dengan senyum sinis diujung bibirnya.
"Serahkan saja putrimu, dengan begitu hutangmu akan lunas!" Ucapnya.
"Jadi ini tujuan mu sebenarnya!" Ucap ketus ayah pada Darmin.
Ha... Ha...Ha...
Tawa keras Darmin mendengar perkataan dari ayahnya.
Dirinya merasa sudah menang dihadapan keluarga Mayang. Impiannya memperistrikan anak gadis Darso segera terwujud.
Ayah masuk kedalam kamar dan mengambil uang yang ada didalam lemari pakaianya.
"Ini uang mu!" Ucap Ayah dengan meletakkan lembaran uang yang terikat berwarna merah.
Darmin terkejut setelah melihat tumpukan uang diatas meja bambu itu. Dirinya tak menyangka bahwa Darso ayah Mayang memiliki uang sebanyak itu.
"Dari mana kau mendapatkan uang secepat itu?" Tanya lelaki tua itu penuh penasaran.
"Itu bukan urusan mu" Jawab singkat ayah.
"Baiklah, tapi ini masih kurang! Kalau kau tak bisa memberikannya, maka aku akan membawa anak gadismu, bekerja dirumah ku selama satu bulan agar menyicil sisa hutang mu yang tertinggal 1 juta itu," Ujarnya kembali dengan senyum kemenangan.
"Tidak... Aku tak setuju." Jawab ayah dengan sorot mata tajam dan sudah terpancing emosinya pada lelaki yang ada dihadapannya itu.
Darmin melihat Ayah membentaknya, emosinya meningkat. Dengan kilat dirinya berteriak memberi perintah pada centengnya.
"Bawa anak gadis Darso sekarang!" Perintah Darmin pada kedua centengnya.
"Siap" Jawab serentak centengnya.
Mayang yang sedari tadi mengintip berlari kearah dapur, lalu bersembunyi dibalik pintu dapur tersebut.
Kedua centeng Darmin menemukan Mayang yang bersembunyi, ditariknya dengan paksa lengan Mayang dan diseret keluar rumah oleh kedua lelaki yang berbadan kekar tersebut.
Tanpa rasa belas kasihan kedua lelaki bertubuh kekar tersebut menarik paksa agar mengikuti perintahnya. Mayang berontak dengan cara memukul tubuh lelaki tersebut, namun apalah daya pukulannya tak sedikitpun menghentikan tidakan mereka berdua.
###
Bergabung ke group Author yuup
Jangan lupa like ๐๐๐and komen๐๐
Plzz rate dan votenya ditunggu๐๐
Salam Hangatโคโค
__ADS_1
Lemb@yung ๐๐