
Hari mulai cerah, dengan sinar matahari yang terang, kendaraan mulai padat karna semua orang telah sadar dari alam mimpi dan kembali bangun mengumpulkan rupiah.
Pagi ini berjalan seperti dulu yang di lakukan Vera, dia yang sudah lama tidak memegang peralatan dapur pagi ini begitu senang karna telah memasak untuk suami tercinta, Vera telah bangun pukul 4:30 pagi, setelah menunaikan solat subuh, dia langsung bergegas masak, dan sekarang jam di dinding telah menunjukkan pukul 6:30.
Vera sudah menyiapkan segala keperluan sang suami, mulai dari peralatan mandi hingga pakaian sang suami, bahkan pakaian terkecil dan terdalam telah di pilih kan nya.
"Sayang, ayo bangun nanti terlambat ke kantor"
Vera membangun kan Davvien dengan mengelus lembut kepala sang suami, membuat Davvien enggan untuk membuka mata, dirinya malah menikmati sentuhan lembut sang istri.
"Sayang ayo bangun, nanti kau terlambat"
Davvien menggeliat saat Vera menggoyang kan badan Davvien, tapi dia malah menarik tangan Vera dan membawanya ke dalam pelukan.
Vera yang jengah akan tingkah suaminya terus memikirkan cara agar suami nya segera bangun.
Vera tersenyum, dia mendapatkan ide untuk mengerjai Davvien, Vera menundukkan kepala pada wajah Davvien, kemudian tanpa aba-aba dia langsung mencium bibir suaminya, dia bahkan melumaat bibir empunya yang masih memejamkan mata itu.
Davvien merasa ada yang bermain di bibirnya perlahan membuka mata, dia sudah sadar sepenuhnya karna tuan J, juga sudah bangun.
Setelah melihat Davvien membuka matanya, Vera langsung melepaskan ciuman nya, tersenyum simpul pada suaminya, Davvien langsung terduduk karna sang istri malah melepaskan ciuman nya setelah membangun kan tuan J nya.
"Sayang, kenapa kau lepas"
"Jangan berfikir untuk macam macam pagi ini, coba lihat jam nanti kita terlambat, kalau kamu enak sih bos jadi nggak apa apa kalau terlambat tapi aku kan nggak boleh telat masuk kampus nya"
"Ck, nanti aku harus menyuruh Fero untuk buay izin istriku jika telat masuk"
Batin Davvien sambil melihat istrinya yang sedang bersiap.
"Sekarang mandi lah"
Dengan berat hati Davvien turun dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi, Vera pun langsung.membereskan tempat tidur.
Setelah selesai, Vera duduk di meja rias sambil menunggu Davvien selesai mandi.
Tak berapa lama pun Davvien keluar hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggang.
Glekkk
Untuk sekejap Vera terpesona pada ketampanan suaminya, dengan badan yang begitu kekar masih menyisakan air, rambut yang masih basah bibir yang merah sangat menggoda.
"Apa kau merubah niatmu sayang, apa kau ingin merasakan tubuh ku yang sek-si ini dulu?"
"Dasar mesum, sekarang pakai lah pakaian mu"
Davvien tersenyum melihat pipi sang istri sudah merah bagaikan kepiting rebus.
Vera memberikan pakaian yang telah di siapkan untuk suaminya, dia pun membantu sang suami berpakaian, mulai dari memakai baju untuk Davvien, hingga memakai kan dasi pada leher suaminya.
"Sudah siap, ayo kita turun"
"Tunggu sayang, aku belum menyapa anak ku hari ini"
Davvien berjongkok tepat di perut sang istri.
"Selamat pagi anak papa, hari ini kamu tidak menyulitkan mama mu nak, bagus. Jadilah anak yang baik"
Davvien mengelus perut Vera lalu mencium nya, setelah itu dia langsung menyambar bibi ranum milik Vera, dan Vera pun membalas nya.
Setelah beberapa menit berciuman, mereka keluar untuk sarapan, Vera melayani Davvien terlebih dahulu, dengan perut yang sudah membuncit Vera terlihat seperti seorang yang sudah sangat berpengalaman dalam hal rumah tangga.
Baru mereka sarapan, Fero pun datang langsung saja bergabung untuk sarapan.
"Enak sekali hidup mu, selalu makan gratis"
Cibir Davvien, sedang kan Fero hanya tercengir.
__ADS_1
"Itung itung sedekah Vien"
Davvien memutar bola matanya, malas melihat Fero yang tercengir sok polos.
"Sayang, masakan hari ini sangat berbeda, apa kau yang membuat nya"
Vera mengangguk senang dan tersenyum.
"Apa kau suka"
"Sangat, dari dulu aku sangat menyukai masakan mu"
"Bukan nya dulu bos bilang kalau masakan Vera tidak enak"
Vera tersenyum saat Fero menyindir Davvien, sedangkan Davvien sudah menatap tajam pada Davvien.
"Iya kak, dulu dia bilang tidak mau makan masakan ku karna tidak enak"
Vera kembali tertawa, Davvien yang terpojok merasa sangat marah, dia langsung bangkit dan berjalan.
"Hei apa dia marah"
Fero hanya mengangkat bahu nya menandakan kalau dia juga tidak mengerti.
Mereka pun ikut bangun langsung mengikuti Davvien.
...----------------...
Kini Vera sudah sampai di kampus nya di antar oleh Davvien, selama dalam perjalanan Davvien hanya diam, Vera merasa bersalah karna telah membuat suaminya marah.
"Sayang, maaf kan aku tadi aku hanya bercanda".
Davvien tidak bergeming, Vera memegang tangan Davvien.
