
Brian tak hentinya tersenyum bahagia, seakan senyumnya itu enggan hilang dari wajahnya.
"Selamat aunti, cepat sembuh biar bisa main sama Fay." Suara manja putri kecil Hanum membuat wajahnya tambah menggemaskan semua orang yang melihatnya.
"Pandainya cucu oma," ucap mama berdiri lalu mencium dan memeluk cucunya yang sangat disayanginya.
Mama Bram tak bisa berpaling dari sikap gemasnya terhadap cucunya itu. Hanya saudari perempuan Bram yang tak menyukai kedekatan putri Hanum dengan mamanya.
Hanum berusaha mencari udara segar berjalan menuju taman yang tak jauh dari ruang inap Hani.
"Kau dengan adik perempuan mu itu sama saja! Tak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkan pria kaya. Dengan kondisi yang menyedihkan itu kau jebak kak Brian untuk mau menikahi gadis cacat seperti itu! Bagai disambar petir Hanum mendengar adik iparnya yang tiba - tiba datang menghampirinya.
Gemetar tubuh Hanum atas perkataan Laura terhadap keluarganya. Hinaan yang diberikan pada keluarganya. Hanum terpancing emosinya untuk menjaga harga diri dan martabat keluarganya.
"Kami memang orang kampung sangat berbeda jauh dari keluarga mu. Harta memang kami tak punya hanya harga diri yang kami junjung tinggi. Jangan pernah menghina kami, kami tak pernah menjual harga diri kami dengan uang ataupun sebuah kedudukan. Kau bisa tanyakan langsung pada orangtua dan saudara laki-laki mu itu!" Dengan tegas Hanum mengatakan itu semua pada saudara perempuan Bram.
Merah padam wajah saudari perempuan Bram mendengar perkataan wanita yang dianggapnya lemah itu. Telinganya terasa panas.
Seketika Laura ingin menampar wajah Hanum dengan refleks Hanum langsung memegang pergelangan tangan wanita muda itu.
"Tak sepatutnya wanita dari kelas atas dan berpendidikan bertingkah laku seperti mu."
__ADS_1
Perkataan Hanum memukul telak diwajah Laura.
Tangan Laura ditarik oleh sahabatnya agar tidak melanjutkan apa yang ia lakukan terhadap Hanum. Clara melihat Bram sudah memperhatikan mereka bertiga sedari tadi.
"Sudah hentikan, Bram melihat mu!" Ucap Clara mengingatkan sahabatnya itu.
Clara memandang Hanum yang telah berlalu dan melihat lelaki itu menyambut dengan penuh cinta menatap Hanum.
"Tunggu saja, akan ku hancurkan harga diri mu itu," suara kesal Clara melihat kebahagiaan yang Hanum dapatkan dari lelaki incarannya itu.
"Apa yang dilakukan mereka berdua pada mu?" Bram mencoba mencari tahu apa yang saudari perempuannya bersama Clara itu lakukan pada istrinya.
Hanum hanya tersenyum tak menjawab sedikit pun apa yang terjadi pada suaminya. Ia tak mau dibilang sebagai istri yang suka mengadukan hal apapun pada suami.
Bram merasa makin jatuh hati dengan pribadi Hanum yang tidak mau menjelekkan keluarganya walau sudah diperlakukan sedemikian hingga.
"Baiklah sayang, apapun itu aku sangat percaya kau mampu mengatasinya dan aku makin jatuh hati padamu," mencuil hidung istrinya dengan lembut seraya tersenyum.
Hanum tersipu malu, rona merah diwajahnya berusaha ditutupinya dihadapan suaminya itu. Tiba-tiba Bram merangkul bahu Hanum sambil berjalan menuju luar rumah sakit tersebut.
"Kita akan rehat sebentar, biarkan saja Fay bermain dengan Nina," dengan wajah nakal Bram nenatap wajah istrinya.
__ADS_1
Hanum mengerti akan isyarat yang didapat dari sorot mata suaminya itu. sekali lagi Hanum tersipu malu menatap wajah genit suaminya.
Mobil telah menunggu diparkiran rumah sakit tersebut Mereka berdua naik dengan mobil yang cukup lama menunggu mereka berdua.
Mencuil pinggul Hanum seraya berkata: "Kita akan habiskan malam ini berdua ya sayang."
Sebenarnya gurauan suaminya adalah hal yang benar diinginkannya, yaitu memiliki seorang anak kembali.
###
Like 👍👍
Komen 📩
Rate bintang 5🌟🌟🌟🌟🌟
Tanda hati sebagai tulisan favorite ❤❤❤
Votenya sebanyak banyaknya 📢📢📢
Terima Kasih...🙏🙏
__ADS_1
Salam Hangat Lemb@gung