
Pukul 11:05 siang, di salah datu Universitas tempat kebanyakan muda mudi menggali ilmu, sekelompok para ladies terlihat di kantin kampus sedang asik bercanda gurau, hari ini mereka merasa senang karena hari ini mereka lengkap, sebab sahabat mereka Vera pun sudah masuk kuliah.
Yap, Vera sudah di izin kan untuk kuliah oleh Davvien, begitu pun juga dengan Davvien dia sudah mulai pergi ke kantor setelah satu Minggu full berada di rumah menemani sang istri.
"Uh... gw tuh senang banget, loe udah bisa kuliah lagi Ra, kemaren kita cuman bertiga nggak asih tau kalau kita tidak lengkap"
Ucap Tania dengan senyuman mengembang di bibirnya.
"Iya Ra, tapi kenapa loe hari ini bisa kuliah apa suami loe udah ngebolehin?
Tanya Intan yang tau kalau Vera tidak kuliah karna Davvien melarangnya.
"Dia awalnya tidak mengizinkan aku untuk kuliah, bahkan dia tidak membiarkan aku keluar rumah tanpa di dampingi nya, kalian bisa bayangkan seperti apa terkekang nya aku"
Jawab Vera seraya membuat wajah nya menyedihkan.
"Terus kenapa hari ini loe bisa kuliah"
"Ya aku ancam saja kalau dia masih melarang ku intuk pergi kuliah aku tidak akan makan apapun lagi dan tidak akan minum susu hamil lagi"
"Terus, dia langsung izinin kamu?"
Sambung Rani.
"Awalnya dia juga ragu, tapi akhirnya dia mengizinkan ku, dia paling tidak bisa kalau aku tidak makan apa lagi sekarang kan ada anak nya di sini, padhal aku hanya mengancam, mana tahan aku kalau tidak makan, bagaimana pun anak ku juga butuh asupan yang cukup"
"Dasar kamu ya, dari dulu kamu memang banyak akal Ra, tapi salut deh sama suami kamu, dia benar benar ngejagain kamu, kamu beruntung Ra"
Celetuk Intan, dia sangat bahagia karna sahabat bisa mendapatkan kebahagiaan, meski kisah percintaan nya tidak seberuntung Vera.
"Iya Tan, aku bahagia walaupun sifat nya sangat manja dan posesif tapi itu membuat ku semakin sayang sama dia, ya meskipun sifat posesif nya berlebihan, bahkan hari ini dia mengantar ku ke kampus, dan pulang dari sini dia menyuruh supir untuk mengantar kan ku ke kantor nya"
Vera tidak tau saja, kalau Davvien bukan hanya menyuruh supir menjemput nya, tapi Davvien juga menyuruh beberapa anak buah nya untuk mengikuti kemana pun Vera pergi, Davvien sengaja menyuruh anak buah nya supaya mengutuki Vera dari kejauhan dan tidak di ketahui oleh Vera agar istrinya tidak merasa risih.
"Ya itu tanda nya di perduli sama loe Ra"
Jawab Tania, dia juga sangat iri dengan kebahagiaan sahabatnya itu, bukan iri ingin merebut, tapi dia juga ingin jika Aldi akan semanis Davvien.
Tapi kan prinsip seseorang berbeda beda, semua punya caranya sendiri membuat pasangan nya bahagia.
"Eh Tan, Nia ntar malam loe ikut gw ya, kalau Vera mah nggak bisa di ajak lagi"
"Kemana memang nya?"
Tanya Tania penasaran.
"Ke rumah Riki, papanya ulang tahun"
"Oh ya ya, kemaren kak Riki sama kak Aldi juga ke rumah ngundang mas Davvien"
Jawab Vera dia ingat kalau kemaren dia dan suaminya juga di undang ke pesta ulang tahun papa nya Riki.
"Iya Riki mengundang kalian semua"
"Gw juga ingat, Aldi kemaren ngajakin gw untuk pergi ke pestanya papa temen nya, mungkin memang kak Riki, ya maaf ya Ran, gw udah terlanjur janji sama Aldi"
"Berarti tinggal loe Tan, loe mau kan nemenin gw ke sana"
"Ih ogah, gw nggak di undang ngapain gw ke sana"
"Ada kok, beneran Riki menyuruh gw buat ngundang temen-temen gw, please loe mau ya"
Rani membuat wajah memohon, hingga membuat ketiga sahabat nya itu curiga dan menatap nya dengan penuh tanda tanya.
