Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 215 Penerusku


__ADS_3

Mentari menyibak malam yang pekat, memberikan seberkas cahaya kebahagian yang terpancar diwajah keduanya.


Hanum membelai lembut pipi merah putra kecilnya yang sedang tertidur dipangkuannya setelah puas menyusu. Disampingnya ada sosok lelaki yang tak lepas pandangannya menatap mereka berdua.


Dengan berat hampir 4 kg bayi berjenis kelamin laki - laki itu terlihat seperti duplikat suaminya. Mata, hidung mulut dan parasnya yang imut membuat orang pasti melihat duplikat kedua dari Bram sewaktu kecil.


"Mirip ya Pa..." Ungkap mama Bram yang sedari tadi juga memperhatikan cucunya tersebut.


Suaminya menganggukkan kepalanya pertanda bahwa setuju dengan apa yang dikatakan istrinya.


"Dia adalah penerus dan pengganti Bram didalam keluarga Atmajha Ma... " Balas suaminya yang dengan penuh kebahagian dan kebanggaan mengatakan itu pada istri dan semua orang yang ada diruangan tersebut.


Semua orang yang melihat pasti akan setuju, paras wajah bayi tersebut seakan melihat Bram versi orok alias bayi. Sangking miripnya Bram dengan putra kecil yang barusan dilahirkan istrinya.


"Ini harus diberikan pada orang lain, karena wajah putra Hanum sangat mirip sekali dengan suaminya, ini jarus dijual biar rumah tangga ini langgeng, "ujar ibu pada Hanum dengan wajah penuh keseriusan.


"Apa...!" Papa Bram terperanjat mendengar kata - kata besan perempuannya tersebut.


Dirinya baru saja sangat bahagia mendapatkan penerus. Tetapi kenapa tiba - tiba mendengar perkataan ibu Hanum, papa Bram menjadi gusar karena tak mengerti maksud dari perkataan wanita yang berdiri disamping Hanum.


Semua orang tersenyum melihat wajah lelaki paruh baya tersebut yang terlihat bingung bercampur gelisah.


"Dijual itu maksudnya buka dijual seperti pengertian umumnya, akan tetapi diberikan keorang lain sebagai isyarat agar rumah tangga ini beruntung. Itu hanya kepercayaan sebagian orang saja, jika mendapatkan anak laki -laki yang wajahnya sama persis dengan suami, atau anak perempuan yang wajahnya sama persis dengan istri. Isyarat diberikan keorang lain dan meminta kepada orang yang diberikan itu untuk kita menjaganya atau istilahnya dianggap anak mereka yang dititipkan pada kita," ungkap ayah Hanum pada besannya tersebut.


Lelaki paruh baya tersebut masih tak mengerti, terlihat diwajahnya yang masih menaikkan dahinya.

__ADS_1


"Pokoknya Pa... Ini tetap cucu papa hanya istilahnya aja diberikan keorang lain," ujar istrinya memberikan penjelasan.


Barulah suaminya tersenyum mendengar perkataan istrinya. Wajah gelisah bercampur cemas telah sirna seketika mendengar ucapan istrinya.


"Baru saja senang mendapatkan cucu laki - laki. Eh...! Tiba - tiba mau dikasih saja ke orang lain! " Ucap papa Bram spontan dan menyebabkan semua orang tertawa kecil mendengarnya.


Bram ikut tertawa seraya menghampiri orangtuanya tersebut. Lalu berkata : "Tenang Pa...Bram akan jaga penerus papa ini."


Dengan lembut Bram menepuk bahu lelaki paruh baya tersebut.


Tok... Tok... tok...


Terdengar suara pintu yang diketuk, suara terdengar dari luar ruangan tersebut. Segera ayah Hanum membuka pintu. Rupanya putri keduanya yang berdiri bersama suaminya dihadapan dirinya.


"Mari masuk... Nak, " ucap ayah seraya tersenyum menatap anak dan menantunya tersebut.


"Selamat Bram," ucap Brian seraya memeluk erat tubuh sahabatnya sekaligus atasannya tersebut.


Kedua lelaki seumuran tersebut seakan saling merasakan kebahagiaan yang sama. Pelukan mereka cukup lama, seakan memberikan suatu kekuatan akan keberhasilan mereka berdua.


Brian merasa dirinya bahagia dapat membantu Bram dalam mencapai kebahagiaan pada sebuah keluarga yang sekarang sangat dicintai dan dilindunginya tersebut. Sedangkan melalui Bram yang merupakan sahabat sekaligus asistennya, Brian dapat bertemu jodohnya yaitu adik dari istrinya.


Mereka berdua merasakan kebahagian, walaupun dihati kecil Brian terbesit pada Hani yang sampi saat ini belum memperlihatkan tanda - tanda akan memberikan keturunan padanya.


"Kak... Apa boleh saya coba gendong? "Ujar adik tengahnya tersebut.

__ADS_1


Semua mata tertuju pada Hani, melihat cara dirinya menggendong bayi mungil tersebut tanpa ada rasa canggung dan kaku. Hani sudah terbiasa menggendong dan mengurus bayi sewaktu Hanum melahirkan anak pertamanya yaitu Fairuz kecil.


"Kau harus cepat menyusul menjadi lelaki sejati! " Bisik Bram meledek Brian.


Brian tersenyum kecut, seakan bisikan sahabatnya tersebut menusuk langsung dihatinya. Brian teringat kembali akan perkataan dokter sewaktu itu.


Flashback On


"Pak, bersabarlah ya... Istri bapak ini subur dan begitu juga bapak sendiri. Cuma karena istri bapak pernah mengalami kecelakaan dibagian area panggul, maka berkemungkinan akan memperlambat proses kehamilan pada istri bapak. Tapi bapak jangan berkecil hati semua itu kita kembalikan saja pada Sang pencipta. Jika kataNya akan segera mendapatkan keturunan maka keluarnya bapak dari ruangan saya ini maka bisa saja istri bapak akan hamil." Ungkap penjelasan dokter kandungan dengan panjang lebar yang biasa mereka berdua berkonsultasi.


###


πŸ˜ŠπŸ™ Besar harapan Author agar para Reader tidak hanya membaca tetapi juga menghargai hasil karya tulisan Author dengan cara:


πŸ’œBoom like sehabis bacaπŸ‘πŸ‘πŸ‘


πŸ’›Komentar yang membangun atau memberi semangat disetiap episode nya 😊


πŸ’šRate bintang ⭐5 dengan menglik dipojok bagian kanan atas bergambar 🌟


πŸ’™ vote sebanyak banyaknya kalau bisa jangan hanya 10 tapi 1000 ya πŸ˜‰dengan mengklik dibagian pojok atas sebelah kanan bertulis VOTE.


❀Trus beri tanda hati setelah kalian membaca, biar kita tambah mesrah ya Reader tercinta... 😍😍


Bergabung digroup chat Author yup πŸ“©

__ADS_1


Author tunggu ya.. Reader setia baik yang baru nimbrung atau yang dah berakar dihatinya Babang tamvaaan Bram dan siMbak Hanumnya 😍😎


__ADS_2