"Sayang, aku sudah sampai loh apa kau tidak ingin mencium ku"
"Ya sudah kalau kamu masih marah"
Cup
Vera mencintai pipi dan tangan Davvien, dia pun ingin turun, namun Davvien menahan nya dan mendaratkan ciuman di seluruh wajah Vera.
"Yes, menciumnya memang cara ampuh untuk menghilangkan kemarahan nya"
Dalam hati Vera bersorak gembira, sedangkan Fero dia sudah melontarkan sumpah serapah bagi pasangan yang selalu menganggap nya patung.
Vera turun, sedangkan Davvien langsung putar arah menuju kantor nya.
...----------------...
"Apa jadwal ku hari ini Fero"
Tanya Davvien saat sudah sampai dan berada di dalam ruangan nya.
"Apa kau lupa, hari ini meeting dengan para pemegang saham"
"Oh ya ampun, aku benar-benar lupa, persiapkan semua nya"
"Heum perusahaan yang tempo hari bekerja sama dengan kita kemaren hanya mengutus asisten nya tapi hari ini Presdir itu sendiri yang menghadiri meeting kali ini"
Davvien mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Perusahaan dari kota D Presdir bernama Frans?"
"Iya tuan"
...----------------...
__ADS_1
Di bandara kota, di sekian banyak nya orang yang lalu lalang meski masih pagi, terlihat salah seorang dari mereka sedang keluar dari bandara dengan di ikuti oleh asisten pribadi nya.
Pria bertubuh putih, cool dan memiliki wajah yang maskulin berjalan begitu gagah, hingga satu mobil berdiri tepat di hadapan nya, Fino sang asisten langsung membukakan pintu mobil untuk tuan nya.
"Apa kita langsung ke perusahaan Wilmar tuan"
"Tidak Fino, nanti setelah meeting nya selesai baru kita ke sana"
Jawab bos dari Fino yang tak lain adalah Frans.
"Hehe kau selalu saja mengolok pertanyaan ku tuan"
"Kau yang tidak tau bertanya"
Mobil mereka pun langsung tancap gas menuju perubahan Wilmar.
Mobil yang membawa Frans bersama asisten nya telah sampai di perusahaan terbesar di negara tersebut, Frans keluar dari dalam mobil, langsung melangkah masuk, Fino sang asisten bertanya kepada resepsionis ruangan yang akan di adakan meeting, setelah di beritahu mereka pun langsung memasuki lift.
Ting,,
Pintu lift terbuka, kaki kembali mereka gerak untuk bisa sampai ke dalam ruangan yang di tuju.
Sudah banyak yang hadir dari pemegang saham di dalam sana, langsung saja mereka masuk dan meminta maaf atas keterlambatan mereka.
"Mohon maaf semuanya kami terlambat"
"Oh tidak apa apa pak, kami juga baru sampai"
Ucap si A.
Kemudian mereka yang ada di dalam ruangan tersebut hanya diam, banyak dari mereka kembali memeriksa bahan yang akan di presentasikan di depan CEO Perusahaan WILMAR.
Tap tap tap
Perhatian mereka teralihkan pada suara langkah kaki yang baru memasuki ruangan, mata mereka langsung melotot, ada yang tidak berkedip karna melihat pemandangan yang begitu indah.
Rok mini sebatas paha juga sedikit terbuka di bagian samping, bodi yang montok, bagian dada terbuka, bibir bergincu merah, wanita itu berjalan dengan anggun lalu mendaratkan bokong nya di kursi yang tersedia di sana.
"Apa anda utusan tuan Reza?"
Tanya si B yang kenal dengan asisten tuan Reza.
"Oh iya tuan, saya Elsa anak nya papa Reza, saya mewakili papa saya karna sedang kurang sehat"
"Wah beruntung tuan Reza memiliki putri secantik ini"
Jawab lagi si B, dengan tatapan mengingini pada Elsa.
Perhatian mereka semua teralihkan pada pintu, Davvien melangkah dengan wajah datar juga terlihat sangat dingin, jika di perhatikan wajah yang tegas juga terlihat selalu serius begitu menakutkan, karna aura kekejaman sang pimpinan perusahaan terbesar di negara tersebut WILMAR GRUP begitu menonjol, dia berjalan dengan tatapan lurus ke depan, di ikuti Fero dari belakang, saat sudah sampai, Davvien langsung duduk di kursi kebesaran nya.
Saat baru menduduki tubuhnya mata Davvien menangkap seseorang yang semalam telah berbuat ulah, rasa marah kembali memuncak pada diri Davvien, saat melihat Elsa yang tersenyum ke arahnya tanpa merasa bersalah atas apa yang telah di lakukan semalam pada istri nya, Davvien baru ingat kalau perusahaan nya juga kerjasama dengan perusahaan papa Reza.
"Dasar wanita tidak tau malu, bahkan dia masih berani menampakkan dirinya di hadapan ku, aku akan menyuruh Fero untuk membatalkan kerja sama dengan perusahaan papa nya"
Meeting pun di mulai, semua orang mempresentasikan hasil rancangan atau bahan bahan yang bisa di tawar kan kembali pada perusahaan Davvien.
Dua jam berlalu meeting pun selesai, semua bubar dan keluar dari ruangan tersebut.
Davvien juga melangkah keluar, tapi seseorang memanggil nya.
"Tuan Davvien"
Frans melangkah mendekati Davvien, dan dia pun melihat orang yang berdiri di depan nya.
Mata nya membulat saat melihat wajah Frans begitu mirip dengan seseorang, Davvien terdiam menatap pria di depan nya.
~Bersambung
__ADS_1
Maaf ya up satu bab dulu, dan kalian tolong jangan menanggapi dengan komentar negatif, aku udah berusaha agar tiap hari up, maaf juga jika kalian tidak puas🙏🙏.