
Bintang dan Galang menikmati ubi goreng hangat buatan Mayang dengan menyeruput kopi hitam khas daerah ini. Dimana tempat tinggal Mayang tersebut merupakan daerah penghasil kopi.
Makanan yang jarang sekali mereka temukan dikota, terasa nikmat dengan paduan secangkir kopi hitam.
Emmm... Enaknya Poool
"Rasanya aku tak pernah temukan kopi senikmat ini," celetuk Bintang seraya masih memegang cangkir kopi ditangannya.
Mendengar sahabatnya itu berbicara hatinya sedikit terusik, dengan rayuan gombal yang barusan terlontarkan dari mulut sahabatnya itu.
Mentari mulai beranjak keatas, udara yang terasa sejuk kini mulai menghangatkan tubuh. Daerah Mayang terletak diantara bukit nan hijau. Sepanjang mata memandang maka terlihat seyuk dimata.
Ayah yang semula terdiam, merasakan sakit disekujur tubuhnya, berusaha bangkit dan berjalan menuju kedua orang lelaki yang tengah asik menikmati hidangan yang diberikan Mayang.
"Eh... Kenapa bapak berdiri," ucap Galang yang terkejut melihat lelaki tua itu berusaha berjalan dengan pelan menuju ruang tamu.
Ayah yang berjalan dengan memegang perutnya yang masih terasa sakit akibat tendangan yang dilakukan Darmin. Perlahan duduk dikursi bambu dengan wajah masih meringis menahan sakit dibagian perutnya.
"Tak apa Den, hati saya rasa tak puas kalau tak berbicara langsung pada Aden berdua," ungkap ayah pada kedua lelaki itu.
"Saya sangat berterima kasih, atas bantuan yang diberikan oleh Aden berdua. Kalau tak ada entah apalah jadinya keluarga saya," ucap ayah dengan suara pelan dan sedih.
"Terlebih terhadap putri saya yang dapat terselamatkan dari lelaki hidung belang seperti Darmin," ucap ayah kembali dengan menghela nafas panjang.
Galang sangat prihatin pada lelaki paruh baya dihadapannya, dengan luka lebam diseluruh tubuhnya, demi mempertahankan kehormatan keluarganya.
"Tak perlu Pak seperti itu, saya hanya tak ingin melihat dimata saya, ada seseorang memperlakukan orang lain sekasar dan sekejam lelaki itu." Balas Galang dengan senyum menghiasi diwajahnya.
Lelaki tua tersebut menatap dalam Galang, seakan ada sesuatu dari sorot matanya. Namun tak diungkapkannya melalui kata - kata. Galang dapat merasakan itu semua.
"Tuan saya telah siap," tiba - tiba Mayang muncul dihadapan mereka bertiga.
Melihat putrinya yang telah berganti pakaian dengan sebuah tas pakaian ditangannya. Kelihatanya putrinya telah siap berangkat pulang kekota bersama dua laki - laki dihadapannya.
"Titip anak gadis saya Den, semoga dia bisa pandai menjaga sikap dan bisa mengerjakan semua pekerjaannya disana dengan baik, " ujar ayah Mayang kembali berbicara.
Galang tersenyum mendengar perkataan lelaki paruh baya dihadapannya itu.
Ibu yang semula didapur turut serta keluar dan berusaha menahan tangis yang sedari tadi ditahannya.
"Baik - baik disana Ndok, jaga sikap mu! Ingat kamu anak orang yang tak punya jadi berbuatanlah yang terbaik, harta kita tak punya tapi jaga lah harga diri dan kehormatan keluarga mu," ucap ibu Mayang seraya memeluk erat tubuh putrinya itu.
__ADS_1
"Ngeh Mbok (Ya Bu)." Balas singkat Mayang dengan bulir bening telah membasahi paras cantiknya.
Pelukan Mayang terasa sangat berbeda dari sewaktu dirinya berangkat pertama kali untuk mengubah nasib dikota.
Kalau dulu ada serberkas asa untuk memulai melangkahkan kaki pergi dari kampung halaman. Sedangkan sekarang ia telah mengetahui tujuannya, bahwa dengan bekerja keras maka dirinya dapat segera menepati janjinya untuk membayar hutang pada keluarga Menik.
Galang melihat adegan dihadapannya merasakan sesuatu dihatinya. Debaran yang dirinya tak tahu apa rasa dihatinya itu.
Kedua lelaki tersebut berpamitan dan segera menuju mobil yang terparkir dihalaman depan rumah Mayang. Bintang berjalan lebih dulu seraya meminta Mayang untuk menyerahkan tas pakaian yang dipegangnya.
Mayang duduk dikursi belakang bersama Galang, sedangkan sahabatnya menjadi driver mereka berdua.
