
Bram telah mengajak Hanum terbang menuju pusat kota dimana ia akan membina rumah tangga bersama wanita yang sangat dicintainya itu.
Hanya tinggal Hani yang terasa sedih dengan kepergian keponakan dan kakaknya. Seperti ada yang hilang dirumah ini.
"Nak Hani jangan sedih kan ada bude disini, jangan merasa kesepian. Anggap bude adalah orangtua nak Hani", ucap bude membelai rambut Hani yang sedih ditinggal Hanum dan ponakannya.
Hani memeluk wanita paruh baya seperti ibunya itu dengan erat. Bulir bening membasahi wajahnya. Terlihat jelas raut wajahnya penuh dengan kesedihan.
"Han kalau butuh apa pun dan minta diantar kemanapun bilang saja pada ku", ucap putra bungsu bude dengan tersenyum.
Malam ini terasa sangat sunyi biasa terdengar celotehan keponakannya. Hani habiskan malam ini dengan duduk didepan teras rumah.
Terdengar dering dari ponselnya, wajahnya tersenyum setelah melihat panggilan yang masuk keponselnya. Segera ia menerima panggilan dari kakaknya.
Terdengar suara Hanum berbicara : " Dek kakak dah sampai sekarang dirumah orangtuanya Bram. Apakah kau baik-baik saja? akan ada Brian yang sering menemui mu untuk apapun katakan saja padanya".
"Mengapa mereka berdua tak bertanya dulu kepada ku, aku bisa kok menjaga diriku sendiri. Kenapa juga aku harus melaporkan segala sesuatu pada lelaki tua itu. Mana bisa berteman yang ada kita berantem mulu", ungkap Hani dalam hati setelah menerima panggilan dari kakaknya.
Kembali ia larut dalam kesedihan dan membayangkan Brian akan selalu ada disampingnya yang membuat hari-hari buruk baginya.
"Hy,,,sapa putra bungsu bude yang telah lama berdiri didepan Hani.
__ADS_1
Lamunan Hani terbuyar karena kedatangan putra bunsu bude.
"Mas, maaf tak mengetahui kehadiran mas", ucap Hani merasa bersalah.
"Panjang lamunanmu dek, sampai mas dah lama berdiri disini kamu tak melihatnya", ungkap putra bungsu bude dengan senyum tipis diwajahnya.
Kedatangan putra bungsu bude membawa warna tersendiri malam ini. Hani cukup terhibur dengan obrolan lelaki itu.
Mereka tertawa dan sesekali Hani refleks memukul pundak lelaki itu karena mendengar kelucuan cerita yang disampaikannya.
Malam semakin larut dan mereka masih asik mengobrol didepan teras. Tanpa disadari mereka berdua ada seseorang yang memperhatikan tingkah laku mereka berdua sedari tadi dari kejauhan.
"Baiklah mas kalau tak merepotkan", jawab Hani dengan senyum manisnya seraya berlalu pergi masuk kedalam rumah.
Brian yang sedari tadi memperhatikan Hani bersama pemuda itu merasa kesal. Entah ada sesuatu yang membuatnya sakit hati melihat kedekatan Hani dengan pemuda itu.
"Manis banget ia bicara dengan lelaki itu, dengan wajahnya yang ceria ia habiskan mengobrol sampai jam segini dengan lelaki itu", ungkap Brian dalam hati dengan kesal.
Bram meminta Brian untuk mengawasi adik iparnya itu karena permintaan dari istrinya. Hanum khawatir meninggalkan adiknya seorang diri dikota itu.
"Kalau tidak karena mu Bram, sudah malas aku bertemu dengan gadis ingusan itu. Selalu saja ada pertengkaran jika aku bertemu dengannya", ungkap Brian dalam Hati masih dengan rasa kesal.
__ADS_1
Timbul rasa bingung dihati Brian terhadap gadis belia itu. Ketika gadis itu bersama lelaki tadi tak ada perselisihan diantara mereka. Obrolan mereka serasa mengalir begitu saja dan menyambung satu sama lain.
"Mengapa dengan ku tidak? , ucap Brian bingung dengan keadaan yang terjadi.
Ada sesuatu yang aneh dihatinya. Ketika berdekatan membuatnya kesal tetapi ketika berjauhan ia merasakan ada sesuatu yang berbeda pada dirinya.
###
Like 👍👍
Komen 📩
Rate bintang 5🌟🌟🌟🌟🌟
Tanda hati sebagai tulisan favorite ❤❤❤
Votenya sebanyak banyaknya 📢📢📢
Terima Kasih...🙏🙏
Salam Hangat Lemb@gung
__ADS_1