Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Cemburu


__ADS_3

Setelah mencoba menghubungi Vera beberapa kali tapi masih tetap tidak bisa di hubungi, Davvien mengajak Fero pulang.


"Fero ayo kita pulang"


"Eh,, kenapa buru buru"


"Vera tidak bisa di hubungi, aku takut dia kenapa napa"


"Tapi kita ada pertemuan dengan kliyen baru dari penanam saham di perusahaan tuan Fernando"


"Aku tidak perduli, ayo kita pulang"


"Tidak bisa gitu tuan, mereka mau menarik saham dari perusahaan tuan Fernando dengan bekerja sama dengan perusahaan kita"


"Lalu Vera bagaimana, kau berani membantah ku Fero, kalau nanti istri ku kenapa napa bagaimana"


Fero menciut karna Davvien sudah memasang wajah buas nya.


"Tunggu biar aku coba hubungi"


"Percuma saja Fero, aku yang suaminya saja handphonenya tidak bisa di hubungi"


"Aku coba dulu"


"Memang apa hubungannya suami dengan handphone Vera yang tidak bisa di hubungi, emang ponsel juga bisa pilih kasih"


Batin Fero sambil menghubungi Vera. menurut nya akhir akhir ini perkataan Davvien banyak yang ngawur.


Vera yang baru selesai berbicara sama Daddy nya menaruh benda pipih di atas meja, dan dia juga mau menonton TV sama Intan, tapi baru satu detik Vera meletakkan ponsel nya di atas meja benda itu kembali berdering.


Vera mengambil ponsel nya dan melihat nama sang penelepon.


"Kak Fero"


"Halo kak"


Vera langsung mengangkat telpon dari Fero.


Sedangkan di kantor, saat mendengar Vera menjawab telpon dari Fero Davvien langsung mengambil ponsel dari tangan Fero.


"Halo sayang, kamu kemana aja kenapa aku telpon nggak bisa di hubungin tapi saat kutu kupret jelek ini yang telpon kamu malah mengangkat nya, katakan apa yang terjadi apa kamu baik baik saja"


Vera langsung mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan beruntun dari Davvien.


"E aku, memang kapan tuan menelpon saya"


"Dari tadi, udah beribu ribu kali aku mencoba menelpon mu tapi tidak bisa di hubungi"


Padahal dia hanya menelpon tiga kali.


"Oe...saya barusan berbicara sama Daddy tuan, mungkin karna itu tuan tidak bisa menghubungi saya"


"Heum, lain kali angkat telpon dari ku jangan dari orang lain, katakan apa kamu baik baik saja"


"Iya, baik tuan memang nya kenapa"


"Tidak, cuma ingin bertanya"


"Eum apa tuan sudah makan siang"


Tanya Vera yang membuat Davvien berbunga-bunga, padahal cuma di tanya hal yang sepele.


"Sudah, barusan si kutu kupret memesan makanan"


"Siapa kuti kupret tuan"


"Siapa lagi, si Fero jelek"


"Apa, dia mengatakan aku jelek dan apa dia memanggil aku kutu kupret benar benar bos tak berterima kasih, untung aku menghubungi Vera, tapi dia malah mengataiku jelek"


Umpat Fero dalam hati, mendengar Davvien mengatainya.


"Kenapa di panggil begitu tuan, kak Fero tampan kok orang nya"


Jawab Vera polos, Davvien yang semula nya berbunga bunga bagai kan terbang ke awan karna Vera menanyakan dia sudah makan langsung terjatuh ke tanah saat mendengar istrinya memuji pria lain, dia saja belum pernah Vera di bilang tampan oleh Vera.


Davvien langsung melemah saat mendengar itu.


"Ya sudah, jaga dirimu"


Davvien langsung mematikan sambungan nya dengan wajah langsung murung membuat Fero heran melihat perubahan mimik di wajah Davvien.


"Kenapa tuan"


Tanya Fero yang melihat perubahan wajah Davvein.


Prok,,


Fero kaget saat melihat ponselnya yang sudah hancur tidak berbentuk lagi.


Bugh,,,


Lagi lagi Fero terkejut saat bogem mentah mendarat di wajah tampan nya, sekarang wajah nya sudah sedikit jelek karna sudah lembam di buat Davvien.


"Sekarang keluarlah Fero, siapkan data kita akan berangkat menemui kliyen"


Davvien berujar dengan santai nya setelah melayang kan bogem di wajah asisten sekaligus sahabat nya itu.

__ADS_1


Tanpa menjawab Fero langsung keluar dengan memegang wajah nya yang sedikit nyeri.


"Kenapa dengan dia, apa otak nya sudah geser bahkan aku tidak tau di mana kesalahan ku dan ponsel ku, oh sungguh malang nya nasib ku, ponsel pengeluaran terbaru unlimited edition pecah berkeping keping dan itu di depan mata ku, oh oh sungguh kejam"


Fero terus mengumpat sambil terus melangkah ke ruangan nya, dia merasa bingung kenapa Davvien tiba tiba memukul nya.


Begitu pun dengan Vera dia merasa aneh saat Davvien yang semula begitu heboh seketika nada bicara nya langsung lemah dan mematikan sepihak.


