Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 72 Menungu Jawaban


__ADS_3

Semua mata tertuju pada Hanum setelah perkataan Bram secara langsung dihadapan semua orang.


Hanum hanya menundukkan kepala tanpa keluar satu kata pun dari mulutnya.


Melihat sikap Hanum yang tidak mengatakan apapun menyebabkan Bram mendekatinya lalu memegang tangan Hanum dengan erat.


Hanum menatap wajah Bram tepat sekali dihadapannya. Ia masih mengunci mulutnya hanya isyarat matanya yang berbicara meminta untuk memahami keadaannya.


Rupanya Bram mengetahui arti isyarat dari sorot mata Hanum. Sehingga Bram pun berkata: " Baiklah aku tak akan memaksa mu, tapi satu hal yang harus kau ketahui aku akan tetap menunggu saat waktu itu tiba", ungkap Bram dengan kesungguhan.


Semua yang mendengar perkataan Bram barusan menjadi sedih sekaligus berharap ia benar bisa memegang janji yang telah diucapkannya itu.


Papa Bram menepuk lembut pundak Bram seakan memberikan semangat untuk putranya agar tetap bertahan dan berjuang mendapatkan hati Hanum.


"Kak Bram tenang aja, masih ada Nina yang akan bujuk kak Hanum tuk buka sedikit demi sedikit hatinya buat kak Bram, ditunggu aja ya?, celoteh Nina mencairkan suasana menjadi lebih santai.

__ADS_1


Mendengar celotehan adik bungsunya Hanum hanya tersenyum tipis.


"Nah sekarang kamu mau jadi mak comblang ceritanya?, ungkap Hani dengan sorot mata menggoda.


Mendengar ucapan Hani membuat semua orang yang ada didalam ruangan menjadi tertawa kecil.


"Maaf bu saya pamit dulu kemungkinan putra bungsu ku sudah waktunya pulang kerumah jadi harus segara sampai lebih dulu darinya", ucap bude.


"Baiklah kalau begitu ayah juga mau istirahat dulu dirumah karena ketika sampai kekota ini langsung kemari", ungkap ayah


"Bram mengapa dimalam Hanum melahirkan kenap kamu berdiri lama didepan rumah Hanum? , tanya ibu dengan keseriusan.


Bram bercerita dengan penuh keteraturan dan terbayang kembali kejadian pada malam itu.


" Dimalam setibanya dikota ini, saya dijemput dengan sopir lalu dia bawa kesebuah hotel yang biasa saya menginap. Diperjalanan menuju hotel tiba-tiba hati saya teringat akan Hanum", ungkap Bram dengan nada sendu kemudian melanjutkan ceritanya kembali.

__ADS_1


"*Ada suatu perasaan berat jika saya tidak bertemu saat itu juga walaupun saya sudah berjanji pada Dika. Dada saya sesak dan pikiranpun tak lepas dari Hanum.


Karena merasa bersalah saya hanya melihat depan rumah Dika yang sepi seperti tak ada kehidupan. Cukup lama saya berdiri didepan pintu berharap dapat melihat Hanum. Ketika mau bertamu cuma khawatir Dika tak menerima saya.


Akhirnya saya didatangi oleh tetangga Hanum yang memperhatikan tingkah laku saya yang berada didepan halaman rumah orang pada jam yang tak layak bertamu. Rupanya perasaan yang saya rasakan karena Hanum mau melahirkan*", ungkap Bram dengan mengakhiri cerita.


Mendengar penjelasan dari Bram ibu yskin bahwa laki-laki ini memang sudah terikat erat dengan putri kesayangan nya. Tetapi mengapa putrinya tak memberikan kesempatan untuk Bram menebus rasa bersalahnya.


Pikiran ibu melayang mencari jawaban atas pertanyaan yang ada dikepalanya.


"Bu, saya berahap sekali cucu saya bisa benar-benar bersama ayah kandungnya", ungkap mama Bram.


Mendengar perkataan orang tua Bram Hanum hanya bisa terdiam seribu bahasa.


"Maafkan aku Bram yang belum bisa menerima mu didalam hati ini. Rasa sakit ku yang teramat dalam masih kurasakan akibat teramat mencinta seseorang sehingga rasa itu melukai diri ku sendiri", ucap Hanum dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2