Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 11 Berjumpa Sahabat


__ADS_3

Ku pandang kalender yang ada dikamar. Ku hitung hari demi hari terasa berjalan begitu panjang dan lama.


Ku beri noktah merah disetiap hari dikalender tersebut. Terhitung tiga hari termasuk hari ini penantian ku berakhir.


Terlintas wajah sahabatku, aku lupa belum beritahu kabar bahagia ini. Ku putuskan untuk bertemu nya langsung dan menceritakan semua kepadanya.


Ya besok aku akan ke kota, ketempat dimana aku pernah menimba ilmu disana.


Setelah mendapatkan izin dari ayah, aku segera berangkat ke kota. Didalam perjalanan ternyata tertidur pulas.


Sopir membangunkan ku. "Neng sudah sampai mau dihantar kemana?, ucapnya."


Ku buka mata ku melihat kiri dan kanan jalan dari kaca mobil yang masih berjalan. "Oh sudah sampai disini, gumam ku dalan hati."


"Pak nanti ke arah jalan Nusa Wijaya ya, sampai disana ntar ku beritahu stopnya dimana," jawab ku.


Terlihat rumah cat kuning di sebelah kanan jalan dari kejauhan, seketika ku arahkan pak sopir untuk berhenti dirumah tersebut.


Ku ketuk pintu rumah tiga kali baru terdengar suara dari dalam. Ibunya Dina yang membuka pintu dengan wajah kanget setelah melihat ku.


"Hanum.. Lama tak bertemu. Apa kabar mu nak ?, tanya ibu seraya memeluk ku."


"Alhamdulillah baik bu." Jawab ku.

__ADS_1


Ku cium tangan wanita paruh baya itu. Ibu Dina sudah ku anggap sama seperti ibu kandung ku sendiri.


Begitu sebaliknya ibu Dina sudah menganggap aku sama seperti putri nya sendiri.


Begitulah kehidupan ku selama kuliah jika aku rindu maka aku tinggal memeluk ibu Dina serta beliau merasa tidak keberatan.


"Dina mana bu ?, tanya ku."


"Barusan pergi sebentar, ada yang dibelinya untuk keperluan sekolah. Paling sebentar lagi juga tiba," jawab ibu


Sekitar sepuluh menit terdengar suara motor memasuki halaman rumah. "itu pasti Dina, jawab ibu."


Tak berapa lama Dina masuk kedalam rumah. Dengan wajah terkejut Dina langsung setengah berteriak menyebut nama ku.


"Aku kangen, seraya memeluk ku erat."


"Sama aku juga Din, mempererat pelukan pada sahabat ku itu."


Ibu Dina yang sedari tadi melihat drama kami berdua tersenyum sambil menggelengkan kepala. Begini lah kalau dua orang yang sedang rindu berat.


"Eeeh!!....Dina hentikan!. Biarkan Hanum istirahat dulu, dia baru saja sampai dirumah ini, ujar ibu Dina."


"Ayo !, kemari aku ada banyak pertanyaan buat mu Hanum ?, ajak Dina sembari menyeret tangan ku masuk kedalam kamarnya."

__ADS_1


"Istirahat aja dulu, ntar malam baru kita curhat sepuas hati! hehehe, seraya mengedipkan mata."


Akhirnya Malam kami habiskan untuk berbicara ngalor ngidul artinya tak tentu arah yang penting semua dibicarakan.


Disela gelak tawa ku bwrsama Dina lalu berkata:" Aku akan menikah."


Seketika Dina menghentikan ketawanya. "Serius ini ? menatap mataku untuk memastikan apa yang barusan didengarnya."


"Ya." Seraya menundukkan kepala menyembunyikan rona merah dipipi.


"Aku ikut bahagia sahabat ku, ternyata dirimu sudah menemukan tempat untuk berlabuh lebih dahulu ketimbang aku," ungkap Dina dengan wajah berseri.


"Apakah dengan kk Galang ?, tanya Dina."


"Ya." Jawab ku tersipu malu.


"Selamat ya, seraya memeluk ku kembali dengan erat."


Aku berharap ini benar-benar akan terjadi seperti sudah berada diujung mata. Tetapi hati ku gelisah seperti akan ada sesuatu yang terjadi.


Sebuah perasaan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata. semakin dekat hari yang direncanakan membuat hati ku semakin gelisah.


Entah apa yang merasuki ku sehingga perasaan gelisah dan khawatir berlebihan.

__ADS_1


Ku coba tepis jauh semua itu, semoga hanya kegelisahan ku yang tak beralasan akibat menunggu yang terlalu lama.


__ADS_2