"Dia seperti bunglon, selalu berubah-ubah, kadang baik kadang ngeselin"


"Kenapa Ra"


Tanya Intan mendengar Vera mengomel.


"Ntah lah, pria itu sangat aneh, tadi pagi sangat baik dan saat menelpon juga sangat heboh, tapi tiba tiba langsung berbicara ketus dan mematikan sambungan telpon sepihak, sangat tidak sopan"


"Memang kenapa"


"Ya mana aku tau, mungkin setan baik yang masuk pada nya udah keluar kali"


"Sembarang kamu Ra"


"Tapi beneran, aneh"


"Emang dia bilang apa"


"Tadi sebelum itu dia heboh nanyain kabar aku, terus dia bilang aku lebih memilih kak Fero karna mengangkat telpon dari kak Fero sedang kan saat dia menghubungi ku dia bilang nggak bisa di hubungi, mana bisa di hubungi aku kan sedang berbicara dengan Daddy"


"Oeh cuman karna itu?"


"Setelah itu dia masih baik, tapi dia malah mengatakan kak Fero kutu kupret dan bilang kalau kaka Fero jelek, ya aku jawab kalau kak Fero tampan eh dia langsung ketus dan memutuskan sambungan nya"


Jelas Vera, dia sudah bingung dengan tingkah Davvien, baru saja di perlakukan dengan baik eh udah ketus lagi.


Intan yang mendengar Vera mengatakan Fero tampan pun merasa tercubit, dia jadi tau apa yang di rasakan Davvien.


"Oeh suami mu cemburu kali Ra, karena loe bilang tuan Fero tampan bukan nya dia"


"Apa cemburu. hahahahah ada ada saja kamu Tan"


Vera tertawa mendengar Intan mengatakan kalau Davvien cemburu.


"Tapi beneran Ra, mungkin saja dia marah dengar kamu muji muji orang lain"


"Udah Tan, nih ya cemburu itu tempatnya pada orang yang sudah jatuh cinta"


"Emang loe nggak ngerasa apa, kalau suami loe udah cinta sama loe"


Vera terdiam saat di tanyai begitu.


"Loe sok tau Tan"


Vera berfikir lagi, apa iya suaminya itu sudah mencintai nya, tapi Vera membuang pikiran nya saat mengingat Davvien pernah mengatakan kalau dia tidak akan mencintai Vera bahkan dia melarang Vera mencintai nya.


"Udah becanda nya Tan, masak aja yuk"


"Heum ayok lah"


Mereka pun bangun dan melangkah ke dapur untuk memasak.


...----------------...


Tepat pukul 07:08 malam, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah, Vera dan Intan selesai solat magrib mereka duduk di sofa, Vera sangat penasaran dengan yang di ucapkan Intan, tapi Vera mencoba santai didepan Intan.


"Kalian sudah pulang"


Vera menghampiri Fero dan Davvien saat mereka masuk.


Davvien tidak menjawab, dia kembali dingin tepat nya seperti anak kecil sedang marah, dia ingin Vera bertanya padanya kenapa dia marah, yang benar saja kan Vera tidak tau kalau dia sedang marah.


(Hadeh.....babang Davvien ada ada saja😁🤭)


Vera langsung kaget melihat wajah lembam Fero.


"Ya ampun kak, kenapa dengan wajah kakak"


Tanya Vera, lagi lagi Davvien merasa amarahnya kembali memuncak saat melihat Vera begitu perhatian pada Fero.


"Tidak, ini tadi hanya terbentur pintu"


"Kok bisa, udah seperti anak kecil saja"


Vera terkekeh, dan di ikuti juga oleh Fero.


Davvien tidak ingin melihat drama di hadapan nya sekarang, kalau Vera tidak ada di sana mungkin dia sudah memutar kepala Fero ke belakang, dia pun melangkah.


"Eh tuan, sini aku bawakan tasnya"


Pinta Vera saat melihat Davvien pergi, tapi Davvien tak menghiraukan nya.


"Intan kau obati kak Fero dulu aku mau siapin baju untuk nya"


Vera pun langsung menyusul Davvien.


Intan kembali canggung saat di tinggal bersua dengan Fero.


"Mari tuan, saya obati"

__ADS_1


"Tidak perlu"


Fero langsung melangkah meninggalkan Intan yang merasa kesal pada Fero.


"Ish benar benar pria sombong, awas saja aku sumpahin kamu jatuh cinta sama aku, supaya kau membuang kesombongan mu itu"


Di kamar..


Vera sedang menyiapkan pakaian untuk Davvien, setelah Davvien masuk ke dalam kamar mandi.


Vera duduk di tepi ranjang berniat menunggu Davvien untuk makan malam, dia kembali berfikir dengan sikap Davvien yang kembali dingin, tapi sekarang berbeda dulu Davvien selalu marah marah, tapi sekarang Davvien cenderung menghindari nya, persis seperti anak kecil yang sedang ngambek sama ibu nya.


Ceklek..


Pintu mandi terbuka, Davvien keluar dengan handuk yang melilit di pinggang nya.


