Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 177 Tak Terselamatkan


__ADS_3

Angin malam bertiup sangat lembut, menyentuh tubuh Bram. Dipandangnya orang yang berlalu lalang dikoridor rumah sakit.


Bram masih terpaku didepan ruang operasi menunggu kabar dari dalam ruangan tersebut.


Pintu ruang tersebut terbuka dan seorang perawat keluar seraya memanggil salah satu keluarga pasien.


Segera Bram mendekati perawat yang ada didepan pintu ruang operasi.


"Saya suaminya Sus," ucap Bram dengan rasa cemas meyelimuti wajahnya.


"Dokter ingin bicara pada Bapak," jawab perawat tersebut seraya mengajak kedalam ruangan dokter yang dimaksudnya.


Bram mendengar secara seksama apa yang dikatakan dokter tersebut. Dengan perasaan hancur Bram mendengar ditelinganya bahwa Hanum sedang mengadung dua bulan.


Hanum banyak mengeluarkan darah sehingga kandungan nya tak dapat diselamatkan. Dokter harus mengangkat janin yang ada didalam rahim Hanum.


"Apakah istri saya tahu akan hal ini dok?" Tanya Bram dengan sorot mata penuh kesedihan.


"Istri Bapak masih dalam kondisi tidak sadar!" Jawab dokter dengan wajah turut bersimpati.

__ADS_1


Dokter tersebut memberikan saran pada Bram agar jangan begitu larut dalam kesedihan akan kehilangan calon bayinya dihadapan Hanum, karena memperburuk kondisi kejiwaan sang ibu pasca keguguran.


Menganggukan kepala pertanda Bram mengerti apa yang disampaikan oleh dokter tersebut.


Perasaanya sedikit lega karena istrinya terselamatkan walau harus kehilangan buah hatinya. Bram hanya menunggu sampai istrinya sadar dari bius total yang diberikan padanya.


***


Ibu Galang telah mengetahui semua penjelasan dari dokter. Butuh perawatan intensif bagi Galang agar dapat kembali pada keadaan semula.


"Begitu besar cintamu nak... Pada Hanum sehingga kau mau mempertaruhkan nyawamu sendiri! " Ungkap wanita paruh baya tersebut seraya meneteskan bulir bening diwajahnya dengan menghela nafas panjang.


"Kalau dulu tak ku pisahkan dirimu pada wanita itu tak akan jadi seperti ini," timbul rasa penyesalan dihatinya melihat besarnya cinta anaknya pada Hanum.


Dengan sedikit terkejut ibu Galang kembali menatap dokter dengan perasaan bercampur aduk.


"Apakah ada pertanyaan Bu?" Tanya dokter tersebut.


Ibu hanya menggelengkan kepalanya, berusaha mengerti apa yang disampaikan dokter tersebut.

__ADS_1


"Segera sadarlah nak, "batin ibu Galang.


Setelah keluar dari ruang dokter yang telah menangani Galang, wanita paruh baya tersebut bertemu dengan mama Bram yang juga cemas memikirkan putra dari wanita dihadapannya.


"Bagaimana keadaan putra ibu?" Tanya mama Bram dengan nada cemas dan khawatir.


Ibu Galang menatap wajah wanita dihadapannya. Ada isyarat melalui bola matanya bahwa wanita tersebut memang benar tulus mengkhawatir putranya.


"Maaf kalau putra ibu menjadi korban dari tragedi penyanderaan putriku dan menantuku," ucap mama Bram dengan wajah tertunduk tak berani menatap wajah wanita yang merupakan seorang ibu yang sedang bertaruh akan keselamatan putranya.


ibu Galang masih terdiam dan tak merespon ucapan mama Bram.


"Hanum adalah wanita yang sangat dicintainya," ucap ibu Galang.


"Dia sanggup berbuat apapun demi wanita yang sampai detik ini masih ada dihatinya, "lanjut ibu Galang.


"Rasa sesal dengan apa yang aku lakukan dahulu, aku tak menyadari bahwa putraku tak bisa hidup tanpa sosok Hanum," penjelasan yang membuat dada ibu Galang sesak dengan sorot mata penuh penyesalan.


Mama Bram mendengar perkataan wanita yang hampir seumuran dengan dirinya menjadi terkejut. Ternyata putranya adalah lelaki yang beruntung mendapatkan Hanum

__ADS_1


"Semoga putra ibu segera sembuh dan mendapatkan pengganti Hanum, memang sulit mendapatkan wanita seperti dia!" Ucap mama Bram.


Ibu Galang merasa benar - benar terpukul. Tiba - tiba perawat mengatakan bahwa Galang sudah sadar dari pingsan yang cukup lama akibat bius disaat kamar operasi.


__ADS_2