
Sedari tadi Mayang mencoba untuk memejamkan mata, berusaha mengambil posisi senyaman mungkin agar mata ini terpejam. Pikirannya masih seputar perkataan Tuan muda, tak ada yang lain.
"Apakah nantinya aku bisa jatuh cinta padanya? Batin Mayang bertanya dalam hatinya.
Ada rasa bimbang dihatinya, untuk menerima atau menolak permohonan Galang. Begitu banyak yang harus dipikirkannya. Tidak hanya tentang perasaan pribadi namun melainkan semuanya, Mayang harus mempertimbangkan kebahagian seluruh anggota keluarganya akan keputusan yang diambilnya.
"Tuan telah sangat baik padaku, jika aku tak menjadi istrinya maka butuh waktu lama aku akan mencapai cita - cita ku untuk melanjutkan studi. Trisno jalaran soko kulino (Cinta hadir karena kebiasaan)" ungkap hati Mayang dengan penuh keyakinan.
Tok... Tok.. Tok
Terdengar suara ketuk pintu dari luar kamar Mayang, membuyarkan lamunannya. Suara Bik Ijah menyapa dari luar kamar.
"Noon...Udah tidur belum? Sapa Bik Ijah dengan tergesa -gesa.
Mayang bangkit dari tidurnya lalu berjalan sekitar tiga langkah dari tempat tidur maka akan menemukan pintu keluar dari kamar Mayang.
"Non, bibik tak menganggukan?" ucap wanita paruh baya tersebut yang masih berdiri didepan pintu.
Mayang mengeluarkan senyum manisnya, seraya mempersilahkan Bik Ijah masuk kedalam kamarnya.
"Ada apa Bik? " Balasnya dengan suara terdengar penasaran.
"Besok malam akan ada pesta dirumah ini, jadi bibik membutuhkan bantuan mu untuk memasak berbagai menu kesukaan Nyonya dan Tuan muda, " ujar bibik dengan suara terdengar tanpa jeda.
"Emang dalam rangka apa? " Balasnya dengan wajah masih menyimpan rasa penasaran.
Bik Ijah menceritakan semua, baru malam ini Nyonya bicara pada ku. Dirinya ingin merayakan sebuah pesta bersama keluarga terdekatnya. Pesta yang diadakan dalam rangka ulang tahun Tuan muda.
"Baiklah Bik, saya siap membantu. Bik ada yang ingin ku beritahu," ujar Mayang berhenti sejenak mengambil nafas yang panjang.
"Ada apa Non? sahut Bik Ijah dengan cepat dan penuh penasaran.
__ADS_1
Mmmm...
Mayang ragu untuk memulai membicarakan tentang apa yang terlintas dipikirannya tadi.
"Tuan muda meminta saya untuk menjadi istrinya..." Ucap Mayang dengan terbata - bata.
"Apaaa! " Teriak Bik Ijah spontan setelah perkataan Mayang terdengar ditelinganya.
"Non! Ga salah dengar apa ya...? Yang Bibik dengar ditelinga ini? Ucap wanita paruh baya yang masih tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Benar Bik, Tuan meminta saya menjadi istrinya, " balas Mayang mengulang kembali perkataannya.
Bik Ijah terdiam sejenak, pikirannya melayang tak tentu arah. Ditatapnya dalam wajah gadis muda yng ada tepat dihadapannya itu.
"Non.. kita ini orang kecil, jangan bermimpi untuk menjadi salah satu bagian dari keluarga yang berderajat tingggi, Tuan muda memang memiliki karakter yang baik dan sangat perduli sama orang - orang seperti kita ini. Tapi jangan salah beranggapan lebih, nantinya membuat kita kecewa, " ujar Bik Ijah yang beranggapan bahwa Mayang salah mengartikan kebaikan majikannya.
"Ya Bik, aku tahu status ku dirumah ini! Tapi bukan aku yang salah mengartikan maksud tuan Galang, melainkan kata - kata itu keluar dari mulut dia sendiri mengatakan ingin aku jadi istrinya." Ungkap Mayang dengan kesungguhan tanpa ada unsur berbohong terlihat jelas disorot matanya.
Mayang menggelengkan kepalanya pertanda bahwa dirinya tak mengetahui apakah telah ada kata setuju dari orangtua Galang.