Ibu melambaikan tangan menatap mobil sampai menghilang dari pandanganya. Ada rasa kehilangan kembali dihati wanita paruh baya itu. Berusaha kuat dan tegar ditanamkan dihatinya bahwa putrinya akan tahu jalan untuk kembali pulang.
Ayah menatap wajah istrinya yang berjalan memasuki ruang tengah dimana dirinya terbaring diatas dipan kayu.
"Apa Mayang sudah pergi?" Tanya suaminya.
Ibu menganggukkan kepalanya, sebuah isyarat bahwa benar apa yang ditanyakan oleh suaminya. Kemudian duduk disamping suaminya yang sedang terbaring.
"Mayang akan tahu jalan pulang kan pak?" menayakan pertanyaan yang ada dihatinya.
"Putri kita adalah anak yang mencintai keluarganya, buktinya dia rela melepas cita - citanya untuk melanjutkan kuliah demi membantu kita membayar hutang itu, " Ujar suaminya meyakinkan hati istrinya yang rapuh.
Bulir bening menetes dikedua wajah orangtua Mayang, mereka larut dalam kesedihan akan putra pertama mereka berdua.
****
Mayang merasa canggung duduk berdekatan, sangat dekat dengan majikannya tersebut. Suara hening menyelimut mereka bertiga. Hanya terdengar suara dari radio yang sengaja diputar Bintang memecah keheningan malam dan rasa kantuk yang mendera dirinya.
Galang berusaha mencairkan suasana ditengah perjalanan itu, berusaha mengikuti lirik lagu pada radio yang sedang memutar sebuah lagu dari salah satu penyanyi Diva Indonesia.
Ternyata Galang memiliki suara yang merdu, Mayang menikmati setiap lirik lagu yang diikuti Galang. Galang tersenyum melirik gadis muda disampingnya yang mulai merasa nyaman berada disampingnya.
Ternyata dibalik spion tengah Bintang memperhatikan aktivitas orang yang duduk dibelakangnya. Ada senyum menghiasi wajahnya, walau rasa suka terhadap Mayang harus dikuburnya dalam - dalam.
Bintang akan mengalah terhadap cintanya, karena rasa persahabatan diantara mereka berdua. Dirinya akan merasa bahagia jika Galang mampu menghilangkan bayang - bayang Hanum didalam hidupnya.
"Sahabatnya itu harus merasakan kebahagiaan dicintai seorang perempuan yang sangat mencintainya," batin Bintang seraya tetap fokus mengendalikan mobil yang sedang dikendarainya.
"Mayang, mengapa sampai orangtua mu memiliki urusan terhadap lelaki hidung belang itu," tiba - tiba Galang membuka bicaranya.
__ADS_1
Mayang kembali mengingat cerita yang telah disampaikan padanya, bagaimana ayahnya terjerat dengan renternir yang bernama Darmin tersebut.
Galang terenyuh mendengar cerita keluarga Mayang begitu juga Bintang yang ikut juga mendengar pembicaraan mereka berdua yang duduk dibelakangnya.
"Wajar kau merasa ingin cepat pulang, karena ada masalah yang sedang menjerat keluarga mu," Tukas Galang setelah mendengar cerita Mayang.
Mayang merasa ada sesuatu yang berat dihatinya, rasa rindu untuk segera bertemu keluarganya. Ternyata itu semua jerit tangis kedua orangtuanya yang meminta bantuan melalui doa yang selalu dipanjatkan disetiap sujud mereka. Melalui dirinya masalah tersebut terselesaikan dengan baik.
"Apakah benar, kau memberikan semua gaji mu untuk membayar hutang ayah mu?" Tanya Galang kembali.
Mayang menganggukan kepalanya...
"Aku akan mengganti itu semua, termasuk uang yang dipinjamkan sahabat mu itu," ucap Galang dengan suara deru mobil yang melaju dengan kencang.
Mayang terheyak seketika mendengar apa yang disampaikan majikan yang duduk disampingnya itu. Bintang hanya tersenyum mendengar perkataan Galang.
Apa yang ditebaknya dihati semakin memperlihatkan kebenarannya.
"Tuan, tak perlu begitu. Saya akan bekerja keras untuk menyicil semua hutang ayah saya," balas Mayang dengan suara penuh keyakinan.
"Ya benar, kau akan seumur hidup bekerja dengan ku, " ucap Galang seraya menatap wajah Mayang.
Bintang yang mendengar balasan dari perkataan Mayang, terselip tawa kecil dibibirnya.
"Galang.... Galang... Kenapa kau tak berterus terang saja," batin Bintang dihatinya.
###
Hy Reader setia, jangan lupa klik jempol manisnya setelah membaca.
π₯π₯π₯
Plus rate bintang lima dan komentarnya.
π’π’π’
Jangan lupa vote sebanyak - banyaknya...
π₯π₯π₯
β€Salam Hangatβ€
__ADS_1
ππLemb@yung ππ