"Tunggu, tapi kenapa kak Riki malah ngundang loe, dan menyuruh loe buat ngundang kita, emang nya loe kenal sama kak Riki?"
Tanya Vera mengintimidasi Rani.
"Iya Ran, bukan nya loe kenal sama kak Riki di acara pernikahan Vera, dan kalian hanya berkenalan, selepas itu kalian hanya cuek bahkan tidak bicara?"
__ADS_1
Tania pun curiga, karna mengingat kalau Rani dan Riki waktu itu terkesan sama sama tidak perduli.
Sedangkan Rani sudah merasa terpojok, dia jadi terjebak omongan nya sendiri, ketiga sahabat nya menatap Rani dengan lekat.
"Jangan-jangan selama ini loe sering menghilang karna sering pergi sama kak Riki ya. Dan sering sibuk dengan ponsel loe saat bersamaan kami loe chatting sama kak Riki"
Glekkk
Rani menelan ludah nya kasar, dia kalang kabut bingung menjawab pertanyaan dari sahabat nya yang super kepo itu.
"Gw,, gw duluan, Tan ntar sore gw jemput, loe nggak usah dandan gw akan bawa loe ke salon"
Rani langsung bergegas pergi meninggalkan sahabat nya yang masih penasaran.
"Rani,,,,,,,,"
Teriak mereka bertiga merasa kesal karna Rani melarikan diri.
Makan siang pun selesai, mereka bertiga melangkah menuju parkir, dan di sana mereka berpisah.
Vera langsung masuk ke dalam mobil yang sudah di tunggu pak Toni, sedangkan Tani dan Intan mereka membawa mobil masing-masing.
Mereka pun meninggalkan halaman kampus dengan tujuan yang berbeda.
Sekitar empat puluh menit, mobil yang membawa Vera sudah sampai di kantor pencakar langit, bangunan yang terlihat kokoh menjulang tinggi ke atas awan. Vera turun dia pun melangkah masuk, ini yang kedua kalinya Vera menginjakkan kaki di kantor suaminya.
Vera tersenyum kepada semua kariyawan di sana, dia langsung memasuki lift, para karyawan sebagian sudah mengetahui kalau Vera adalah istri dari CEO mereka tapi ada sebagian yang lain belum mengetahui nya, bahkan mereka yang tidak tau siapa perempuan yang dua kali datang ke kantor dan menemui CEO mereka tanpa segan-segan mengatai Vera.
Pintu lift terbuka, Vera keluar dan berjalan menuju ruangan kerja sang suami.
Vera pun melihat Fero di dalam ruangan nya sedang fokus dengan pekerjaan, Vera bertanya pada Fero, dan Fero pun menjawab kalau Davvien ada di ruangan nya.
Ceklek,,,
"Sayang"
"Sudah sampai sayang, kenapa tidak memberi tau ku biar aku turun menjemput mu"
Davvien langsung memeluk sang istri, mencium kepala, kening mata bahkan seluruh wajah Vera.
"Tidak apa apa sayang, kan aku juga tidak akan tersesat jika kau tak menjemput ku"
Ucap Vera sambil terkekeh.
Davvien pun membawa sang istri duduk di pangkuan nya, lalu mengelus perut sang istri.
"Halo anak Papa apa kabar"
Davvien berbicara pada perut Vera yang sedikit membuncit.
Vera tersenyum, di elus nya wajah sang suami.
"Apa dia membuat mu pusing saat di kampus?"
Tanya Davvien, dia memegang tangan Vera yang berada di wajah nya lalu di kecup nya dengan begitu lembut.
"Tidak sayang, dia sangat baik dan tau kalau mama nya sedang belajar"
Vera tersenyum, begitupun dengan Davvien.
"Good baby, kamu memang tidak boleh sering membuat mama sakit"
Davvien mencium perut Vera, dia pun memeluk sang istri dengan begitu erat, kepala nya di letakkan di dada Vera menghirup dalam dalam aroma tubuh Vera yang selalu bisa menenangkan nya.
"Sayang"
Panggil Davvien lembut, Vera menatap wajah suaminya, terlihat kalau sang suami sedang menginginkan sesuatu, dan kalian pasti tau kan.
"Apa boleh?"