"Aku tak tahu Bik, Tuan sudah membicarakan ini semua atau belum pada Nyonya, " balas Mayang dengan suara pelan.
Wanita itu mengangguk - anggukan kepala pertanda seakan ikut berpikir keras.
"Non, Nyonya itu termasuk orangtua yang selektif dengan calon istri, dulu ada wanita yang sangat dicintai oleh Tuan muda namun tak mendapatkan restu dari Nyonya. Dan akhirnya cinta mereka berdua harus kandas ditengah jalan. Tuan dinikahkan dengan salah satu anak dari kenalan nyonya yaitu Non Intan. Namu pernikahan tersebut tak berjalan sesuai dengan harapan Nyonya dan akhirnya berakhir di meja hijau. Tuan menggugat cerai istrinya yang sangat mencintai Tuan setelah mengetahui sebuah sandiwara besar yang diperankan ibunya untuk memutuskan hubungan dengan wanita yang dicintai Tuan muda." Ungkap Bik Ijah dengan sendu dan layaknya seorang ibu memberikan pandangan pada anaknya.
Mayang menyimak dengan serius setiap cerita yang mengalir dari mulut wanita paruh baya tersebut. Ada rasa gundah dihatinya, dan kebimbangan semakin bertambah setelah mendengar cerita tersebut.
"Jadi Tuan sebelumnya telah pernah menikah? Trus pernah punya wanita yang sangat dicintainya!" Tanya Mayang kembali pada asisten rumah tangga Galang yang telah lama bekerja dan tahu banyak setiap yang terjadi didalam rumah tersebut.
"Ya benar Non, makanya bibik khawatir jika memang benar Tuan muda menginginkan Non menjadi istrinya, namun apakah nyonya merestuinya, " jawab Bik Ijah dengan suara pelan dan lirih.
__ADS_1
Bik Ijah tak ingin Mayang menjadi menantu yang tersakiti oleh mertua yang tak merestui pernikahannya. Bik Ijah telah merasakan sendiri rasa tak diterima dikeluarga mertua.
"Jadi bibik sarankan tanya sama Tuan, Apakah ibunya merestui keputusan dirinya, " ujar Bik Ijah kembali.
"Baik Bik, namun apakah saya bisa mencintainya Bik? Jika seadainya nyonya menerima keputusan Tuan. Jujur saat ini yang ada dalam pikiran saya adalah melunasi hutang ayah trus kuliah dan mencari kerja. Tak ada waktu untuk memikirkan perasaan apalagi cinta pada seseorang." ungkap Mayang pada wanita yang ada dihadapannya.
"Apa kau menyukainya? Balas bibik singkat dengan sorot mata penuh tanda tanya.
"Aku menyukainya Bik, Tuan adalah lelaki yang baik dan memiliki kepribadian dan karakter yang santun dan bersahaja," ungkap Mayang dengan kepolosannya.
"Itu saja sudah cukup, cinta akan hadir seiring perjalanan waktu dan kebersamaan didalam rumah tangga kalian, namun rumah tangga itu harus mendapatkan restu oleh kedua orangtua baik orangtua mu maupun orangtua Tuan muda, " ucap Bik Ijah seraya menggenggam erat tangan Mayang dan membelai lembut wajah gadis muda tersebut dengan tersenyum.
"Tuan telah menjatuhkan hati lagi dan pilihannya adalah dirimu Ndok...! Tinggal menunggu restu dari Nyonya. Bibik do'a kan semoga beliau merestui maksud baik dari putra semata wayangnya.
"Amin... " Seraya serentak Mayang dan Bik Ijah mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan yang telah menengadah keatas.
###
ππ Besar harapan Author agar para Reader tidak hanya membaca tetapi juga menghargai hasil karya tulisan Author dengan cara:
πBoom like sehabis bacaπππ
πKomentar yang membangun atau memberi semangat disetiap episode nya π
πRate bintang β5 dengan menglik dipojok bagian kanan atas bergambar π
π vote sebanyak banyaknya kalau bisa jangan hanya 10 tapi 1000 ya π dengan mengklik dibagian pojok atas sebelah kanan bertulis VOTE.
β€Trus beri tanda hati setelah kalian membaca, biar kita tambah mesra ya Reader tercinta... ππ
Bergabung digroup chat Author yup π©
__ADS_1
Author tunggu ya...ππ