
Bram lupa kalau sejak semalam ia tak menggantikan pakaiannya. Ia hanyut dengan kebahagian yang ia rasakan sekarang bersama putri kecilnya dan Hanum.
"Ibu kok belum sampai juga?, tanya Hanum pada Bram seraya menyusui putri kecilnya itu.
Awalnya Hanum merasa malu harus menyusui putrinya didepan mata Bram. Melihat putri nya mulai rewel dan haus terpaksa Hanum melakukannya dihadapan Bram.
Bram mengetahui bahwa Hanum merasa malu pada saat menyusui putrinya. Bram berpura-pura tidak melihat adegan itu.
Bram merasakan moment sebuah keluarga bahagia. Dimana ada istri dan buah hati yang menjadi pengikatnya. Khayalan itu terlintas dalam pikiran Bram tanpa disadari ia tersenyum sendiri dan Hanum sedang memperhatikannya seraya tersenyum juga.
Seakan Hanum tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Bram.
"Bram bisa kah tolong saya?, tanya Hanum pada Bram.
Bram sengaja menjauh dan tak melihat aktivitas Hanum pada saat menyusui putri kecilnya mendekat.Ternyata putri kecilnya sudah tertidur pulas dipangkuan Hanum setelah kenyang menyusu pada Ibunya.
__ADS_1
Disentuh oleh Bram dengan pelan pipi merah putrinya yang telah tertidur pulas sehingga membuat putrinya mengeliat karena terasa sentuhan tangan Bram. Putri kecilnya masih ada dipangkuan Hanum dan meminta Bram untuk menidurkanya kedalam box bayi yang telah tersedia dikamar tersebut.
Bram dengan pelan mengambil dari pangkuan Hanum agar putri kecilnya itu tidak terbangun pada saat diangkat.
Kemudian bram melihat Hanum berusaha ingin merebahkan tubuhnya karena pinggangnya mulai merasakan nyeri akibat terlalu lama sudah ia pada posisi duduk.
Dengan sigap Bram meraih bahu dan punggung Hanum agar kembali pada posisi tidur. Terasa sekali hembusan nafas Bram diwajah Hanum dan aroma dari parfum yang dikenakan Bram.
Tak lama Hanum tertidur kembali dan dengan sabar Bram menjaga Hanum berserta putrinya. Terdengar suara sapa dari luar ruangan dan Bram dengan refleks membuka pintu tersebut.
"Maaf terlalu lama menunggu jadi merepotkan", ucap ibu pada Bram seraya tersenyum.
"Tidak apa-apa dan saya tak merasa kerepotan. Lagian ia putri saya juga", jawab Bram tanpa memikirkan bude yang ada disamping mereka berdua.
Wajah bude berubah mendengar perkataan Bram. Memunculkan pertanyan besar dihati bude.
__ADS_1
"siapa laki-laki yang ada dihadapannya itu. Mengapa ia mengatakan purtinya padahal jelas suami Hanum adalah Dika." besit bude dalam hati.
Pikiran bude melayang mencari jawaban dari pertanyaan yang ada dikepalanya. Tanpa ia sadari Bram telah pergi dari hadapannya.
Bram berjanji akan kembali lagi setelah ia membersihkan dirinya terlebih dahulu. Ia akan menginap dikamar ini. Walaupun ia sudah disiapkan sebuah kamar hotel, miliknya dikota ini selama pertemuan klien yang akan ia lakukan.
Ibu melihat perubahan wajah tetangganya itu. ibu tahu bahwa bude merasa terkejut dengan perkataan Bram barusan.
"Bagaimana aku menjelaskan", besit hati ibu.
Hanum masih dalam keadaan tidur dan ibu melihat cucunya yang ada didalam box bayi yang juga dalam keadaan tertidur.
Bude yang masih terpaku berdiri didepan pintu. Ibu mengajak bude untuk duduk disofa. Ternyata Bram telah memesan kamar yang bagus buat putrinya.
Dengan suara yang lirih ibu memulai cerita kepada bude. Ibu merasa bude orang yang dapat dipercaya dan telah dianggap Hanum sebagai penggantinya dikota ini.
__ADS_1
Ada bulir benih yang menetes dipipi bude setelah mendengar semua cerita kelam yang terjadi pada Hanum.