
Tak mau sedikitpun Bram beranjak pergi dari ruangan dimana Hanum dirawat. Wanita yang sangat dicintainya masih terbujur kaku diatas kasur dengan wajah pucat.
Bram duduk tepat disamping tempat tidur Hanum. Ada perasaan lega bahwa Istrinya mampu melewati masa kritisnya.
"Sayaang..." Sapa lirih Hanum pada suaminya yang ada disamping dengan wajah tertunduk seraya memegang tangan Hanum.
Mendengar suara Hanum, seketika Bram menjadi histeris. Ada rona kebahagian terpancar diwajahnya.
"Sayang..." Sahut Bram dengan mencium pipi Hanum.
Tak sadar Bram mencium mesrah berulang - ulang kali pada pipi Hanum sangking bahagianya melihat Hanum telah siuman.
"Mana Fairuz?" Tanya Hanum karena pasti putrinya menagis melihat kondisinya seperti ini.
Bram memberitahu bahwa putri kecilnya bersama Nina, tak lepas mata Bram menatap wajah istrinya tersebut dengan senyum menghiasi diwajah tampannya.
"Bagaimana kondisi Galang?" Tanya Hanum yang seketika wajahnya berubah menjadi sedih.
Mendengar perkataan suaminya ada sedikit kelegaan dihati Hanum bahwa Galangpun telah sadar dari pasca operasi besarnya.
"Hantarkan saya, menemuinya," ucap Hanum pada suaminya.
"Sayang, bukanya aku tak boleh tetapi Galang masih belum bisa dikunjungi, dia butuh perawatan yang intensif pasca operasi besarnya. Lagian kau pun tak boleh berjalan jauh, harus banyak istrirahat dan jangan memikirkan apapun," jawab Bram seraya membelai lembut wajah istrinya itu.
__ADS_1
Hanum menuruti perkataan suaminya dan tak memaksakan kehendaknya pada Bram.
"Maafkan aku, telah memperburuk keadaaan," ucap Hanum dengan bulir lembut jatuh diujung matanya.
Dengan ibu jari Bram menyeka bulir bening tersebut yang jatuh dipipi Hanum. Dengan penuh kasih dan sorot mata penuh cinta Bram memandang wajah istrinya.
"Jangan dipikirkan lagi, beristirahatlah dan berusahalah segera pulih, aku sangat merindukan masakanmu dan ingin mencium aroma lembut rambut mu ketika terbangun dari tidur," ucap Bram dengan senyum yang menawan dan sentuhan lembut tepat dihidung Hanum.
Senyum menghiasi wajah pucat Hanum mendengar rayuan manis dari suaminya. Tak menyangka Bram pandai membuat hatinya terhibur.
"Sayang...Apakah memang aku keguguran? " Tanya Hanum dengan penasaran.
"Ya, dokter mengatakan bahwa calon bayi kita tak dapat diselamatkan. Jangan bersedih karena Tuhan lebih sayang padanya..." Ungkap Bram dengan bijak agar Hanum tidak larut dalam kesedihan akan kehilangan buah hatinya.
Hanum menangis dipelukan suaminya, dengan lembut dibelai kepala istrinya dengan mesrah. Mencium puncak kepala istrinya, seraya berkata "Menangislah, hilangkan semua beban yang ada dihatimu sayang..."
Kedua orangtua Bram melihat adegan romantis dari putranya terlihat bahagia dan senyum mengembang diujung bibirnya mereka berdua.
Serara ikut merasakan kesedihan dan kebahagian yang Bram dan Hanum rasakan.
***
Ibu Galang membuka kamar dimana putranya terbaring diatas kasur. Dari kejauhan ibunya telah tersenyum melihat Galang mampu melewati masa kritisnya.
__ADS_1
"Putraku..." Sapa ibu seraya menggenggam erat tangan Galang.
Galang tersenyum melihat wajah ibunya yang lama tak bertemu semenjak perpisahannya dengan Intan. Ada gurat rindu yang terpancar diwajah keduanya.
"Bu..." Jawab Galang dengan suara pelan.
Ibu Galang membelai lembut lengan Galang, seraya mencium punggung tangan putranya.
"Jangan tinggalkan ibu Nak..." Sahutnya dengan mata berkaca - kaca.
Galang mencium kembali tangan ibunya seraya berkata " Maafkan aku yang telah membuat mu khawatir."
Bulir bening mengalir diwajah wanita paruh baya tersebut, tak kuasa menahan tangisnya sedari tadi.
###
Menurut Reader wanita seperti apa yang cocok untuk Galang?, biar babang tamvan merasakan kebahagiannya bersama wanita yang mampu membuka hatinya....
Jangan lupa Like ππ, Komentar π dan Rate Bintang 5 π
Plusss vote sebanyak - banyaknya πππ
πSalam Hangat Lemb@yungπ
__ADS_1
πππTerima Kasih ππ