Vera tidak lagi berteriak, dia hanya memalingkan wajahnya.


"Tuan ini pakaian anda, segera lah bersiap lalu turun untuk makan malam"


Vera menyerahkan pakaian Davvien dengan masih memalingkan wajah nya.


Bukan Pakaian yang di ambil Davvien, tapi dia langsung menarik tangan Vera secara kasar hingga kepala Vera menabrak dada bidang nya yang polos.


Wajah Vera memerah juga terasa panas, jantung nya kembali di pompa saat wajah nya hanya berjarak beberapa senti dnegan dada polos suaminya, bahkan Vera bisa mencium harum sabun yang di gunakan Davvien.


"Lihat aku"


Ucap Davvien dingin, tapi Vera masih tidak berani.


"Vera lihat aku, apa kah kutu kupret itu lebih tampan dari ku"


Vera yang mendengar itu langsung mengangkat kepalanya, dia baru paham ternyata benar yang di katakan Intan Davvien marah karna itu, tapi apakan pria ini cemburu. pikir Intan.


"Jawab aku Vera, apa dia lebih tampan dari suami mu ini"


"E e Tuan, Jangan seperti ini, kau kenapa marah"


Vera tidak bisa menjawab, mana mungkin itu jika Fero tampan maka Davvien berpuluh-puluhan kali lebih tampan.


Tidak menghiraukan perkataan Vera Davvien malah mendekat kan wajah pada Vera, Vera kembali gelagapan apakah adegan tadi pagi akan kembali terulang pikirnya, Vera merasa sangat takut tapi ntah kenapa dia tidak melawan.


Davvien terus memajukan wajah nya pada wajah Vera, saat dia hendak mencium Vera dia melihat ketakutan di mata Vera, sesaat kesadaran nya Kembali, dia tidak ingin Vera ketakutan dan kembali tertekan mengingat perkataan dokter Hendri kalau Vera tidak boleh tertekan.


Dia pun melepaskan Vera lalu mengambil pakaian nya menuju ruangan ganti.


Vera menarik nafasnya dalam dalam, sekarang kebiasaan Davvien selalu membuat jantung nya heboh.


Setelah berpakaian mereka keluar kamar menuju meja makan, tidak ada yang berbicara keduanya sama sama terdiam.


Saat sampai di meja makan sudah ada Intan dan Fero di sana, mereka pun makan malam bersama.


Tidak ada yang bersuara, Vera yang terkenal cerewet pun hanya diam dia hanya mengingat yang terjadi barusan sambil sesekali melihat ke arah Davvien yang fokus dengan makanan nya, ada rasa bersalah di hati Vera mengingat pertanyaan Davvien padanya.


Sekarang mereka sudah selesai dengan makan malam yang hening, Fero di suruh Vera untuk mengantar kan Intan, mereka sempat menolak, tepat nya Fero sedangkan Intan hanya berpura pura menolak meski dalam hatinya selalu berdoa supaya di hantarkan Fero.


Fero dan Intan sudah pulang setelah Intan membantu Vera membereskan meja makan.


Vera kembali ke kamar, dia melihat Davvien sudah berbaring di sofa, rasa tidak enak dan bersalah kembali menyeruak hatinya, meski baru satu hari Davvien memberi kan perhatian padanya, tapi saat Davvien mendiami nya rasanya sungguh tidak enak.


"Tuan, kenapa anda tidur di sana, tidur lah di ranjang saja"


Hening Davvien tidak menjawab, namun bukan Vera namanya kalau tidak punya akal seribu untuk membujuk Davvien.


Dia melangkah mendekati Davvien, berjongkok di samping Davvien.


"Tuan suami ku yang tampan jangan tidur di sini, tidur lah di ranjang mu"


Masih hening, padahal Davvien sudah sangat senang mendengar Vera mengatakan dirinya tampan, tapi dia masih berpura pura marah.


"Ya sudah kalau kau tidur di sini aku akan tidur di lantai"


Vera bangun dan hendak melangkah, tapi tangan nya langsung di tahan Davvien, mana tega dia membiarkan Vera tidur di lantai.


"Tidur lah di atas kasur"


"Tapi kau juga tidur di sana"


Vera membuat wajah memohon, padahal dia hanya merasa bersalah bukan ingin tidur bersama Davvien.


Davvien yang melihat wajah Vera yang memohon merasa gemes.


"Jangan mendiam kan aku, aku minta maaf kalo ada salah"


Lanjut Vera menunduk.


"Jangan di ulangi ya, aku tidak suka kau memuji lelaki lain"


Davvien mengelus puncak kepala Vera, mengecup nya dan membawa Vera ke dalam pelukan nya.


Vera masih belum terbiasa dengan ciuman dan pelukan Davvien, dia masih merasa gugup.


Davvien melepaskan pelukan nya tidak ingin hilang kendali karna Tuan J sudah bangun, dia heran sendiri hanya dengan memeluk Vera tuan J nya sudah meronta ronta.


Mereka pun akhirnya tidur di satu ranjang, dengan bantal jadi pembatas di tengah-tengah mereka.


~Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak Reading terkasih 😘😘😘


__ADS_2