__ADS_1
Davvien bertanya dengan suara yang sudah parau, mata nya sudah sayu menahan gairah dalam dirinya, mana mungkin Vera bisa menolak nya.
"Tapi janji dulu"
"Janji apa sayang"
Davvien sudah mencium leher putih milik Vera.
"Kalau nanti malam kita akan ke pesta papanya kak Riki"
Davvien menghentikan aksinya.
"Kenapa kamu sangat ingin pergi ke sana heum?"
"Aku bosan di rumah, lagian semua sahabat ku juga datang, kan aku juga pengen ke pesta, aku juga sudah lama tidak datang ke pesta, aku hanya ingin"
Davvien tersenyum saat melihat sang istri menunduk kan kepalanya.
"Baiklah sayang, kita akan pergi tapi sekarang tenang kan tuan J duku yang sudah marah karna dia sudah tidak tahan ingin segera mendapatkan jatah"
Bisik Davvien, dia langsung mencium bibir sang istri.
Ciuman mereka berawal dari lembut, lembut, hingga memanas, Davvien mencium sudah sangat rakus, sekarang ciuman nya turun pada leher Vera, menghisap, menggigit hingga menimbulkan warna merah kehitaman di leher jenjang milik sang istri.
Davvien mengangkat Vera tanpa melepaskan ciuman mereka, saat dia sampai di dalam kamar yang berada di ruangan kerja milik nya, Davvien membaringkan Vera dengan begitu lembut, bibir mereka masih terpaut, rasanya mereka tidak rela bila melepaskan ciuman mereka walau hanya sedetik.
Tapi tiba-tiba Davvien teringat sesuatu, dia pun melepaskan ciuman nya.
"Apa kamu sudah makan sayang?"
Tanya Davvien dnegan suara berat, Vera tersenyum, bahkan dalam keadaan gairah yang sudah memuncak suaminya itu masih perduli dengan dirinya.
"Sudah tadi di kampus, kamu sendiri sudah makan suamiku?"
Davvien kembali mencium bibir Vera tanpa menjawab pertanyaan istrinya.
"Aku sudah cukup dengan memakan mu sayang"
Bisik Davvien di telinga Vera, sedangkan Vera langsung mengubah posisi mereka, menjadi Vera yang di atas, ntah kenapa semenjak hamil Vera tambah agresif, tanpa malu dia sering memimpin permainan mereka, dia pun juga sering memberikan stempel di leher suaminya.
Kini kamar yang tadinya sunyi sekarang sudah di penuhi dengan suara ******* ken*kmatan dari pasangan suami istri yang sedang memadu kasih.
...----------------...
Sedangkan sebuah ruangan kantor yang luas juga sangat rapi, ruangan dengan sebelah berdinding kaca dan dinding yang bernuansa putih, di sofa dalam ruangan tersebut terlihat seorang perempuan cantik dan pria baru baya sedang duduk bersama.
"Papa bangga dengan bakat mu sayang, kau telah berhasil meyakinkan perusahaan Anggara untuk bekerja sama dengan kita"
Elsa tersenyum saat sang papa memuji kemampuan nya.
"Aku ini sekolah di luar negri, tentu saja aku berbakat"
"Ha ha ha yaya papa percaya sama kamu"
Papa Elsa tersenyum bangga atas pencapaian sang putri tercinta.
"Kalau begitu papa pulang dulu, nanti malam papa mau pergi ke acara ulang tahun rekan bisnis papa"
"Heum baik lah, tapi siapa Pa?"
Tanya Elsa penasaran, dia yang merasa jenuh di rumah berniat meminta agar dirinya saja yang datang ke pesta tersebut.
"Om Dion, apa kamu ingat, anak nya dulu berteman baik dengan mu, dia juga teman nya Davvien"
Ucap papa Elsa, dia sengaja menyebut nama Davvien, karna papa Elsa tau kalau anak nya itu pernah menjalin hubungan dengan pengusaha sukses itu, papa Elsa tidak tau kalau Davvien sudah menikah, dia pun berharap kalau Elsa kembali mendapatkan Davvien.
Sedangkan Elsa semakin berinisiatif meminta pada sang papa agar dirinya saja yang datang ke pesta papa nya Riki, senyuman terbit di bibir merah Elsa, dia merasa senang karna ini akan jadi kesempatan yang bagus bagi Elsa, dia akan menjadi kan momen ini seolah-olah mereka bertemu secara kebetulan.
~Bersambung
__ADS_1